Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul

Di dalam Lukas 13:6-9, ada perumpamaan yang kita kenal sebagai perumpamaan tentang pohon ara yang mandul, atau tentang pohon ara yang tidak berbuah. Untuk dapat menangkap latar belakang dari perumpamaan ini, mari kita baca dari Lukas 13:1.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Perumpamaan ini Berbicara tentang orang Kristen
Di dalam perumpamaan ini disebutkan tentang pohon ara yang mandul. Dan tentu saja pertanyaan yang muncul adalah, apa arti pohon ara ini? Apa yang mau disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan ini? Minggu lalu kita sudah membahas perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh, dan anda akan melihat nanti adanya suatu urut-urutan perkembangan di dalam penyusunan semua perumpamaan ini. Ada sangat banyak kemiripan antara perumpamaan ini dengan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Keduanya berbicara tentang kehidupan rohani yang tidak berbuah yang berakhir dengan penebangan.

Akan tetapi ada juga beberapa poin penting yang berbeda, yaitu ada beberapa pokok yang terdapat di dalam perumpamaan ini tetapi tidak ada di dalam perumpamaan yang lain. Di dalam perumpamaan ini, kita menemukan dua perbedaan yang mendasar. Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh berlaku atas semua orang, yaitu terhadap orang Kristen dan yang non-Kristen. Ia adalah perumpamaan dengan cakupan yang sangat luas, sangat cocok jika disajikan dalam kebaktian penginjilan karena dapat diterapkan pada semua orang. Akan tetapi perumpamaan tentang pohon ara yang mandul cakupannya dipersempit dan hanya menjangkau orang Kristen atau orang Israel saja. Jadi penerapannya tidak diarahkan kepada semua orang, melainkan hanya kepada mereka yang tergolong umat Yahudi dan Umat Israel yang baru, Gereja.

Masa Kasih Karunia ada Batasnya
Hal kedua dari perbedaan itu adalah bahwa bagi orang kaya yang bodoh itu tidak ada yang membela perkaranya, sedangkan bagi umat Allah, Israel dan gereja, ada tokoh yang bersyafaat atau memintakan penundaan hukuman, "Jangan tebang dulu". Yohanes Pembaptis berkata kepada orang Yahudi, "Kapak sudah disediakan di akar pohon." Tindakan penghakiman akan berjalan dengan sangat cepat. Dan ketika penghakiman Allah akan turun, sang pembela, perawat kebun itu berkata, "Saya mohon, tundalah hukumannya sedikit lagi. Berilah waktu sedikit lagi kepada pohon itu, sedikit waktu saja."

Beberapa orang dari antara kita dapat menikmati saat-saat menebang pohon untuk mendapatkan kayu api. Saya teringat pada seorang saudara yang senang pada kegiatan ini. Ia sangat menyukai kegiatan memotong kayu karena memperoleh kelegaan yang besar dari kegiatan ini. Mungkin demikian pula halnya dengan beberapa dari antara kita. Memotong kayu membutuhkan keterampilan yang cukup sulit. Anda harus membuat garis untuk membantu penebangannya. Jadi setiap kali anda mengayun kapak, anda harus mengarahkan mata kapak ke garis yang sudah dibuat. Biasanya, jika tanpa pelatihan dan pengalaman, maka ayunan kapak akan meleset dari garis yang sudah dibuat. Dan, tidak jarang, kita mendapati bahwa kita nyaris saja menebang kaki sendiri, bukannya menebang pohon. Pada waktu disebutkan bahwa kapak sudah tersedia pada akar pohon, itu berarti bahwa si penebang sudah membuat garis di pohon yang akan ditebangnya, tindakan selanjutnya tinggal mengayunkan kapak untuk menebang pohonnya. Jadi waktu penebangan bagi bangsa Israel sudah sangat dekat!

Hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa perumpamaan ini berbicara tentang gereja, yaitu tentang anda dan saya. Tuhan sedang berbicara langsung mengenai kita, orang Kristen (perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh berbicara tentang semua orang, yang Kristen dan yang non-Kristen). Dan pokok kedua yang disampaikan dalam perumpamaan kali ini adalah bahwa sekalipun ada pembela bagi kita, akan tetapi waktunya sangat singkat. Waktunya singkat sekali. Masa kasih karunia ada batasnya.

Orang Kristen akan Dihakimi!
Namun akibat selanjutnya adalah bahwa kita masuk ke poin berikut ini. Dan poin tersebut adalah sesuatu yang tampaknya telah gagal dipahami oleh orang Kristen. Bahwa penghakiman adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi oleh gereja, sama seperti yang dihadapi oleh orang non-Kristen. Ada kesalahan yang meluas sekarang ini yaitu anggapan bahwa orang Kristen tidak akan dihakimi. Jika saya tidak keliru membaca Alkitab saya, tidak saya temukan ajaran semacam ini di dalam Alkitab. Apa yang dikatakan oleh Alkitab adalah bahwa orang Kristen akan dihakimi lebih berat daripada orang non-Kristen. Saya sudah pernah menyatakan hal ini dalam kesempatan yang lain. Sebagaimana yang dikatakan oleh Allah kepada orang Israel, "Dari segala umat di dunia, engkau, dan hanya engkau saja, yang memiliki pengenalan itu. Jadi Aku akan menghakimi engku" (bdk. Ulangan 7:6-10). Dengan kata lain, "Karena engkau adalah umatKu, maka standarKu bagimu jauh lebih tinggi daripada bagi umat lain. Aku menghendaki lebih darimu ketimbang dari umat lain yang tidak mengenal Aku." Pernyataan yang sangat mudah untuk dipahami. Namun hari ini, kita terus menerus diajari dan 'dijamin' dan dibius, dengan ajaran bahwa Israel atau Gereja Allah tidak akan mengalami penghakiman. Aneh sekali! Jika demikian halnya, mengapa Petrus berkata di dalam suratnya bahwa penghakiman itu dimulai dari Gereja Allah (1 Petrus 4:17)? Penghakiman dimulai dari dalam Gereja!

Mengapa ada Pohon Ara ditengah Kebun Anggur?
Mari saya uraikan perumpamaan ini kepada anda, diawali dari Lukas 13:6, sehingga kita dapat memperoleh gambaran yang jelas dari perumpamaan itu. "Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya." Pertanyaan pertama yang mungkin muncul di benak anda ialah mengapa ada pohon ara di kebun anggur? Kebun anggur tentunya merupakan tempat untuk menanam anggur dan bukannya pohon ara. Jadi beberapa orang yang teliti mungkin akan segera berpikir, "Tentu ada kesalahan di sini. Pohon ara ditanam di kebun buah-buahan, bukannya di kebun anggur." Anda perlu meninjau langsung suatu kebun anggur sebelum berpikir seperti ini. Orang-orang Yahudi menanam berbagai pohon buah-buahan di ladang dan di halaman mereka. Jadi sudah jamak bagi mereka untuk menanam pohon buah-buahan di kebun anggur atau bahkan di kebun sayur. Karena masing-masing tanaman tampaknya menyukai kondisi tanah dengan pengolahan tertentu, jadi pola bercocok tanam dengan tanaman yang beragam sangat baik untuk mempertahankan kesuburan tanah. Para rabi sudah biasa memakai gambaran tentang berbagai macam tanaman buah-buahan yang ditanam di kebun anggur atau di kebun sayur untuk menjelaskan pengajaran mereka.

