Seorang Ibu Dibebaskan Oleh Anak yang Dilahirkannya di Penjara

Kanhaiya membutuhkan waktu belasan tahun untuk membebaskan ibunya dari penjara. Anak muda asal Kanpur, India, berusia 19 tahun itu bekerja keras mengumpulkan uang tebusan.

Ibunya, Vijai Kumari, dipenjara sejak ia berada dalam kandungan. Kumari dipenjara atas tuduhan pembunuhan yang menurutnya tidak benar. Namun pembelaannya tak berhasil. Ia tetap dipenjara. Ia bisa keluar dengan tebusan 10.000 rupee (sekitar Rp1,7 juta dengan kurs saat ini). Karena ia tak punya uang dan keluarganya pun tak mau menolongnya, bahkan suaminya meninggalkannya, ia tak bisa segera keluar dari penjara.

Empat bulan setelah berada dalam penjara, Kumari melahirkan Kanhaiya. Pada awalnya ia merawatnya di dalam penjara. Beberapa tahun kemudian, barulah Kanhaiya dilepas dari penjara dan dibesarkan di beberapa panti asuhan. “Saya melepasnya ketika saya kira ia sudah cukup umur untuk hidup di luar. Itu hal yang sulit tetapi harus saya lakukan. Penjara bukan tempat bagi anak-anak,” katanya.

Kumari kemudian terus hidup di dalam penjara. Bahkan hukum pun melupakannya. Ia malah sudah mengira pada akhirnya akan meninggal di dalam penjara.

Sedangkan Kanhaiya tumbuh di luar penjara. Sampai akhirnya ia tahu bahwa untuk membebaskan ibunya, ia harus menebusnya dengan sejumlah uang. Saat usianya 18 tahun, ia bekerja di pabrik garmen dan mulai menabung. Setelah tabungannya cukup, ia mendengar ada seorang pengacara yang mungkin bisa membantunya. Kanhaiya kemudian berusaha menemuinya. Setelah bertemu, ia menceritakan kasus ibunya. Pengacara itu sangat terkejut mendengar kasus itu, dan segera menangani kasus Kumari. Sampai akhirnya Kumari bisa dibebaskan.

“Sekarang saya hanya ingin hidup bersama anak saya,” kata Kumari. “Dialah satu-satunya yang saya miliki di dunia,” katanya. Kumari bebas setelah 19 tahun dipenjara dan dibebaskan oleh anaknya yang lahir di penjara.

Vonny Sumlang Alami Mujizat


Vonny Sumlang, artis yang tenar di tahun 80an ini menyadari bakat menyanyinya sejak ia berusia lima tahun. Selepas sekolah menengah atas, Vonny memulai karir dengan menjadi penyanyi di kafe milik Rima Melati.

"Waktu itu tanpa saya sangka-sangka, waktu itu ada produser dari Jackson and tapes. Setelah nyanyi, saya dipanggil dan ditanya apakah saya bersedia menjadi penyanyi rekaman. 'Wow, mau banget..' jawab saya. Sejak itu, kalau ngga salah tahun 86, saya mulai recording album pertama saya : Kau Lelaki, lalu tahun berikutnya yang hit itu album 'Ratu Sejagat'," ungkap Vonny.

Dalam waktu singkat, wanita kelahiran kota Manado, 19 April 1961 ini namanya tenar dalam jagad hiburan Indonesia. Vonny mengaku telah menghasilkan delapan album solo dan album duet tiga, dan juga bersama grup Baskara Band.

Sukses membuat ego seorang Vonny muncul, "Perasaan bangga ada, sedikit arogan memang ada, namanya juga manusia. Sudah mulai milih-milih teman, trus saya sudah bisa minum minuman keras, mulai bisa minum rohypnol, waktu itu obat-obat drugs-nya kaya gitu."

Walau sukses sudah ditangan, namun kehidupan tidaklah selalu membahagiakan bagi Vonny.

"Bahagianya hanya sesaat saja, waktu kita entertain, nyanyi, orang-orang seneng.. Tapi waktu kita pulang, nangis, mabok, trus saya pernah berpikir bagaimana caranya bahagia yang bener-bener nyaman. Saya juga ngga ngerti kenapa saya ngga bahagia... Saya sih punya rencana, pengen banget dapetin kebahagiaan kalau saya nikah.." tutur Vonny.

Namun apakah rencana dan impian Vonny untuk menggapai kebahagiaan dapat terwujud? Pada Desember 1990, Vonny mewujudkan impiannya dengan menikahi seorang aktor. Saat itu sahabat-sahabat Vonny menyarankan untuk segera memiliki anak, hal itupun direspon positif oleh Vonny dan suami.

"Waktu itu saya dan suami ke dokter, dan saya divonis dokter yang membuat saya takutnya luar biasa."

Dokter menyatakan bahwa jika ingin memiliki anak, maka Vonny harus menjalani operasi karena rahimnya kering dan tertutup, karenanya tidak bisa memiliki anak kalau tidak dioperasi.

