Don Piper mengatakan bahwa ia masih mengingat jelas musik yang “melampaui spektakuler” itu dan aroma yang belum pernah ia cium sebelumnya. Kakeknya berdiri menyambutnya dengan hangat, bersama dia ada lusinan orang yang telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya di depan sebuah gerbang yang megah.
Itulah cerita Don Piper, seorang pendeta Babtis yang ia tulis dalam buku best seller-nya menurut New York Times berjudul “90 Minutes in Heaven.” Kisah Piper ini dimulai ketika ia berada di sebuah jembatan di pedesaan Texas pada tahun 1989. Disana sebuah truk menabrak mobil Piper dan meninggalkannya dengan luka yang mengerikan.
“Jeruji kemudi menusuk dada saya dan atap mobil runtuh menimpa kepala saya, jadi tidak ada cara Anda bisa bertahan dalam kecelakaan seperti itu,” jelasnya.
Piper menyatakan saat itu jantungnya berhenti berdetak dan paramedis yang menolongnya menyatakan ia telah tewas. Selama 90 menit ia tidak bernafas.
Saat tubuh Piper terperangkap dalam mobil itu, hal tersebut menarik perhatian pengendara yang lewat termasuk pasangan suami istri Dick Onarecker. Onarecker dan istrinya menepi dan diberitahu bahwa korban telah tewas. Namun pria itu bersama istrinya memutuskan untuk berdoa bagi Piper.
“Tuhan memberi kesan yang kuat dan empati kepada saya untuk segera berdoa untuknya,” ungkap Onarecker dalam sebuah wawancara sebelum kematiannya di tahun 1996.
Piper siuman dan mendengar Onarecker bernyanyi “We Have a Friend in Jesus.” Tak lama kemudian Piper pun ikut bernyanyi.
“Dia bernyanyi dan saya pun bernyanyi, dan aku bertanya pada diriku sendiri, 'Apa yang sedang terjadi disini?'”
Piper akhirnya selamat, namun ia harus menjalani pemulihan yang panjang dan lusinan operasi serta harus belajar berjalan kembali.
“Saya tahu saya tidak akan sama lagi secara fisik karena apa yang saya alami. Tapi saya juga tahu apa yang telah saya lihat,” ungkap Piper dalam wawancara dengan ABC News.
Dirinya percaya bahwa ia diijinkan hidup kembali untuk menyebarkan pesan khusus: “Sorga itu tempat yang nyata.” Pesan ini telah ia bagikan melalui bukunya yang terjual 4 juta kopi. Namun sekalipun ia sukses di bumi ini, dia berkata dia menantikan untuk pulang kembali memasuki gerbang yang megah itu.
“Saya tidak keberatan berada disini, saya sebenarnya senang ada disini,” ungkapnya, tetapi “Ini (dibumi -red) terlihat bukan sesuatu yang nyata sekarang ini, karena saya tahu betapa hal ini hanya sementara dan sekejab saja. Saya tahu apa yang terjadi dengan jiwa saya, keberadaan saya yang sesungguhnya. Itulah kenyataan saya sekarang. Dan saya tidak sabar untuk kembali ke sana (sorga).”
Berbahagialah mereka yang percaya sekalipun tidak melihat, karena sorga itu nyata sekalipun Anda belum pernah melihatnya. Jika Anda mau pergi kesana, hanya ada satu jalan, yaitu melalui Yesus Kristus yang berkata : "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Source : ABC News