Kita juga melihat bahwa pohon ara dan pohon anggur seringkali disebutkan bersama-sama di dalam Perjanjian Lama. Sangat sering kedua jenis pohon ini disebutkan secara bersamaan, yang menunjukkan bahwa keduanya biasa ditanam bersama-sama. Ada sangat banyak contoh bagi saya untuk ditunjukkan tentang hal ini, akan tetapi kali ini kita akan mengambil dari satu kitab saja, yaitu kitab Yoel. Alasan saya untuk mengambil rujukan dari kitab Yoel ini adalah karena rujukan tersebut langsung berkaitan dengan perumpamaan kali ini. Di dalam Yoel 1:7,12; 2:22, kita membaca tentang pohon anggur dan pohon ara yang disebut secara bersamaan, namun di dalam 1:7,12, pohon ara dan pohon anggur tersebut memiliki arti rohani. Mereka tampaknya menjadi lambang orang Israel, menunjukkan orang-orang dari umat Israel.

Apa yang Dapat kita Ketahui tentang Allah dengan adanya Pemberian Kelonggaran Setahun lagi buat Pohon Ara itu?
Lalu Tuhan Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa sesudah menanam pohon ara itu, si pemilik kebun anggur datang untuk mencari buahnya, tetapi ia tidak mendapatkan buahnya. Dan di ayat 7 ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu, "Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!" Kita tahu, berdasarkan Alkitab dan kebiasaan-kebiasaan orang Yahudi, jika anda menanam pohon ara, anda tidak dapat berharap untuk melihat buahnya dalam tiga tahun pertama. Jadi ini berarti bahwa ketika pemilik kebun anggur itu mulai datang untuk mencari buah ara, pohon tersebut sudah memasuki usia empat tahun. Anda dapat memahami hitung-hitungan ini dengan melihat, sebagai contoh, Imamat 19:23 dan juga berbagai tulisan para rabi bahwa selama tiga tahun pertama, tidak dilakukan pemetikan buah dari pohon buah-buahan yang ditanam. Pohon itu dibiarkan bertumbuh dan diberi perawatan. Di dalam tahun yang keempat, anda boleh mengambil hasil buah-buahan dari pohon itu. Melihat bahwa ia sudah tiga tahun mencari buah dari pohon ara tersebut, maka ini berarti bahwa pohon tersebut sudah bertumbuh selama enam tahun. Enam tahun sudah berlalu sejak saat pohon itu ditanam.

Angka ini bukannya tanpa makna, karena anda dapat melihat bahwa si pengurus kebun itu meminta tambahan waktu satu tahun lagi. Secara keseluruhan, jumlah tahunnya sekarang menjadi "7" yang, seperti anda ketahui, merupakan lambang kesempurnaan di dalam Alkitab. Angka tujuh tahun di dalam perumpamaan ini mengungkapkan kesabaran Allah yang sempurna. Ia sudah berkenan untuk menunggu sampai tujuh tahun penuh. KesabaranNya sudah ditunjukkan sampai pada batas terjauh yang dapat diberikan. Namun tak dapat lebih dari itu. Sangat tidak bertanggungjawab jika pohon itu dibiarkan bertumbuh tanpa hasil dan tanpa batas waktu seperti yang disebutkan di dalam ayat 7, pohon itu sudah memanfaatkan tanah kebun selama tiga tahun dengan percuma: "Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma?" Pohon itu menghisap kesuburan tanah dan mengurangi jatah gizi bagi pohon lainnya yang berbuah di kebun itu. Jadi, membiarkannya tumbuh tanpa hasil dan tanpa batas waktu memang tidak benar. Ia harus ditebang. Dari sini kita dapat melihat proses pemikiran dan penalaran dari perumpamaan ini, dan anda mulai dapat melihat keindahan dari kerangka perumpamaan melalui lambang angka "7" tersebut. Sangat banyak makna yang terkandung di dalamnya jika anda mulai dapat memahaminya, angka 7 dalam perumpamaan ini melambangkan kesabaran Allah terhadap umatNya. Ia menunggu sampai akhirnya memang terlihat tidak ada harapan yang tersisa. Perhatikan bahwa si pemilik kebun tidak ngotot ketika pengurus kebun anggur itu berkata, "Berikanlah waktu setahun lagi," ia tidak berkata, "Cukup. Kesempatannya sudah habis!" Namun ia bersedia menunggu dan berkata, "Baiklah, aku akan memberi waktu setahun lagi. Waktunya ditambah setahun lagi." Jadi genaplah jumlah waktu itu menjadi "7", suatu ungkapan dari kesabaran Allah yang sempurna.

Penting juga untuk kita perhatikan bahwa menurut para ahli pertanian, pohon ara menyerap sangat banyak sumber makanan dari dalam tanah. Dengan demikian, kita tidak dapat membiarkan sebatang pohon bertumbuh terlalu lama jika memang tidak menghasilkan apa-apa karena ia akan merebut sebagian besar jatah makanan buat tanaman lainnya. Pohon ara adalah pohon yang cukup besar dan kuat dan membutuhkan banyak sumber gizi. Inilah poin utama dari perumpamaan ini, yaitu bahwa pohon ini hanya tahu mengambil dan tidak memberikan apa-apa. Ia menghisap segalanya, seperti kebanyakan orang yang menghisap atau menyerap segalanya namun tidak pernah memberi apa-apa. Peringatan yang diberikan perumpamaan ini adalah: Jika anda termasuk orang Kristen yang semacam ini, anda hanya mengumpulkan dan menerima saja segala kekayaan rohani tanpa pernah menghasilkan apa-apa, waspadalah, karena toleransi dari Allah ada batasnya. Kita akan kembali pada poin ini nanti.

Siapa Pemilik Kebun Anggur itu dan Siapa Pengurusnya?
Mari kita pahami siapa pemilik kebun anggur itu. Dan kita juga melihat adanya seorang pengurus kebun anggur yang menjadi pembela, siapa pengurus kebun anggur ini? Dari perumpamaan Tuhan Yesus ini kita mengetahui bahwa si pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri. Matius 21:33 dst, sebagai contohnya, menjelaskan kepada kita dengan gamblang bahwa Allah digambarkan sebagai pemilik kebun anggur ini. Kebun anggur tersebut adalah milikNya.