"Saya ketakutan, 'Operasi atau tidak?' Kalau tidak operasi ngga bisa punya anak, saya pasti dihina sama dia karena dia bilang, 'Loe punya anak dong... Laki-laki dong..!'"

Ucapan sang suami semakin membuat Vonny tertekan, ia pun menyesali mengapa dulu sampai terjerumus hingga mengkonsumsi minuman keras yang akhirnya berakibat fatal seperti itu.

"Tapi kakak saya yang cukup dekat dengan saya, yang cowok mengatakan bahwa, 'Alangkah lebih baik jika kamu meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang buruk, bertobat, repent dan minta belas kasihan Tuhan. Itu aja, kalau kamu malu tunggu suami sudah tidur dan berdoa.'"

Vonny pun mengaku bahwa dirinya malu, sehingga menunggu suaminya terlelap dulu, sekitar pukul 1 dini hari, baru dirinya berdoa.

"Doanya sangat sederhana karena ngga pinter doa, saya mengatakan : Tuhan Yesus, saya ini dosanya banyak banget. Ampuni dosa saya Tuhan. Kalau boleh saya diberikan seorang anak laki-laki. Setiap malam, kurang lebih selama sepuluh hari lebih."

Vonny pun membuat komitmen untuk berhenti minum-minuman keras dan merokok, hal itu menjadi bukti dari pertobatannya yang sungguuh-sungguh. Kemudian, sebuah mukjizat terjadi.

"Tiba-tiba, saya itu ngga dapet haid lagi. Saya masih blom ngeh, saya telpon dokter, dia langsung panggil. Sewaktu diperiksa, dokter kaget sakali, karena menurut medis ngga mungkin. Dia bilang, 'Wah, ini mukjizat. Karena saya sudah periksa secara rinci, kalau kamu ngga bisa hamil kecuali di operasi.' Ini hanya tangan yang maha kuasa yang bisa melakukannya," demikian Vonny menceritakan mukjizat yang dialaminya.

"Saya belum pernah meminta sesuatu yang Tuhan jawab seketika begitu saja, saya waktu itu langsung inget kalau damai sejahtera yang sejati itu datangnya dari Tuhan. Jadi saya merasa ini dia yang namanya damai sejahtera.."

Tak bisa mengekspresikan rasa syukurnya, Vonny Sumlang saat itu hanya bisa menangis atas kuasa dan kasih yang Tuhan tunjukkan kepadanya. "Tuhan.... kamu kok baik banget buat aku..." demikian teriaknya dari hati. Dari mukjizat Tuhan itu, lahirlah seorang putra bernama Tegar Putra Dovianda.

Namun kebahagiaan yang dirasakan Vonny tidak berlangsung lama, sepuluh tahun sejak peristiwa itu sebuah prahara mengguncang rumah tangganya. Sang suami meninggalkannya, ia kemudian hidup hanya bersama putranya.

"Tentu saja saya sebagai manusia, sebagai istri terluka banget. Menangis, sedih, kecewa, tapi saya cuma berdoa, 'Tuhan, hanya Engkau yang bisa menjamah hati anak manusia. Kalau pun Tuhan ijinkan dia tidak diperstemukan lagi karena dia memilih meninggalkan saya, saya minta kekuatan saja agar saya tidak melakukan hal-hal yang bodoh, yang merugikan diri saya, atau mempermalukan nama Tuhan.' Waktu kita minta Tuhan menyertai kita, ngga sampai kita jatuh tuh.." ungkap Vonny dengan tersenyum.

Selepas perpisahannya dengan sang suami, Tuhan memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin paduan suara. Kesibukannya membuat Vonny tidak tenggelam dalam kesedihan.

"Saya memiliki iman bahwa Tuhan yang sama, yang sudah mendengar doa saya dan memberikan saya seorang anak itu, Tuhan yang itu akan memberikan saya kekuatan. Dan saya ingin tunjukin bahwa saya yang sekarang dan saya yang dulu ada satu perbedaan yang sangat-sangat signifikan. Dengan lain kata, saya berdiri di sekuler namun dengan penampilan yang lain, yang orang harus melihat bahwa kita tidak sama lagi dari yang dulu."

Kehidupan baru Vonny dimulai dari satu titik, saat ia menemukan seorang Juru Selamat.

"Saya mengakui dulu sebelum saya memilih Tuhan menjadi juru selamat saya, saya selalu gagal mencari kedamaian, mencari kebahagiaan. Tetapi ketika saya memutuskan untuk memilih Tuhan Yesus sebagai juru selamat saya, dan saya memilih untuk menyerahkan hidup saya kepada Dia, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa," demikian pengakuan Vonny saat menutup kesaksiannya.

Apakah Anda juga sedang mencari kedamaian dan juga kebahagiaan sejati seperti Vonny Sumlang dulu? Temukanlah di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat yang telah mati menebus kita dari dosa dan maut.

