Myasthenia Gravis, Penyakit Langka dan Butuh Pengobatan Panjang

Nama Penyakit Myasthenia Gravis (MG) memang terkesan asing di telinga, namun 'kejam' bagi penderitanya. Selain termasuk penyakit langka, penderita MG juga harus melakukan pengobatan panjang.

Penyakit ini membutuhkan biaya tidak sedikit. Tak sedikit pasien MG yang menyerah di usia muda, karena kurang biaya berobat. Beruntung jika berasal dari keluarga mampu, sehingga penderitanya bisa bertahan dan mencoba hidup senormal mungkin meski sulit.

MG adalah penyakit autoimun, yang artinya sistem imun dalam tubuh yang seharusnya melindungi diri, malah berbalik menjadi menyerang organ-organ dalam tubuh terutama sistem sambungan saraf (synaps).

Pada penderita MG, sel antibodi tubuh atau kekebalan akan menyerang sambungan saraf yang mengandung acetylcholine (ACh), yaitu neurotransmiter yang mengantarkan rangsangan dari saraf satu ke saraf lainnya.

Jika reseptor mengalami gangguan maka akan menyebabkan defisiensi, sehingga komunikasi antara sel saraf dan otot terganggu dan menyebabkan kelemahan otot.

Kepala Divisi Neurofisiologi Klinik & Penyakit Neuroamuskuar, Departemen Neurologi FKUI- RSCM, Dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S (K), menjelaskan Pada myasthenia gravis, sistem kekebalan menghasilkan antibodi yang menyerang salah satu jenis Reseptor pada paut saraf otot, sehingga terjadi gangguan pada transmisi saraf-otot, yang berakibat terganggunya kontraksi otot.

"Gejala MG secara umum adalah berupa kelemahan yang hilang timbul, kelemahan timbul saat lelah dan membaik setelah beristirahat atau saat bangun tidur, jelas Dr Manfaluthy, dalam acara shymposiun GBS dan MG di Hotel Mulia Jakarta, Jumat, (13/4).

Menurutnya, pada saat sudah terdiagnosa, pasien akan merasakan menurunnya kelopak mata pada salah satu mata atau kedua mata, dan penglihatan ganda.

Sementara, sambung Dr Manfaluthy, pada jenis MG umum, pasien merasakan kelemahan pada sebagian besar otot tubuh, sedangkan pada jenis bulbar, pasien akan merasakan nafasnya berat dan kesulitan untuk bicara sehingga suarnya terdengar sengau.

“MG perlu mendapat perhatian serius karena sekitar 15-20% pasien mempunyai risiko mengalami episode krisis miasthenia yang mengancam jiwa dalam 2 tahun setelah terdiagnosis," urai tegas Dr.Manfaluthy Hakim, Sp.S(K).

Tak hanya itu, Myasthenia Gravis juga merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang dengan manajemen terapi yang tepat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

Prevalensi MG diperkirakan sekitar 0,5 sampai 14,2 kasus per 100 ribu orang. Prevalensi autoimmune MG diperkirakan 1 kasus dari 10.000 - 20.000 orang. Data di RSCM selama periode tahun 2010-2011 menunjukkan sebanyak 94 kasus MG.

Pasien MG Diketahui bahwa gejala Myasthenia Gravis selain diduga berhubungan dengan penyakit otoimun, juga berhubungan dengan kelenjar Thymus yang seharusnya akan menghilang setelah melewati masa anak-anak.

Pada beberapa orang kelenjar thymus persistent atau tumbuh menjadi suatu bentuk tumor yang jinak (Timoma). Pada pasien MG dengan timoma, maka dianjurkan untuk dilakukan operasi pengangkatan tumor tersebut selain minum obat yang teratur sesuai anjuran dokter.

Jenis obat yang biasa diminum adalah pyridostigmin bromide dalam bentuk tablet. Selain itu, pasien MG juga harus memperhatikan beberapa faktor-faktor yang dapat memperberat gejala seperti kelelahan akibat aktifitas fisik yang berlebihan, udara yang sangat panas, dan lain-lain.

Keteraturan minum obat dan mengatur aktifitas fisik yang baik sangat penting untuk menghindari suatu keadaan yang berat seperti krisis myasthenia dan krisis kholinergik.

Pada krisis myasthenia, gejala memberat akibat kurang teraturnya minum obat atau aktifitas fisik yang sangat berlebihan sehingga timbul gejala gangguan pernafasan yang berat, pada keadaan seperti ini, pasien harus segera ke Rumah Sakit. Sedangkan krisis kholinergik dapat timbul akibat dosis obat yang berlebihan.

Terapi untuk keadaan tersebut adalah perawatan di Rumah Sakit dan mungkin membutuhkan terapi IvIG atau plasmapharesis.

Oleh sebab itu, dalam rangka untuk meningkatkan akses kepada pasien MG perlu adanya kemudahan akses terhadap obat-obatan untuk pasien MG untuk mendapatkan terapi yang standar.

"Dukungan infrastruktur pelayanan kesehatan hingga ke daerah-daerah juga sangat diharapkan sehingga tatalaksana pasien MG sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran yang mutakhir," urai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Cabang Jakarta, dr. Darma Imran, SpS(K).

Kasus MG , lanjut Dr. Darma, memang tidak tinggi frekuensinya, namun penyakit ini menimbulkan gangguan mobilisasi berat pada orang dalam masa produktif, sebagian penyakit ini dapat sembuh sempurna dengan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat.

Karena itu kita perlu mengimbau asuransi pemerintah dan swasta untuk menanggung pengobatan mestinon, plasmapharesis dan imunoglobulin secara lengkap.
←   →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by BIC Blog

Designed by Templater