Lalu siapa pengurus kebun itu? Gambaran yang kita dapatkan juga mula menjadi jelas. Siapa lagi yang akan membela dan memintakan belas kasihan? Siapakah yang menjadi Pengantara antara Allah dan manusia? Siapakah yang menjadi Penengah, Imam Besar Gereja yang membela JemaatNya? Dia adalah Kristus sendiri yang meminta belas kasihan bagi Gereja. Bukannya Allah tidak mau memberikan belas kasihan tersebut. Bapa sangat bersedia untuk memberi belas kasihan tersebut. Namun harus ada pembela bagi perkara ini dan Yesus membela perkara ini bagi kita. Keindahan dari gambaran ini adalah mengenai Yesus sebagai Pembela yang juga tampil di dalam perumpamaan ini, di dalam Lukas 22:31 dan selanjutnya, Yesus berkata kepada Petrus, "Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur." Di sana Ia bersyafaat, berdoa agar Petrus boleh tetap menerima kasih karunia yang dapat menguatkannya dalam menghadapi cobaan berat yang diberikan Iblis terhadapnya. Sangatlah menggembirakan jika kita mengetahui bahwa Tuhan bersyafaat bagi kita. Kita memiliki banyak kelemahan, kegagalan dan kekurangan. Tidak seorangpun dari antara kita yang tidak memiliki kekurangan. Namun sangatlah menggembirakan ketika kita mengetahui bahwa Tuhan ada di sana menjadi Imam Besar, penuh belas kasihan dan kemurahan, membela perkara kita. Saya bertanya-tanya akan ke mana kita berakhir jika Ia tidak terus menerus bersyafaat bagi kita sepanjang waktu. Akan jadi apa kita semua? Akan mampukah kita bangkit dari kejatuhan? Namun Dia bersedia membela perkara kita dan kita, dengan kasih karuniaNya, diangkat lagi keluar dari lumpur tebal dan ditegakkan di atas batu karang yang teguh.

Tuhan Yesus di sini digambarkan tidak sekadar sebagai Pembela tetapi juga sebagai Hamba. Ini adalah hal yang penting untuk kita pahami. Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan Yesus digambarkan sebagai Hamba Yang Menderita. Ia bersyafaat bagi kita dan menanggung segala pelanggaran dan dosa kita di dalam Yesaya 53. Ia adalah Hamba. Dan alasan saya menyebutkan hal ini adalah bahwa jika anda mempelajari makna kata "pengurus kebun anggur" di dalam Perjanjian Lama, anda akan melihat bahwa ungkapan ini biasanya dikaitkan dengan para budak, golongan terbawah di masyarakat. Sebagai contoh, jika kita melihat Yesaya 61:5 atau Yeremia 52:16 atau 2 Raja-raja 25:12, anda akan mendapati bahwa pengurus kebun anggur disamakan dengan pembajak ladang, orang yang membalik lapisan tanah dengan peralatan yang ditarik oleh kerbau atau sapi untuk mempersiapkan tanah itu sebelum ditanami. Dan kita diberitahu dari ayat-ayat itu bahwa mereka diambil dari kalangan orang yang palling miskin di masyarakat. Mereka disebut "orang-orang kelas bawah". Akan tetapi Tuhan Yesus datang untuk menjadi hamba seperti mereka itu. Ia meninggalkan takhtaNya yang mulia dan mengambil posisi yang paling rendah di dunia, sebagaimana yang disebutkan di dalam Filipi 2:7-8. Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ini adalah gambaran lain dari keindahan yang diberikan oleh perumpamaan ini yang, sepintas, tampaknya tidak menunjukkan apa-apa. Masih ada banyak kekayaan makna yang akan kita bahas hari ini. Bahkan sebenarnya ada sembilan poin utama yang dapat kita bahas dari perumpamaan ini saja. Dan jika kita harus membahas semuanya, maka kita perlu meluangkan waktu seharian untuk itu. Jadi, kali ini saya hanya akan memusatkan perhatian pada satu isu utama dari perumpamaan ini.

Apa yang Dilambangkan oleh Pohon Ara itu?
Pertanyaan selanjutnya adalah: melambangkan apakah pohon ara ini? Pohon ara adalah gambaran bagi Israel, seperti yang telah saya jelaskan pada anda sebelumnya. Sebagai contoh, seluruh pasal 24 dalam kitab Yeremia memberi gambaran tentang orang Israel sebagai buah dari pohon ara. Ini berarti bahwa seluruh umat Israel dilambangkan dengan sebatang atau sekumpulan pohon ara dan setiap orang dari umat Israel dilambangkan dengan buah ara. Saya pada bagian awal juga menyebutkan tentang Yoel 1:7, dan di sana disebutkan tentang dirusaknya pohon ara dan pohon anggur yang menjelaskan peristiwa penyerangan terhadap bangsa Israel oleh bangsa yang kuat dari utara. Di dalam kitab Yoel itu, pohon ara (dan pohon anggur) melambangkan umat Israel. Pasal tersebut mengartikan pohon ara lebih dari sekadar makna harfiahnya.

Namun masih ada hal lagi yang perlu untuk disampaikan. Israel adalah pohon ara yang tidak berbuah. Tuhan Yesus menegaskan tentang hal ini di dalam perumpamaan yang lain yang kita kenal sebagai "Perumpamaan tentang pohon ara yang dikutuk" yang merupakan peringatan bagi bangsa Israel. Perumpamaan itu dipakai sebagai peringatan bagi mereka karena mereka adalah pohon ara yang tidak berbuah, atau mandul, mereka akan berada di bawah kutukan. Banyak orang yang menjadi bingung akan kutukan terhadap pohon ara itu karena mereka tidak dapat memahami arti rohaninya. Itu adalah suatu perumpamaan yang diperagakan atau lewat tindakan. Banyak nabi di dalam Perjanjian Lama memakai perumpamaan yang memberi perlambangan secara langsung ini. Anda tentunya sudah tahu tentang Yehezkiel yang melakukan berbagai hal yang terlihat janggal, seperti berbaring miring, dan makan dengan jumlah yang sudah ditentukan. Dan orang lalu bertanya kepadanya, "Apa arti perbuatanmu itu?" Dan Yehezkiel lalu menyampaikan kepada mereka, "Inilah yang akan terjadi atas Yerusalem. Yerusalem akan dikepung dan penduduk Yerusalem harus makan dengan jumlah yang sudah dijatah ketika kota mereka mulai dikepung." Jadi tindakannya merupakan perumpamaan yang menjadi lambang bagi pengepungan atas Yerusalem dan kekurangan makanan yang akan melanda mereka yang terkepung. Dari sini kita dapat melihat bahwa suatu perumpamaan dapat disampaikan melalui tindakan, dan bukan sekadar melalui khotbah. Dan di sanalah mungkin arti penting dari mereka yang melayani lewat filem karena kita dapat mengingat lebih banyak suatu tindakan ketimbang omongan. Dan itu adalah alasan bagi pemakaian perumpamaan yang diperagakan lewat tindakan.