Sumber kesaksian : Vonny Sumlang (Sadur : Obat Malam)

Bencana Tsunami Membawa Saya kepada Yesus

Saya adalah anak kelima dari sebelas bersaudara. Saya lahir di salah satu kota di pulau Sumatera, pada tanggal 25 September 1969. Saya berasal dari keluarga bangsawan, dan sebelum mengenal Kristus, saya adalah seorang agama lain yang taat. Saya selalu mengikuti kegiatan ibadah bersama keluarga saya. Sewaktu saya lahir, orang tua saya pernah bernazar untuk membuat sebuah tempat ibadah, dan membangun sebuah tempat bagi murid-murid untuk belajar mengenai agama di desa I.

Sebagai anak seorang anggota TNI, saya mendapat didikan yang cukup keras dari orang tua saya. Saya tidak boleh keluar rumah tanpa izin dari orang tua. Saya menempuh pendidikan -- SD sampai SMU di kota kelahiran saya. Ketika berada di bangku SMU, saya sering bermain di gereja. Ketika orang tua saya mengetahui hal ini, mereka lalu memasukkan saya ke salah satu tempat untuk mendalami agama, di salah satu kota di Jawa Timur. Di sana, saya hanya bertahan dua bulan, sebelum akhirnya lari ke tempat nenek saya di salah satu kota di Jawa Tengah. Ketika orang tua saya mengetahui kalau saya ada di tempat nenek saya, mereka membawa pulang saya ke daerah asal kami, dan saya melanjutkan studi saya sampai tamat SMU di sana. Setelah lulus SMU, saya melanjutkan studi ke salah satu universitas swasta Jakarta -- sampai semester lima. Saya tidak melanjutkan kuliah dan kembali ke kota asal saya, lantaran ibu meninggal dunia.

Ketika berada di kota asal saya, saya membuka sebuah usaha dengan dibantu 8 orang karyawan. Saya juga mengadopsi seorang anak berumur 3 hari. Saya menikmati hidup saya yang mulai tertata. Namun di tengah ketenangan hidup itu, datanglah musibah yang dahsyat yang menghancurkan usaha saya. Tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa yang disusul dengan tsunami. Waktu itu, saya dan keluarga lari ke luar rumah, dan tiba-tiba datang air bah. Semua orang berlarian sambil berteriak, "Air, air!" Saya bingung, mana airnya? Tiba-tiba saya melihat air yang tingginya kira-kira 2 kali pohon kelapa. Saya berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke tempat yang lebih aman. Akan tetapi, keluarga, anak angkat, dan pembantu saya terbawa arus air.

Saat air mulai surut, saya dan orang-orang yang selamat mencoba mencari anggota keluarga kami yang hilang. Namun, tidak ada satu pun dari anggota keluarga saya yang saya temukan. Tiga hari tiga malam saya tidak makan. Dengan pikiran kalut, saya berusaha mencari jasad keluarga saya. Lagi-lagi, usaha saya tidak membuahkan hasil. Tidak satu pun yang ketemu. Apa yang harus saya lakukan?

Sewaktu saya sedang mencari keluarga saya, saya bertemu dengan teman ayah saya, R. Senang rasanya bisa bertemu dengan seseorang yang saya kenal baik. R menyapa saya dan membelikan saya sandal. Selain itu, saya juga bertemu dengan B. Kami bersama-sama mencari jenazah keluarga kami, tapi tidak ada satu pun yang ketemu. Kemudian saya minta tolong R untuk membawa saya ke salah satu kota di Sumatera dengan naik pesawat TNI. Sesampainya di kota tersebut, kakak dan adik-adik langsung memeluk saya dan menanyakan keadaan saudara-saudara yang lain. Saya lalu dibawa ke hotel, dan kakak saya menanyakan rencana saya selanjutnya, apakah mau tinggal di Kalimantan atau Bandung. Saya memilih Bandung. Tetapi, baru dua bulan di Bandung saya minta pulang ke daerah asal saya.

Ketika berada di daerah asal saya, hubungan saya dengan B menjadi semakin akrab. Saya sering mengunjungi B di barak tempat tinggalnya. Suatu ketika saat B sedang mandi, saya mendapati Alkitab miliknya di bawah kasur. Alkitab itu kemudian saya baca-baca tanpa sepengetahuan B. Pada hari minggu pagi, seperti biasa saya datang ke baraknya. Saya lihat B mengenakan pakaian bagus. Merasa heran, saya bertanya, "Kakak mau ke mana?" "Mau ke pasar," jawabnya. "Kok pakai pakaian yang bagus sekali?" tanya saya lagi. Akhirnya, dia mengaku bahwa dia sudah menjadi orang Kristen. Waktu itu saya duduk di pintu barak. Tiba-tiba saya memegang rok B sambil berkata, "Saya mau ikut Kakak ke gereja." Sambil berlinang air mata, saya terus memegang roknya dan menantikan jawaban. B berujar, "Jangan, saya takut sama keluargamu." Dia segera tahu bahwa sayalah yang sering memindahkan Alkitabnya. Saya pun mengakui bahwa saya sering membaca Alkitabnya ketika dia sedang mandi. "Tidak ada masalah, Kak, kalau saya ke gereja. Ini dari hati nuraniku," kata saya kepadanya. Jawabnya, "Kalau begitu, saya tanya dulu ke K -- pendetanya. Sepulang dari gereja, B mengatakan kepada saya apa yang dikatakan K. Kata K, "Kamu boleh main-main dulu ke gereja." Selama tiga bulan saya ke gereja dan kebaktian bersama mereka. Waktu itu saya ditanya oleh K, "Kamu mau dibaptis?" Jawab saya, mau. Kemudian saya dibawa ke salah satu kota untuk di baptis.

