Kelompok Boko Haram Membunuh Ayah Saya

Menyusul peristiwa pembunuhan mengerikan yang menimpa ayahnya : Francis, pikiran dan hati Charles kecil (10thn) masih dipenuhi rasa sakit dan kemarahan. Alm. Francis adalah anggota dari Pelayanan Keamanan Negara. Ia meninggal pada 20 Januari 2012 ditangan kelompok Boko Haram.

Charles tidak dapat menahan tangisnya saat ia berbincang dengan Open Doors, “Bagaimana saya dapat melupakan kejahatan mereka? Siapa yang akan menjadi ayah saya sekarang? Saya merasa sangat takut dan sedih ketika melihat foto ayah saya. Saya tidak akan pernah dapat melupakan peristiwa ini dan saya tidak tahu apakah suatu hari saya akan membalas dendam untuk ayah saya.“

Pada hari dimana peristiwa itu terjadi, Charles dan ayahnya sedang menonton televisi bersama di rumah dan tiba-tiba telepon genggam ayahnya berbunyi. Saat itu mereka hanya berdua. Ayahnya segera mematikan televisi, setelah menerima telepon itu, dan berkata kepada Charles, anak laki-laki satu-satunya. “Jadilah kuat dan bijaksana, karena suatu hari nanti kau akan menjadi pemimpin keluarga ini, kau harus menjaga adik-adikmu dan ibumu.”

Francis diminta menghadap ke kantor karena peristiwa serangan yang berlangsung di berbagai bagian kota.

Charles mulai merasa bingung dan bertanya-tanya : “Ayah, apa yang ayah bicarakan? Kata-kata ayah terlalu sulit untuk dimengerti , jelaskan mengapa ayah berkata seperti itu?”

Saat ayahnya berusaha untuk menjelaskan, teleponnya berdering lagi. Francis memperingati Charles agar tetap tinggal di dalam rumah dan mengulangi pesannya. Masih segar dalm ingatan Charles, saat ia memohon ayahnya untuk tidak meninggalkannya. Tetapi tugas memanggil.

Francis pun tidak pergi jauh. Beberapa menit kemudian ia ditembak mati oleh kelompok ekstrimis Boko Haram yang telah memboikot jalan, 200 m dari rumahnya. Pembunuh mengidentifikasi Francis sebagai seorang Kristen, saat mereka melihat Salib yang tergantung di spion mobilnya. Charles tidak dapat menahan air matanya saat ia mengingat kejadian yang memilukan itu. Suara tembakan masih terngiang jelas dalam kepalanya. Sesaat setelah itu Charles segera menelepon ayahnya, dan ia mendengar suara asing dari seberang, “Hei, idiot! Kami telah membunuh pria ini!”

Setelah peristiwa penembakan, Margareth, ibu Charles berusaha berkali-kali menelepon suaminya. Margareth pun masih mengingat jelas suara dan perkataan yang sama sekali tidak berperasaan, “Pria ini, tidak peduli siapapun dia bagi anda, ia telah mati, kami telah membunuhnya .” Ia merasa semakin menyesal telah berusaha menelepon saat itu.

“Saya tidak akan pernah melupakan peristiwa ini. Ayah kami sangat mengasihi kami, dan kami selalu bersamanya saat ia tidak bertugas. Ia mengajarkan kami untuk menjadi pribadi yang kuat dan menyemangati kami untuk menjadi seseorang berarti bagi sesama. Sekarang, ia sudah tidak bersama kami lagi. Saya belum yakin saya dapat memaafkan pembunuh ayah saya.”

Charles adalah anggota aktif dari Boys Brigade di gerejanya, tetapi saat ini ia sedang bergumul dengan kemarahannya yang luar biasa atas pembunuhan ayahnya . Saat ini, baik Charles dan ibunya sama-sama membutuhkan konseling, untuk membantu mereka menerima rasa kehilangan yang luar biasa.

Open Doors telah mendampingi keluarga ini selama masa-masa sulit berlangsung dan akan terus melakukan hal-hal serupa bagi keluarga-keluarga lain yang kehilangan orang yang paling mereka kasihi.

(Opendoors)
←   →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by BIC Blog

Designed by Templater