Mengapa ditambahkan Pupuk?
Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah bahwa pohon ara ini tidak sekadar mendapat tambahan waktu setahun. Allah tidak sekadar memberi anda kesempatan baru, akan tetapi Ia juga melakukan sesuatu yang positif bagi anda. Dari bacaan yang saya pelajari, para ahli mengatakan bahwa pohon ara tidak membutuhkan tambahan semacam itu. Pohon ara tergolong tangguh dan mampu mempertahankan hidupnya. Mereka tidak memerlukan kompos. Bukan merupakan hal yang lazim jika kita menambahkan kompos di sekeliling pohon ara. Ini berarti bahwa Tuhan telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi Israel. Ia memberi mereka kasih karunia ekstra. Kita dapat melihat di dalam pengajaran Tuhan seperti apa kasih karunia yang ekstra itu. Dulu, Ia mengirim para nabi kepada bangsa Israel. Sekarang, Sang Anak itu sendiri datang untuk menangani pohon ara, yaitu umat Israel. Sebenarnya kita mendapat keuntungan dari peristiwa ini, semua kasih karunia dan manfaat yang kita terima berasal dari tindakan perawatan ekstra tersebut karena kita diajar bukan oleh para nabi lagi melainkan langsung oleh Firman dari Tuhan Yesus sendiri. Kita sekarang ini hidup di masa kasih karunia ekstra tersebut. Akan tetapi, perlu diingat bahwa masa kasih karunia itu ada batasnya.

Allah sudah melakukan segala hal yang dapat dikerjakan untuk menolong agar pohon ara itu bisa berbuah. Ini adalah hal penting yang perlu diingat juga. Jika ada orang Kristen yang murtad dari Tuhan, anda boleh yakin bahwa peristiwa itu bukan merupakan tanggung jawab Allah melainkan tanggung jawabnya pribadi. Allah melakukan segala tindakan yang dapat Ia lakukan untuk bisa memastikan bahwa anda dapat bertumbuh semakin kuat. Ia siap memberikan anda segala kasih karunia yang anda butuhkan sehingga anda tidak punya alasan atas kegagalan anda. Apa alasan yang dapat dipakai oleh pohon ara yang tidak berbuah itu? Apa alasan yang dapat diberikannya? Tidak ada sama sekali. Tidak ada alasan yang dapat meloloskannya.

Mengapa Memakai Pohon Ara sebagai Contoh?
Namun masih ada satu pertanyaan penting bagi pohon ara ini: Mengapa pohon ara yang dipakai sebagai contoh di sini? Kadang kala umat Israel dilambangkan dengan pohon zaitun atau juga pohon anggur, akan tetapi di dalam perumpamaan ini yang dipakai adalah pohon ara. Tuhan Yesus dengan teliti memakai pohon ara sebagai gambaran tentang umat ini karena pohon ara adalah pohon yang lebat buahnya. Tidak ada pohon buah-buahan yang dapat menandingi pohon ara dalam hal kelebatan buahnya, itu sebabnya pohon ara dipilih sebagai contoh di sini. Pohon ara adalah pohon yang dapat berbuah sepanjang sepuluh bulan dalam setahun. Saya tidak tahu apakah ada pohon lain yang dapat melakukan hal yang sama. Ia mampu berbuah di musim dingin, musim semi, musim panas maupun musim gugur. Secara sederhana, dapat kita katakan bahwa pohon ara dapat berbuah sepanjang tahun. Para ahli mengatakan bahwa pohon ara yang subur berbuah sepanjang sepuluh bulan dalam setahun. Sangat luar biasa!

Di halaman kami tumbuh pohon plum dan pohon apel. Jika sebatang pohon apel sanggup berbuah selama empat bulan dalam setahun, maka itu sudah dianggap istimewa. Empat bulan dalam setahun! Tahun ini, pohon apel kami berbuah banyak. Jumlah buahnya lebih dari 250 yang dihasilkan oleh pohon apel yang kecil itu. Saya memberikan pupuk pada pohon apel itu dan merawatnya lebih teliti karena pada tahun lalu buahnya sedikit. Namun pada tahun ini buahnya sangat banyak. Dan pohon plum yang selama ini belum berbuah, pada tahun terakhir ini sudah memperlihatkan buahnya. Beberapa orang dengan bercanda mengatakan bahwa pohon plum ini berbuah karena saya sudah mengancam akan menebangnya jika ia tidak berbuah, sehingga pada musimnya di tahun ini, ia langsung mengeluarkan buahnya.

Pikirkanlah hal itu. Pohon apel paling lama hanya mampu berbuah sepanjang empat bulan dalam setahun. Sedangkan pohon ara mampu untuk terus menerus berbuah sepanjang tahun. Pohon ara adalah pohon yang paling banyak berbuah jika kondisinya baik. Sekarang anda dapat melihat keindahan dari perumpamaan ini: pohon yang seharusnya berbuah sangat banyak ternyata tidak menghasilkan satupun buah. Yang seharusnya berbuah paling banyak telah menjadi pohon yang tidak menghasilkan apa-apa. Sangat mengejutkan. Betapa telitinya pilihan Tuhan dalam memberi gambaran! Gambaran-gambaran yang diberikan di dalam perumpamaan ini benar-benar kaya akan makna.

Sekarang mari kita masuk ke dalam pelajaran rohani dari perumpamaan ini:

- Allah menyelamatkan kita supaya kita dapat diubah oleh kasih karuniaNya dan menghasilkan buah

Mengapa Allah menanam Israel? Mengapa Ia menyelamatkan kita? Ingatlah hal ini baik-baik karena kalau tidak, maka anda mungkin akan mengira bahwa Allah menyelamatkan anda karena anda harus diselamatkan atau mungkin karena anda ingin diselamatkan. Cara Injil disampaikan sekarang ini oleh banyak pengkhotbah membuat orang-orang cenderung berpikir bahwa Allah ada hanya untuk memberi kepastian bahwa tiket anda ke surga sudah terjamin. Seolah-olah keselamatan itu hanya soal keberangkatan ke surga, dan masalah lain tidak ada kaitannya dengan keselamatan. Itu bukanlah pengajaran yang alkitabiah. Pengajaran yang alkitabiah menyatakan bahwa Allah menyelamatkan kita supaya kita dapat berbuah banyak sehingga namaNya dimuliakan dan orang lain ikut diberkati. Dan supaya kita juga ikut mendapatkan sukacita di dalam menggenapi kedua hal itu.