Ketika berada di kota tersebut, saya ditelepon oleh keluarga saya, yang menyampaikan bahwa kakak saya sudah pindah ke daerah asal kami, karena banyak teman yang seprofesi dengannya meninggal ketika terjadi tsunami. Saya disuruh pulang oleh keluarga. Saya terkejut, tidak menyangka kalau kakak saya sudah ada di di sana. Saya ragu untuk pulang ke rumah. Waktu itu, tante saya tahu kalau saya sudah menjadi orang Kristen, dan sebagai akibatnya saya diusir dari rumahnya. "Pokoknya, kamu jangan injak rumah ini lagi," katanya. Sambil berlinang air mata, saya keluar dari rumahnya. Saya langsung kembali ke barak. Sesampainya di barak, tiba-tiba kakak saya datang. Setelah bertemu, tangan saya diborgol, lalu dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke salah satu kota, dengan menempuh perjalanan selama 6 jam dari daerah asal saya. Kira-kira pukul 02.00 WIB, kami tiba di tempat tujuan. Di tempat tersebut, saya dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah dengan keadaan sangat lapar.

Setelah itu, saya dibawa ke rumah kakak saya, di mana semua anggota keluarga berkumpul dan menginterogasi saya. Waktu itu, saya belum berani jujur tentang iman saya. Saya hanya diam ketika mereka bertanya kepada saya. Saya juga mengalami tindakan fisik -- pemukulan di bagian tangan dan punggung, yang mengakibatkan tulang punggung saya patah. Saya lalu dibawa ke rumah sakit. Setelah mendapatkan perawatan, saya dibawa pulang ke rumah dan dikurung selama 2 hari. Malamnya, ada seseorang yang menolong saya, sehingga saya dapat lari dengan memanjat tembok setinggi 2,5 meter.

Saya lari ke sebuah gereja di salah satu kota di Sumatera. Selama tiga bulan di gereja itu, saya terus dicari oleh keluarga saya. Pernah suatu kali saya diberi tiket pesawat untuk pergi ke kota lain. Tetapi Tuhan tidak mengizinkan saya meninggalkan kota tersebut. Kemudian saya mendengar bahwa pesawat yang akan saya tumpangi jatuh. Tiga hari kemudian, seorang pendeta datang mengunjungi saya dan ia mencukupkan kebutuhan hidup saya. Suatu ketika, saya dan teman saya pergi ke sebuah mal untuk membeli sandal. Selagi makan, tanpa saya sadari, anak buah kakak saya sudah mengepung. Saya dan teman saya berusaha menyelamatkan diri, tetapi usaha kami tidak berhasil.

Saya lalu dimasukkan ke dalam mobil dengan tangan diborgol dan dibawa kembali ke rumah kakak saya di kota L. Semua keluarga disuruh datang ke rumah kakak saya. Setelah semuanya berkumpul, saya lalu disiksa habis-habisan -- kepala saya dipukuli dengan batu bata sampai gendang telinga saya pecah dan saya tidak bisa mendengar, lutut saya dipukuli dengan kayu sampai saya tidak bisa jalan. Berhari-hari, saya mengalami siksaan dari kakak saya. Dalam keadaan itu, saya hanya berdoa dan memohon agar Tuhan Yesus menolong dan menyembuhkan bagian-bagian tubuh saya yang terluka. Puji Tuhan, perlahan-lahan, saya mulai bisa berjalan.

Selama tiga bulan saya dikurung dan disiksa, supaya saya dapat menyangkal iman saya kepada Tuhan Yesus. Pernah suatu kali saya hampir dilukai dengan besi panas oleh kakak saya. Katanya, "Biar tidak ada lagi yang suka sama kamu karena dadamu tidak bagus lagi." Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan saya, dan saya diluputkan oleh Tuhan melalui kakak ipar saya. Sewaktu kakak mau melukai saya dengan besi panas itu, saya berteriak dan didengar oleh kakak ipar saya. Dia segera mendobrak pintu yang terkunci dan saya pun terluput. Saya diseret dan disuruh melakukan salah satu kewajiban agama lama saya. Awalnya, saya menolak dan beralasan sedang datang bulan. Tetapi, mereka tidak percaya dan terus-menerus memaksa. Akhirnya, saya menurut dan memohon kepada Tuhan Yesus supaya mengampuni saya.

