FPI dan Polisi Mengintimidasi Jemaat HKBP Filadelfia

Setelah permasalahan GKI Yasmin selesai, kini HKBP Filadelfia menjadi permasalahan baru, sebuah polemik di Indonesia. Salah satu jemaat HKBP Filadelfia, Tambun, Bekasi itu pun menuturkan kisahnya yang terjadi pada hari Minggu (6/5) kemarin saat mereka melakukan doa bersama di depan gedung HKBP yang sedang dibangun.

Nurmida Bintang menjadi korban kekerasan yang dilakukan sekelompok massa intoleran yang dipimpin Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya, Murhali Barda. Nurmida tidak menyingka, pada saat terjadi kericuhan, dia dilempar tanah. Melihat intimidasi dan ancaman tersebut, selanjutnya Nurmida diamankan dari FPI oleh beberapa aparat keamanan.

Selain itu, Nurmida juga merasa menjadi korban intimidasi dari polisi. “Yang saya sesalkan adalah polisi yang melarang saya, dengan sembari mengancam mengatakan, ‘Kalau ibu mau hidup silahkan pulang.’, saya kaget saja salah seorang polisi melontarkan pernyataan tersebut,” ungkap Nurmaida, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (6/5).

Kuasa hukum HKBP Filadelfia, Saor Siagian menyesalkan kekerasan yang terjadi. “Aktor utama yang melakukan intimidasi tersebut adalah Bupati Bekasi Sa’duddin,” terangnya. Dia menuturkan, penutupan gereja terjadi pada 31 Desember 2009. Saat itu, bupati Bekasi mengeluarkan SK Bupati Bekasi No. 300/675/Kesbangponlinmas/09, perihal penghentian kegiatan pembangunan dan kegiatan ibadah HKBP Filadelfia RT 01, RW 09 Dusun III, Desa Jejalen Jaya, Tambun Utara, Bekasi, Jawa Barat.

SK ini kemudian dinyatakan batal berdasarkan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung No. 42/G/2010/PTUN-BDG, dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN) Jakarta No. 255/B/2010/PT.TUN,JKT tanggal 30 Maret 2011 namun sepertinya hal ini tidak dijalankan dengan baik, terbukti masih ditutupnya gedung gereja.

Sebagai seseorang yang mempunyai akhlak yang baik dan taat beragama, seseorang yang takut akan Tuhan, seharusnya setiap orang saling menghormati dan saling bertenggang rasa di dalam masyarakat yang berbagai ragam. Meskipun misalnya orang yang mengikuti aliran sesat sekalipun, seharusnya dengan kasihlah mereka ditegur. Apalagi ini merupakan umat Tuhan yang hanya ingin melakukan ibadah sesuai ajaran mereka. Bukankah Indonesia harusnya mendukung? Karena kita adalah negara yang beraneka ragam, marilah saling bertenggang rasa dan mengatasi masalah dengan musyawarah mufakat.


Sumber : jaringnews
←   →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by BIC Blog

Designed by Templater