Kedua, bagaimana sebatang pohon yang tidak berbuah dapat menghasilkan buah jika tidak terjadi perubahan yang penuh di dalamnya? Jika pohon ini memberi hasil pada tahun yang ke tujuh, maka itu berarti telah terjadi perubahan yang besar dan nyata di dalam pohon itu. Sesuatu telah berlangsung! Hal ini dapat digambarkan seperti suatu keajaiban kelahiran kembali bagi pohon tersebut. Karena setiap pakar tahu bahwa pohon yang sudah gagal berbuah sampai enam tahun berturut-turut tidak dapat diharapkan untuk dapat menghasilkan buah lagi. Itu sebabnya, si tukang kebun ini sebenarnya sedang berharap mukjizat karena bahkan si pemilik kebun itu sebenarnya sudah berkata bahwa tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari pohon ara itu. Si tukang kebun sedang mengharapkan terjadinya mukjizat di tahun yang ke tujuh. Artinya, akan dilakukan suatu perubahan yang sangat besar atas pohon ara itu. Dengan kuasa Allah, hal itu bisa dilakukan. Sebenarnya, pakar pertanian akan memberitahu anda bahwa di dalam dunia nyata hal ini tidak akan terjadi. Tidak ada peluang sedikitpun bagi pohon ara itu untuk dapat berbuah pada tahun berikutnya, atau bahkan dalam lima tahun berikutnya! Namun Tuhan Yesus membawa unsur rohani di dalam perumpamaan ini yaitu bahwa Allah akan membuat mukjizat. Ia akan membuat hal itu menjadi sangat mungkin. Segala kuasa dan kasih karuniaNya sekarang tersedia secara melimpah bagi pohon ara ini.

Apakah hal itu berjalan sesuai dengan yang diharapkan, jika dikaitkan dengan bangsa Israel? Tidak terlaksana! Ini adalah tragedi dalam hidup ini. Sekalipun kuasa Allah tersedia sepenuhnya bagi setiap orang dari kita sehingga kita tidak punya alasan untuk gagal, tragedi yang kita lihat adalah bahwa umat Allah lebih sering memperlihatkan kegagalannya. Malahan ada juga kasus di mana kegagalan itu menghantam seluruh anggota gereja! Mengapa bisa begini? Apakah kasih karunia Allah tidak cukup tersedia bagi anda? Apakah kasih karunia Allah tidak cukup tersedia untuk menyelamatkan? Masalahnya bukan karena kasih karunia itu kurang mencukupi. Kita inilah yang menjadi sumber masalahnya. Mengapa anda dan saya tidak bergerak maju mengejar segala yang dikehendaki oleh Allah bagi kita? Jika kita gagal meraihnya, itu bukan karena kurangnya kasih karunia Allah bagi kita, namun karena ketidaktaatan dan kekerasan hati kita ini. Allah dapat menghasilkan hamba-hamba yang penuh kuasa dengan memakai kita. Tidak ada alasan bagi anda untuk hanya menjadi liliput rohani. Tidak ada alasan sama sekali! Karena kuasa penciptaan Allah ada tersedia untuk mengubah setiap orang dari kita. Baiklah, anda mungkin sudah enam tahun menjadi orang Kristen, atau malah lebih, dan keadaan anda sama seperti pohon ara yang tidak berbuah ini. Ijinkan saya berkata kepada anda: Allah masih berkenan untuk memberi anda waktu setahun lagi. Ia masih berkeinginan untuk membuat anda menjadi hambaNya yang penuh kuasa, hamba yang layak disebut sebagai hamba Allah.

- Keadaan tidak berbuah selalu berkaitan dengan sikap hati kita terhadap Allah

Jika kita gagal meraih hal-hal itu, yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah diri kita sendiri. Di situlah sumber masalahnya. Pohon ara tidak memiliki kehendak atau kemampuan untuk memutuskan. Jadi jika ada yang salah dalam perumpamaan ini, maka persoalan itu terletak pada unsur-unsur pembentuk pohon ara itu, ada yang salah dengan susunan unsur pembentuknya sehingga ia tidak dapat berbuah. Jika kita mencari apa yang salah dengan diri kita, maka persoalan itu terdapat pada kerohanian kita. Dan jika kerohanian kita menyimpan kesalahan, maka hal itu pasti berkaitan dengan kehendak atau sikap kita terhadap Allah.

Kita sudah melihat bahwa pohon ara ini hanya menyerap saja dan tidak menghasilkan apa-apa. Ini memberitahu kita apa tepatnya persoalan yang menimpa kebanyakan orang Kristen sekarang ini. Lihat saja betapa banyak orang Kristen yang mau berdesak-desak menyerbu tawaran ini dan itu. Mereka bersedia mengikuti pelatihan, masuk sekolah Alkitab dan sebagainya. Mereka senang menyerap apa saja yang bisa diserap, untuk menikmati sendiri segala kekayaan rohani Allah di mana-mana, namun tidak ada buah yang dihasilkan oleh mereka. Kapan akhir dari masa menerima itu tiba dan masa untuk memberi dimulai? Inilah masalah yang menimpa pohon ara itu. Kita seperti pohon ara itu yang hanya siap untuk menerima, menghabiskan kekayaan rohani dengan percuma dari tahun ke tahun. Dan apa yang mereka hasilkan? Mana buahnya?

- Menghasilkan buah melalui perubahan hidup dan mengerjakan pekerjaan baik dari kasih

Buah adalah hal yang dikehendaki oleh Tuhan. Dan di dalam Yohanes pasal 15, kita melihat perumpamaan yang senada yang disampaikan dengan memakai gambaran pokok anggur. Allah menanam pohon anggur supaya dapat menghasilkan banyak buah. Disebutkan di dalam Yohanes 15:8, "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." Dengan kata lain, hasil pemuridan diuji dengan keberadaan buah.

Apa yang dimaksud dengan berbuah? Berbuah memiliki dua makna dalam Alkitab. Pertama, ia berarti terjadinya suatu perubahan kualitatif di dalam hidup anda. Jika anda memperlihatkan buah Roh, seperti yang tertulis di dalam Galatia 5:22-23, maka itu berarti bahwa perubahan kualitatif telah terjadi di dalam hidup anda. Itu adalah arti pertama dari kata berbuah. Dan kedua, artinya adalah menghasilkan perbuatan-perbuatan baik. Saya tidak ragu untuk memakai kata "perbuatan baik" karena Paulus sendiri tidak takut memakai kata yang berarti sama. Di dalam Kolose 1:10 ia berkata, "Dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik". Memberi buah dengan cara bagaimana? Dalam segala pekerjaan/perbuatan yang baik. Jadi yang pertama harus terjadi dulu, suatu perubahan kualitatif di dalam hidup anda harus terjadi dan urutan ini tidak mungkin terbalik. Ketika anda mendengarkan Injil dari minggu ke minggu, orang lain tentunya dapat melihat adanya suatu perubahan di dalam kehidupan anda. Ada suatu perubahan dari yang jahat menjadi baik, dari yang egois menjadi murah hati seperti yang kita lihat di dalam Roma 6:12-14. Dan selanjutnya, anda tidak dapat hanya sekadar berkata, "Aku sudah mengalami perubahan kualitatif." Kehidupan anda harus membuktikan hal itu, terlihat dari buah-buah dalam bentuk perbuatan-perbuatan baik dari kasih anda.