Suatu malam, di depan rumah ada suatu acara, sehingga semua keluarga pergi. Saya ditinggal di rumah dengan seorang pembantu. Ini adalah kesempatan bagi saya untuk menyelamatkan diri. Dengan alasan ingin makan sate, saya pamit untuk membeli sate di depan rumah. Tapi sesampai di luar, saya segera lari, mencari becak, dan segera menuju terminal menemui K dan temannya yang sudah menunggu saya. Kami langsung naik bis menuju sebuah tempat. Tanpa kami ketahui, di tengah jalan sedang ada rasia besar-besaran yang dipimpin kakak saya. Semua mobil diperiksa, termasuk bis yang kami tumpangi. Sungguh ajaib. Pada waktu bis kami diperiksa, saya melihat kakak saya berdiri di sebelah kanan saya, tapi dia tidak melihat saya.

Sementara pemeriksaan, kami terus berdoa supaya jangan ketahuan oleh kakak saya. Tuhan menutup mata kakak saya sehingga tidak melihat kami. Akhirnya, kami tiba dengan selamat di tempat tujuan. Kami singgah sebentar di sebuah yayasan untuk mandi. Setelah mandi, kami segera pergi ke Bandara. Selama tiga jam, tiket saya diperiksa karena nama yang tertera di tiket berbeda dengan nama di KTP. Saya menangis karena tidak dapat berangkat ke kota J. Di saat itu, Tuhan menolong dengan mengirim seorang hamba-Nya, Ibu S, yang menolong saya untuk berangkat ke kota J dan menjamin saya. Saya tiba di kota J pukul 17.00 WIB. Saya dijemput oleh seseorang dan ditampung di salah satu gereja selama tiga bulan.

Saya pun tidak betah berada di tempat itu, jadi saya minta pulang kembali ke daerah asal saya. Saya diizinkan untuk pulang, tetapi terlebih dulu harus menghubungi seseorang yang membawa saya ke gereja tersebut -- A. A kaget mendengar bahwa saya ingin pulang ke daerah asal saya. A langsung menghubungi K. A berkata bahwa ia telah menjelaskan masalah saya kepada K. K menganjurkan agar saya pergi ke salah satu temannya untuk belajar/mendalami firman Tuhan. Saya lalu mengurungkan niat saya untuk kembali ke kota asal saya. Di tempat tersebut karakter saya dibentuk dan saya semakin mengerti kebenaran dari firman Tuhan.

(Diambil dan disunting dari buletin Midrash Talmiddim)

Melewati Lembah Kekelaman Bersama dengan Tuhan

Sejak di bangku SMU, hidung saya bermasalah -- sering tersumbat. Dokter mengatakan hal itu karena alergi. Akhirnya, saya bosan berobat dan tidak memedulikannya lagi.

Ketika berada di Surabaya (kira-kira tahun 2000), saya mengalami mimisan. Darah yang keluar dari hidung saya cukup banyak. Saya lalu memeriksakan diri ke dokter THT yang cukup terkenal, dan kata dokter tidak ada kelainan. Dokter bahkan tidak memberi obat. Sesudah peristiwa ini, dalam setahun -- 2 kali dalam setahun, saya masih mengalami mimisan.

Pada bulan Maret 2005, saya pergi ke Malaysia. Saya tiba di Malaysia pada malam hari. Keesokan harinya, saya mengalami 2 kali mimisan, yaitu pada pagi hari dan siang hari. Mengingat pada waktu di Surabaya saya sudah pernah periksa ke dokter, dan bila terjadi mimisan saya tidak merasa ada gangguan pada kondisi fisik saya, walaupun istri saya menganjurkan agar saya memeriksakan diri ke dokter, tapi saya merasa tidak perlu ke dokter.

Sekembalinya dari Malaysia saya berkonsultasi dengan dokter keluarga. Dia mencurigai ada kelainan dan menganjurkan agar saya melakukan pemeriksaan darah. Keesokan harinya, saya laksanakan anjuran dokter keluarga kami. Hasil dari pemeriksaan ini baru bisa diketahui tiga minggu kemudian, karena sampel darah saya harus dikirim ke Amerika. Dengan pertimbangan perjalanan yang begitu lama, apakah hasilnya masih akurat? Akhirnya saya membatalkan pemeriksaan tersebut, walaupun sampel darah saya sudah terlanjur diambil. Pertimbangan lain mengapa saya membatalkan pemeriksaan darah ini adalah karena biaya yang cukup mahal, dan saya juga merasa tidak ada sesuatu yang tidak beres dalam diri saya.

