Memahami Kembali Peran Suami

Suami bagaimanapun merupakan kepala keluarga, dan memiliki tanggung jawab besar dalam memimpin serta menjaga keluarga. Ketika seorang suami kurang memiliki peran di dalam keluarga akan muncul fenomena suami takut istri. Karena ketika peran istri lebih dominan dalam sebuah rumah tangga, bahkan menjadi sangat penting meskipun pada dasarnya kedua belah pihak memiliki peran yang sama, maka akan terjadi ketimpangan yang seringkali mengarah kepada konflik rumah tangga. Pemahaman ini penting karena merupakan salah satu dari hal-hal dasar yang diperlukan dalam pernikahan.

Pada pemahaman tradisional sebuah pernikahan, peran masing-masing telah didefinisikan secara jelas seperti posisi laki-laki yang seharusnya dominan dalam rumah tangga. Seorang suami bertanggung jawab sebagai pencari nafkah dan haknya pun jelas, diantaranya sebagai pengambil keputusan hingga hak-haknya dilayani oleh istri. Peran istri akan cenderung sebagai pengikut, yang patuh dan tunduk kepada keputusan suami sehingga dependency level (tingkat ketergantungan) sangat tinggi. Sehingga adalah wajar kondisi “istri takut suami” dalam masyarakat.

Banyak penjelasan terkait fenomena ini sebagaimana dikuak oleh Hira Yuki Molira, M.Psi pakar psikologi Dwipayana Bandung.

Pergeseran nilai tradisi
Perkawinan yang didasarkan cinta dan prinsip demokratis telah mendorong adanya keterlibatan pasangan dalam membagi tanggung jawab, sehingga peran kedua pasangan akan lebih beragam dan bervariasi antara masing-masing rumah tangga. Barangkali masih banyak rumah tangga dengan nilai-nilai tradisional yang ketat, sedangkan yang lain melakukan penyelarasan antara nilai tradisional dan modern, sedangkan beberapa yang lain menganut aturan modern.

Dominasi diantara keduanya
Sifat dan tanggung jawab kedua pasangan dalam membentuk model kehidupan rumah tangga sangat ditentukan terhadap peran keduanya mengambil tanggung jawab. Selain itu pemahaman akan fungsi dan peran keduanya sekaligus penghargaan terhadap pasangan akan sangat dipengaruhi juga oleh karakteristik kepribadian. Seorang suami akan sulit mengambil keputusan ketika tinggal dalam kondisi rumah tangga yang overprotective oleh istri, dan dirinya akan sulit mengambil inisiatif bahkan cenderung menunggu dan selalu mengalah. Meskipun demikian belum tentu kondisi ini akan menjadi masalah dalam kehidupan perkawinannya. Kembali lagi bahwa pemahaman pasangan terhadap kelebihan dan kekurangannya serta penerimaan terhadap apa yang dimiliki pasangannya sangat menentukan jalannya perkawinan, sehingga keduanya akan saling melengkapi dan menutupi kekurangan pasangannya

Evaluasi dan introspeksi terhadap peran
Suami yang tertekan terhadap istri perlu melakukan evaluasi. Problem ketimpangan karir dan mindset merendahkan diri dihadapan istri bisa jadi menjadi alasan yang melatar belakangi. Perlunya bersikap dan berpikir bahwa keduanya merupakan partner yang sejajar akan membantu untuk mengikis ketidak percayaan diri dan mendorong untuk berani mengkomunikasikan kepada istri. Keduanya pun harus saling memahami serta berani untuk melakukan negosiasi, tentunya dengan suasana rileks dan santai. Keterbukaan akan menjadi kunci dalam menghadapi permasalahan ini.

Sedangkan istri juga perlu untuk lebih peka terhadap perannya dan waspada pada dominasi sikapnya yang membuat suami merasa tidak nyaman. Perlunya melihat dari sudut pandang suami dan membicarakan apa yang sebenarnya dia perlukan agar dapat memahami permasalahan yang dihadapi akan sangat vital. Keterbukaan menjadi kunci pula bagi keduanya agar terjalin peran mutual dalam menjalankan bahtera rumah tangga yang diharapkan menjadi surga bagi keduanya di dunia dan sarana ibadah untuk akhirat.
←   →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by BIC Blog

Designed by Templater