- Masa kasih karunia ada batasnya

Perumpamaan ini juga memperingatkan kita bahwa waktunya sudah hampir habis. Kapak sudah tersedia pada akar pohon anda. Dan pada suatu hari anda tumbang seperti orang-orang Kristen lainnya yang tumbang waktu mereka sudah habis. Dan jangan mengira bahwa penebangan itu menunggu nanti hari Penghakiman. Waktu untuk anda dapat saja habis sekarang ini juga, seperti umat Israel yang sudah kehabisan waktu. Mereka tidak harus menunggu sampai Hari Penghakiman. Saya sudah cukup sering melihat orang Kristen yang ditebang karena menyia-nyiakan tanah tempat mereka ditanam. Mereka menghambat pertumbuhan orang lain dan Allah akan menangani mereka pada saat yang ditentukanNya. Ingatlah selalu akan hal ini: masa kasih karunia itu ada batasnya. Kesabaran Allah itu memang benar-benar sempurna, namun ada batasnya. Itu adalah pengajaran yang alkitabiah, bukan pengajaran pribadi saya. Anda akan dapat melihat hal itu juga di dalam Perjanjian Lama sebagai contoh, Amsal 6:15, 29:1; 2 Tawarikh 36:16 dan sebagainya. Jika seseorang sudah sering ditegur, diingatkan dan diberi nasihat akan tetapi masih tidak mau mendengarkan, ia akan dipotong dengan tiba-tiba, dan tidak ada lagi pemulihan baginya. Jangan mengira bahwa anda akan baik-baik saja sampai pada hari Penghakiman nanti. Itu adalah suatu kesesatan. Banyak orang yang akan tumbang sebelum hari penghakiman itu.

- Lebih berbahagia memberi dari pada menerima

Mari kita teliti sikap yang selalu saja ingin mengambil. Kebanyakan orang Kristen tampaknya memandang, sebagai contoh, gereja sebagai tempat untuk menerima berkat rohani dan tidak memberikan apa-apa bagi gereja. Dan seusai menerima, mereka segera pergi meninggalkan gereja secepat kilat. Mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, apa lagi yang mereka kehendaki? Jadi mereka pergi begitu saja. Tidak ada minat untuk melayani, untuk membagikan apa yang sudah mereka terima. Saya ingin berhenti sejenak pada titik ini sebelum kita melanjutkan pembahasannya. Ucapan Tuhan ini dikutip oleh rasul Paulus di dalam Kisah 20:35 di mana Tuhan mengatakan, "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima". Masalah besar yang menimpa pohon ara ini adalah bahwa ia tidak pernah mau mengerti pernyataan ini. Ia tidak pernah mau mengubah sikapnya. Ia mengira bahwa menerima itu lebih berbahagia ketimbang memberi sehingga ia tidak pernah mau memberi. Ia hanya mau datang dan mengambil sesukanya. Akan tetapi di dalam Kisah 20:35, rasul Paulus mengutip ucapan Tuhan Yesus yang tidak tercatat di dalam Injil akan tetapi diketahui oleh Paulus, "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." Mari kita coba untuk menguraikan pemikiran ini sekarang dan membandingkannya dengan apa yang ada di benak anda, apakah sejalan atau tidak, apakah itu merupakan pikiran saya atau bukan. Dan saya dapat memastikan bahwa pernyataan ini tidak lagi sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh Gereja sekarang ini. Dan Gereja, saudara-saudara, sedang berada di dalam masalah besar.

Perumpamaan ini ditujukan kepada Israel serta Israel yang baru, yaitu gereja. Karena kita diberitahu di dalam 1 Korintus 10:11 bahwa segala peristiwa yang dialami oleh Israel yang lama, adalah satu peringatan bagi gereja sekarang ini. Dan apa yang terjadi pada mereka dapat dan akan terjadi pada kita juga. Lebih dari itu, rasul Paulus juga memberi peringatan yang sama di dalam Roma 11:22. Ia berkata kepada kita, orang-orang Kristen, bahwa, "Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga." Sekarang ini, gereja tidak mau mendengarkan peringatan tersebut. Mereka tidak mau mendengarkan peringatan ini, sama seperti Israel tidak mau mendengar hal itu. Umat Israel justru merasa terganggu oleh nabi-nabi utusan Allah, seperti Yeremia misalnya. Sekarang ini, di jaman sekarang, umat Kristen juga tidak mau mendengar peringatan yang sama. Dan mereka yang menyampaikan peringatan kepada gereja tentang ancaman akan ditebang oleh Allah selalu mendapat kecaman dan serangan! Biar saja mereka melakukan hal itu. Saya ada di sini untuk menyenangkan hati Allah, dan bukan manusia. Saya di sini mengabarkan FirmanNya dan bukan firman manusia. Allah berkata seperti ini, maka saya harus menyampaikannya seperti ini juga. Paulus memperingatkan kita, "Israel dipotong olehNya, dan kamu pun akan dipotong juga jika tidak berdiam di dalam kebaikanNya dan bertahan di dalam iman."

Seperti inilah mentalitas yang kita tumbuhkan sejak lama. Saya ingat bahwa saya pun bertumbuh sebagai orang Kristen dengan mentalitas bahwa setiap saat saya hanya perlu menerima tanpa perlu memberi, saya selalu berkata, "Allah sangat memberkati saya!" Saya mendapati mentalitas seperti ini sangat umum terdapat di kalangan orang Kristen. Kita menganggap bahwa diri kita diberkati karena seseorang telah memberi kita sesuatu secara gratis. Itulah berkat Allah bagi kita. Jadi jika tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, anda mendapat kenaikan gaji, maka itu adalah berkat Allah. Jika seseorang memberi anda jaket yang bagus, atau baju yang bagus, maka itulah berkat Allah. Itu memang berkat dari Allah. Tidak ada orang yang menyangkalnya. Namun jika kita berhenti sampai di sini saja, maka kita sedang menuju ke arah bencana karena kita sedang membangun suatu mentalitas yang menganggap bahwa berkat Allah itu hanya terjadi jika kita menerima sesuatu. Sedangkan jika kita memberi sesuatu maka itu bukanlah berkat Allah.