Pada bulan September, kami ke Singapura untuk menengok anak kami yang bersekolah di sana. Kami tiba di Singapura Jumat malam dan pada Selasa pagi kami akan kembali ke Jakarta. Pada Sabtu pagi, saya mengalami mimisan lagi dan kejadian ini terulang kembali pada Minggu malam. Saya bertanya dalam hati, "Mengapa baru saja saya tiba di Singapura, tiba-tiba saya langsung mimisan?" "Apakah Tuhan menyuruh saya untuk periksa ke dokter?" Istri saya menganjurkan agar saya periksa ke dokter. Saya pun setuju atas usul istri saya, karena dorongan di hati saya untuk memeriksakan diri ke dokter juga begitu kuat.

Senin pagi, saya periksa ke RS. Mount Elizabeth. Melalui pemeriksaan dengan menggunakan endoskop [teropong untuk memeriksa rongga di dalam pembuluh, saluran, dan liang yang sempit-sempit dalam beberapa bagian tubuh, Red.], dokter menemukan adanya tumor. Ia menganjurkan untuk CT Scan. Kami periksa juga di beberapa dokter di RS. Mount Elizabeth, dan hasilnya sama. Dari hasil CT Scan, terlihat dengan jelas ada tumor sebesar satu ruas jari kelingking (3x1 cm) di belakang rongga hidung dekat mata kiri. Dokter menganjurkan hari Kamis saya harus menjalani operasi melalui lubang hidung untuk mengangkat tumor itu, dan setelah itu akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui jenis tumor itu -- jinak atau ganas. Kalau tumor jinak, kami boleh pulang; tapi kalau tumor itu ganas (kanker), perlu dikemoterapi [pencegahan dan penyembuhan terhadap suatu penyakit, dengan memasukkan bahan kimia ke dalam tubuh, Red.]/Radioterapi [disebut juga terapi radiasi adalah terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari energi radioaktif, Red.]. Kami terpaksa setuju dengan saran tersebut. Kemudian dokter memberi surat pengantar untuk keperluan operasi.

Setelah keluar dari ruang dokter, dalam keadaan bingung kami duduk termenung di kursi, di depan lift. Tiba-tiba istri saya ingat Pdt. Andreas -- beliau sering membesuk papa saya waktu papa dirawat di RS. NUH pada tahun 2004. Saya segera menelepon beliau, tapi waktu itu beliau sedang berada di Australia. Beliau menunjuk seorang dokter spesialis ENT Head & Neck Surgery di SGH, Prof. Goh. Kami membuat janji untuk bertemu dengan Prof. Goh pada hari Kamis pagi. Kami lalu kembali lagi ke ruang dokter dan membatalkan jadwal operasi tadi.

Kamis pagi, di SGH, Prof. Goh bersama tim melakukan pemeriksaan dengan teliti dan hasilnya sama, ada tumor. Prof. Goh mengatakan akan melakukan biopsi [pemeriksaan terhadap organisme, organ, atau jaringan yang hidup, Red] untuk mengetahui jenis tumornya dulu. Jumat siang, sekitar pukul 11, saya dibiopsi. Seminggu kemudian, hasilnya: kanker Neuroblastoma [Neoplasma (pertumbuhan jaringan baru yang tidak normal pada tubuh; tumor) ganas pada sistem saraf, Red] dan harus segera dioperasi. Operasi yang sangat besar, memakan waktu yang amat panjang, memerlukan persiapan yang lengkap dan teliti, memerlukan 2 tim dokter, yaitu 1 tim ahli ENT Head & Neck Surgery dan 1 tim ahli bedah saraf. Mula-mula hidung dibelah sampai ke mata, kemudian kulit kepala dibuka lebar supaya tengkorak bisa di gergaji. Setelah tumornya dibersihkan baru dipasang kembali. Menurut dokter, kanker jenis ini tidak terdeteksi melalui darah.

Pada tanggal 21 Oktober 2005, saya dioperasi mulai dari pukul 08.00 dan saya baru sadar sekitar pukul 19.00. Saya lalu dipindahkan ke ruang ICU dengan tangan, kaki, mulut, hidung, dan kepala penuh dengan selang. Lubang hidung dua-duanya disumbat dengan kain kasa, sehingga saya harus bernapas dengan mulut. Hanya 15 menit di ruang ICU, saya dilarikan kembali ke kamar bedah karena pendarahan. Sekali lagi saya dibius dan dipasang ventilator (alat pernapasan). Pukul 21.00, untuk kedua kali, saya dipindahkan lagi ke ICU dalam keadaan tidak sadar. Ketika saya sadar rasanya sakit sekali. Untuk mengurangi rasa sakit itu, saya diberi Morfin [zat yang diekstrasi dari opium dengan proses maserasi opium dalam air. kemudian diendapkan dengan amonia. Digunakan sebagai obat penghilang rasa nyeri dan penenteraman, digunakan dengan takaran besar berkhasiat sebagai obat bius dan bila sering dipakai, takarannya makin lama terpaksa makin diperbanyak sehingga mengakibatkan kecanduan, Red]. Pada hari ke-3, tekanan darah saya tiba-tiba naik di atas 200/120 dan banyak mengeluarkan lendir, mungkin karena penolakan terhadap benda-benda asing yang masuk ke tubuh saya. Ada juga selang yang dimasukkan ke lambung melalui lubang hidung. Pada hari ke-4, sakitnya begitu hebat, sehingga tangan saya dipasangi alat untuk melakukan penyuntikan morfin ke tubuh saya, yang bisa saya lakukan sendiri sesuai kebutuhan. Setelah selesai operasi, saya masih perlu menjalani 35 kali radioterapi.