Jika kita memahami pengajaran Tuhan, yang berlaku justru sebaliknya. Orang yang memberi anda jaket, uang untuk mencukupi kebutuhan atau apapun juga, justru lebih diberkati atau lebih berbahagia ketimbang anda. Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. Orang-orang itu menerima berkat lebih dari Allah ketimbang anda. Kita sangat memerlukan suatu perubahan cara berpikir! Jadi selanjutnya jika anda menerima sesuatu dari orang lain, bersyukurlah kepada Allah akan hal itu, namun ingatlah: orang yang memberi anda lebih diberkati atau berbahagia ketimbang anda. Orang itu lebih berbahagia. Jadi, menerima memang berbahagia akan tetapi memberi jauh lebih berbahagia. Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima, demikian kata Tuhan. Ini adalah suatu mentalitas yang sangat bertentangan dengan cara berpikir alami kita. Dan cara berpikir yang baru ini tidak pernah mau dipelajari oleh pohon ara tersebut.

Biasanya dianggap lebih berbahagia jika kita bergelimang kekayaan, mengambil dan mendapatkan segalanya serta tidak pernah memberi. Dan sangat banyak orang Kristen yang berpikir seperti itu sekarang ini. Pada saat anda memasukkan uang ke dalam kotak persembahan, mungkin anda berpikir, "Wah, saya tidak akan bertemu dengan uang itu lagi." Namun jika anda pergi ke toko dan membelanjakan uang anda, anda menerima sesuatu sebagai balasannya. Mungkin sepasang kaus kaki atau sehelai salendang, atau apapun juga itu. Anda mendapat sesuatu untuk uang yang anda berikan. Jika anda menaruh uang itu di kotak persembahan, anda tidak menerima apa-apa sebagai balasannya. Tidak sedikitpun! Dan jika anda memberikan uang kepada saudara seiman yang membutuhkan, balasan apa yang anda dapat? Tidak ada! Jadi kita mulai berpikir, "Lebih berbahagia menerima dari pada memberi." Ini adalah suatu kesalahan yang besar! Marilah kita belajar untuk mengubah cara berpikir kita. Biarlah Allah mengubah hati dan pikiran kita. Jika tidak maka nasib kita akan berakhir sama dengan pohon ara itu.

Memberi itu Menyenangkan Hati Allah
Mengapa memberi itu lebih berbahagia dari pada menerima? Lebih berbahagia berarti bahwa Allah lebih memberkati anda. Itulah maksudnya. Lebih berbahagia karena Allah akan memberkati anda lebih lagi. Jika anda memperoleh suatu pemberian, maka itu adalah berkat. Namun itu saja yang menjadi berkat bagi anda. Orang yang memberi anda akan menerima berkatnya dari Allah. Ketika anda menerima, katakanlah, jaket, maka anda sedang menerima berkat jasmani. Orang yang memberi anda jaket kehilangan jaket itu, namun ia mendapatkan berkat rohani. Dapatkah anda memahami makna dari peristiwa itu? Lebih berbahagia memberi dari pada menerima karena hal itu lebih menyenangkan hati Allah. Ini adalah poin yang pertama.

Memberi adalah Suatu Ungkapan Iman dan Kasih
Memberi lebih menyenangkan hati Allah karena perbuatan itu merupakan ungkapan dari iman dan kasih. Mengapa iman disebutkan di depan? Ia merupakan ungkapan iman karena orang yang memberi kepada Tuhan tidak mencari keuntungan materi. Anda harus memiliki iman untuk dapat melakukan itu. Orang yang menaruh uang, misalnya, di kotak persembahan demi kasihnya kepada Allah dan bukan sekadar demi memenuhi rasa tanggungjawab saja, berarti sedang memberi dengan dilandasi oleh iman. Jika ia tidak memiliki iman, maka ia tidak akan menaruh uang tersebut di sana. Ia menaruh uang di sana karena ia mengharapkan berkat rohani, dan bukannya berkat jasmani. Ia tahu bahwa ia tidak akan memperoleh keuntungan materi dari uang persembahannya itu. Saya bersyukur kepada Allah atas orang-orang itu. Saya mengenali iman orang-orang ini dari kenyataan bahwa mereka tidak mencari balasan dari manusia.

Anda tentu ingat perkara-perkara ajaib yang dilakukan oleh Allah ketika kita masih beribadah di tempat yang lama. Pada suatu ketika, seseorang memberikan amplop berisi 300 dolar tanpa meninggalkan identitas apapun selain nama gereja di amplop itu. Uang pemberian itu di taruh di pintu. Selanjutnya, datang lagi amplop dengan isi 400 dolar. Kami masih tidak tahu siapa yang memberikan uang itu. Namun, mash datang lagi satu amplop dengan isi 700 dolar. Siapa orang ini yang telah memberikan uang dengan jumlah keseluruhan 1400 dolar, dan tidak ingin dikenali identitasnya? Saya tidak tahu siapa dia. Mengapa ia melakukan hal ini? Dengan memberi tanpa meninggalkan identitas, orang ini bahkan tidak mendapatkan ucapan terima kasih karena kami tidak tahu siapa dia. Namun orang seperti ini mengungkapkan kenyataan tentang imannya di dalam Tuhan karena dia mencari balasan dari Allah. Itulah iman. Ia tidak mencari balasan dari manusia. Tidak ada orang yang tanpa iman yang dapat melakukan hal ini.

Ingatkah anda pada waktu yang lain, ketika kita sedang mengadakan Pendalaman Alkitab dan ada orang yang menggedor pintu? Saya pergi membuka pintu dan menatap ke arah jalanan, namun tidak terlihat satu pun orang di sana. Tidak ada orang di sana. Namun di luar saya melihat tape recorder, benda yang akhirnya kita pakai untuk merekam khotbah-khotbah sampai sekarang. Barang ini diberikan sebagai hadiah. Alat ini berharga sekitar 200 sampai 300 dolar. Siapa yang melakukan hal ini? Kita tidak tahu. Namun orang yang memberikan peralatan ini membuka jalan bagi perekaman khotbah tentang Firman Allah sehingga semakin banyak orang bisa ikut diberkati. Namun ia tidak mengharapkan pengakuan dan penghargaan. Kami tidak tahu siapa orang ini sampai sekarang.

Itulah ungkapan dari iman. Mereka mengharapkan balasan dari Allah. Mereka tidak mengharapkan balasan apapun dari manusia. Dan ini juga merupakan ungkapan dari kasih karena, orang yang memberikan tape recorder itu misalnya, merasa berkepentingan untuk membantu penyebarluasan Firman Allah. Apa yang ia dapatkan dari tindakan itu? Tidak ada. Namun ia sudah mengungkapkan kasih dan kepeduliannya sehingga banyak orang dapat ikut mendengarkan Firman Allah yang memberi hidup. Itulah kasih. Kasih tidak mengejar pujian dan penghargaan dari manusia, ia tidak mengejar balasan dari manusia. Itulah ungkapan dari iman dan kasih. Orang yang hanya ingin menerima tanpa mau memberi, berarti tidak memiliki iman dan kasih. Dan itulah keadaan dari pohon ara dalam perumpamaan ini. Ia menyerap nutrisi. Dan ia tidak memberi apa-apa. Ia tidak memiliki iman dan kasih. Akan tetapi orang yang memberi, dan memandang bahwa lebih berbahagia memberi dari pada menerima, membuktikan iman dan kasihnya. Itu sebabnya, pengajaran yang alkitabiah adalah, keselamatan itu oleh iman yang bekerja melalui kasih. Seluruh isi doktrin keselamatan dirangkum dalam perumpamaan ini. Perumpamaan Allah, pengajaran Tuhan Yesus, memang sangat indah!

Kesimpulan
Saya akan menutup pembahasan pada titik ini. Saya harap agar anda sekalian menguji cara berpikir masing-masing. Bagaimana perasaan kita terhadap pengajaran dari Tuhan bahwa: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima? Saya bersyukur kepada Allah atas diri anda sekalian, karena saya tahu bahwa anda memiliki iman dan kasih dan saya mengetahui itu dari cara anda memberi. Saya mungkin tidak tahu siapa yang telah memberi dan apa saja pemberiannya, dan saya tidak bermaksud untuk menyelidikinya. Bendahara gereja yang menangani hal itu. Bukan saya. Namun saya mengetahui dari laporan yang saya lihat yang menunjukkan bahwa banyak orang telah memberi dan pemberian itu merupakan tindakan pengorbanan. Dan saya bersyukur kepada Allah atas mereka karena itu semua mengungkapkan iman dan kasih mereka. Mereka tidak mengejar keuntungan materi. Mereka mengharapkan balasan dari Allah. Mereka seperti Abraham yang tidak mencari kota duniawi melainkan kota yang mempunyai dasar (Ibrani 11:10), yang kekal selamanya, yaitu Yerusalem Baru. Mereka mengharapkan kerajaan Allah. Akan tetapi, saya juga mendapati bahwa ada banyak dari anda yang masih perlu belajar tentang iman dan kasih ini. Kita harus belajar untuk mencurahkan diri kita, bukan hanya dalam hal materi namun juga dalam hal waktu, tenaga dan kepedulian kita. Kita harus lebih memikirkan tentang keperluan orang lain ketimbang kita sendiri. Ini adalah hal yang sangat mendasar. Saya berdoa kepada Allah supaya kita boleh diubah menjadi seperti itu, semoga Allah dapat memperoleh buah di dalam kehidupan kita dan menjadi senang akan hidup kita.

Kembali kepada pohon ara itu, siapa yang akan memakan buahnya? Apakah pohon itu sendiri? Tidak, pohon ara itu tidak memakan buahnya sendiri. Buah itu diberikannya kepada yang lain. Ia tidak mendapatkan keuntungan. Dan memang, ia diberi segala kelimpahan gizi agar dapat menghasilkan buah yang dapat memberi sukacita bagi yang lain, menjadi sumber gizi bagi orang-orang, dan dengan begitu memuliakan nama Allah karena orang-orang memuliakan nama Allah atas buahnya yang enak. Kadang kala, ketika saya mendapati bahwa buah yang sedang saya makan itu sangat enak, hati saya dipenuhi oleh rasa syukur kepada Allah. Saya berkata, "Ya Tuhan, bagaimana caraMu menciptakan buah yang sangat enak ini?" Selama musim panas, ada banyak buah persik. Sangat menyegarkan. Buah-buah itu sangat enak rasanya. Dan akan mendorong anda untuk memuji Allah. Saya sering berkata, "Tuhan, tidak ada juru masak di dunia ini yang dapat menandingi rasa buah-buah ini. Penciptaan dan rancanganMu yang kami nikmati dan menjadi sumber gizi kami sangat luar biasa." Kita dapat saja memakan makanan yang tidak enak namun bergizi. Akan tetapi Allah dengan kasihNya yang besar tidak sekadar memberi kita sumber gizi, Ia bahkan memberikannya dengan rasa yang sangat enak. Sungguh luar biasa! Jadi begitu pula halnya dengan kita, jika kita menghasilkan buah, maka kita harus menghasilkan buah dengan aroma yang memikat, rasa yang lezat dan tampilan yang menawan. Coba perhatikan buah persik. Warnanya sangat indah, bentuknya, aromanya, dan rasanya, semua sangat luar biasa. Apa lagi yang anda inginkan? Segala hasil pekerjaan Allah sangat luar biasa. Beberapa orang Kristen baru sekadar mampu menghasilkan "buah". Mungkin masih belum terlalu enak, namun jika anda memakannya, setidaknya anda masih dapat mempertahankan hidup. Ini membuat saya berpikir tentang cara untuk menyampaikan khotbah. Lihatlah buah-buahan yang diciptakan Allah dengan tampilan yang indah dan rasa yang sangat lezat! Semoga Allah berkenan mendandani kita supaya semakin banyak orang dapat diberkati, dan hati kita boleh bersukacita, dan yang terutama, nama Allah dimuliakan.

Saya sangat mengharapkan agar anda dapat menjiwai Kisah 20:35 karena ayat itulah kunci pemahaman dari perumpamaan kita hari ini. Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. Kita memang tidak dapat menguasai ayat ini dalam waktu singkat namun semoga Allah berkenan mengubah kita sehingga kita dapat menguasai pelajaran yang indah ini. Dengan begitu, kita akan menjadi saluran kasih karunia Allah di dunia ini.

Lalu akan datang harinya ketika orang-orang berkata, "Saya bersyukur kepada Allah karena bertemu anda hari ini. Pertemuan dan perkenalan ini merupakan berkat bagi saya, karena melalui anda saya dapat menikmati buah kemurahan dari Allah. Melalui anda, saya dapat memperoleh buah kehidupan. Anda adalah pohon kehidupan bagi saya, yang memberi saya makan ketika saya lapar. Ketika saya sekarat kelaparan, anda memberi saya makanan yang menguatkan."

Dan anda akan berkata, "Saya bukan apa-apa. Segala yang ada pada saya terjadi oleh karena kasih karunia Allah. Segala milik saya diberikan oleh Allah. Saya menerima sesuatu, dan saya akan menyalurkannya kepada anda sebagai buah karena kasih karunia Allah."

(cahayapengharapan)
←   →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by BIC Blog

Designed by Templater