Sekarang, saya sudah pulih setelah melewati lembah kekelaman bersama Tuhan. Walaupun begitu berat, tapi hari-hari itu adalah hari-hari yang penuh syukur, karena ada Tuhan yang menggendong saya. Tuhan begitu dekat dan saya tahu Tuhan mengasihi saya.

(Hadi)

Gadis Ini Selamat Dari Ledakan Pesawat

Sebuah pesawat perintis yang membawa empat orang penumpang dan seorang pilot mengalami kecelakaan. Tiga orang penumpang dan pilot tewas, namun Hanna Luce, seorang gadis berusia 22 tahun berhasil selamat dari kecelakaan naas tersebut. Hebatnya, nyawa Hannah ini diselamatkan oleh seorang penumpang lainnya yang justru meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.

"Sementara kami berterima kasih karena keajaiban Hannah, kami benar-benar berduka dengan korban lainnya," kata ayah Hannah, Ron Luce.

Kecelakaan ini bermula ketika Luce dan tiga temannya naik sebuah pesawat perintis bermesin ganda Cessna 401 untuk menghadiri sebuah acara rohani di Omaha, Iowa yang diselenggarakan oleh Teen Mania Ministries, sebuah organisasi yang didirikan ayahnya.

Namun malang, setelah lepas landas dari sebuah bandara di Tulsa, tiba-tiba ada sesuatu yang salah dengan mesin pesawat. Ketika melakukan pendaratan, pesawat tergelincir sekitar 200 meter sebelum menabrak beberapa pohon dan meledak dan akhirnya terbakar.

Sang pilot, Luke Sheets, meninggal di tempat kejadian. Penumpang lain, pemuda berusia 29 tahun bernama Garrett Coble dan Stephen Luth (22) ditemukan tak bernyawa.

Austin Anderson, mantan prajurit Angkatan Laut yang baru pulang dari Irak selamat. Ia lah yang menarik Hannah keluar dari pesawat yang terbakar dan keduanya mampu berjalan ke jalan terdekat untuk mencari bantuan. Anderson kemudian meninggal di rumah sakit, menderita luka bakar lebih dari 90 persen di tubuhnya. Sedangkan kondisi Hannah sendiri dinyatakan stabil meski luka bakar yang dialaminya cukup besar, yaitu 28 persen.

Salah satu sikap seorang pahlawan adalah mendahulukan keselematan orang lain, itulah yang diteladankan oleh Austin Anderson. Walapun mengalami luka yang parah, dia masih mau berusaha menyelamatkan orang lain. Sikap seperti ini tidak muncul begitu saja, tapi dimulai dari sebuah kepedulian untuk hal-hal kecil, baru kemudian kita akan mempunyai rasa kepedulian yang makin besar.

(tempo)

Mengamen di Pinggir Jalan

Ruth, wanita berusia 38 tahun, meniti langkahnya menyusuri trotoar di sepanjang jalan di kota Jakarta. Setiap tempat ia datangi dengan penuh harap dan cemas, untuk mencari putra sulungnya yang pergi entah ke mana.

Daniel, bocah berusia 7 tahun itu, telah meninggalkannya selama 2 tahun lebih. Siang itu saat Ruth kehilangan anaknya, ketika ia tengah sibuk-sibuknya melayani para pelanggannya. Usaha "togel" yang digelutinya di daerah Cikarang, terpaksa ia lakukan untuk mencukupi kebutuhannya dan ketiga anaknya. Suami yang menjadi tumpuan harapan bagi dia dan keluarganya, telah terpikat oleh wanita lain dan tega meninggalkan istri dan anak-anaknya.

Sementara itu, Daniel yang telah pergi meninggalkan ibu dan semua keluarganya, ketika peristiwa ini terjadi sedang asyik berada di Monas dengan teman-teman sebayanya. Dengan menaiki kereta api di Stasiun Kereta Api Cikarang, ia bisa tiba di Jakarta -- meninggalkan tempat asalnya dan turun di Stasiun Jatinegara, kemudian naik kereta api lain menuju Stasiun Gambir. Di Stasiun Gambir dan di Monas, ia bertemu teman-teman baru, yang mengajaknya untuk mabuk dan mengisap lem aibon. Walaupun rasanya pusing, namun Daniel tetap mengikuti ajakan teman-teman barunya tanpa merasa terpaksa. Bersama dengan anak-anak jalanan lainnya, ia juga harus berusaha mendapatkan makanan untuk tetap hidup. Berbekal "kecrekan" buatannya yang hanya terdiri dari empat keping tutup botol yang dipipihkan, ia mencari kepingan logam penyambung hidupnya di jalan.

Jika ia lapar, tak jarang ia meminta-minta uang pada orang di Stasiun Gambir dengan tidak segan-segan. Saat malam tiba, Daniel dan teman-temannya mandi di kolam pancuran kompleks Monas. Setelah lelah, ia akan tidur di mana pun kepalanya bisa bersandar.

Sementara itu, Ruth terus berjuang untuk menemukan kembali anaknya yang sangat dia sayangi itu. Hari esok yang sepertinya tidak pasti dan keadaan ekonomi yang sulit, pernah membuatnya patah semangat dan tawar hati. Timbul ketidakpercayaan kepada Tuhan. "Mungkinkah Tuhan akan menolongku menghadapi semua ini?" Demikian kata hatinya saat ia mulai ragu, frustrasi, dan depresi. Ia mulai jarang pergi beribadah kepada Tuhan dalam persekutuan di gereja, bahkan ia mulai merokok.

Namun, tidak terlalu lama ia mulai menyadari kesalahannya. Ia dapat melihat betapa Tuhan tetap setia dalam hidupnya. Kebaikan Tuhan tetap ia rasakan dan membuatnya kembali berbalik kepada Tuhan. Di tengah kemiskinan dan kekurangannya, ia mendapatkan jalan untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan. Sebenarnya, perusahaan itu hanya bagi mereka yang telah lahir baru, namun oleh anugerah Tuhan, Ruth tetap diterima oleh Bapak Lucky, pemilik perusahaan itu.

Perhatian dari rekan-rekan kerja serta pemimpin perusahaannya, membuatnya terharu dan semakin merasakan bahwa Tuhan tetap setia memelihara hidupnya. Persekutuan doa di perusahaan itu juga memberinya pengenalan yang lebih lagi akan Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara, serta jawaban bagi segala persoalan hidupnya. Imannya tumbuh semakin kuat dan pengharapan untuk dapat menemukan kembali Daniel semakin ia rasakan.

Ruth begitu senang berada di tengah-tengah rekan sekerjanya. Ia juga senang dengan suasana kerja di perusahaan itu, karena rasa kekeluargaan dan solidaritasnya sangat kental. "Tuhan, Aku sangat bersyukur kepada-Mu, karena aku mendapatkan teman-teman yang sangat memerhatikanku dan mereka lebih dari pada saudara-saudaraku sendiri. Bahkan Pak Lucky, pimpinanku sendiri membantu mencari Daniel ke Monas dan Stasiun Gambir atas keinginannya sendiri."

Saat perusahaan itu mengadakan retret, mereka membuat suatu permainan. Namun hati Ruth gelisah. Ia tidak dapat berhenti memikirkan anaknya. Ia segera pergi ke kamarnya dan berdoa. Ketika tiba di rumah dan kembali mengerjakan aktivitasnya pun ia masih terus berseru kepada Tuhan. Di tengah kerinduan dan kecemasannya itu, Ruth berteriak dalam doa. Secara ajaib, Tuhan berbicara dalam hati Ruth, "Sekarang berangkatlah engkau mencari Daniel ke tempat yang akan Aku tunjukkan kepadamu nanti!" Mendengar suara Tuhan itu, Ruth langsung berangkat pergi. Ia segera menaiki bus kota jurusan Mangga Dua, sambil terus mencari-cari. Ia turun di Monas. Ia mencari-cari anaknya di sana. Di kompleks Monas itu banyak anak gelandangan, yang membuat hatinya sedih dan hancur. Semua anak gelandangan ditanya satu-persatu, siapa tahu di antara mereka ada yang tahu keberadaan anaknya.

Sambil beristirahat sejenak, Ruth coba melegakan tenggorokannya yang mulai panas dan kering di tengah panasnya Jakarta, dengan meminum air mineral dari botol minuman yang ia beli di pinggir jalan. Hatinya berkata, "Tuhan, aku ke sini bukan karena kekuatan dan kemauan saya, tetapi Engkau yang menyuruh saya ke sini untuk mencari anak saya, Daniel. Tuhan, Engkau yang menyuruh, bukan saya. Sekarang saya hanya melakukan apa yang Engkau katakan."

Tidak lama kemudian, sekitar 500 meter dari Monas, Ruth bertanya pada seorang anak kecil, "Nak, kamu kenal sama Daniel? Apa kamu melihat Daniel?" Anak itu menjawab, "Oh ya, saya tahu. Daniel ada di sana. Dia lagi tidur." Bagaikan mendapatkan secercah cahaya di tengah kegelapan, hati Ruth begitu meluap-luap. Harapannya begitu kuat untuk menemukan Daniel. Bergegas, Ruth menuju tempat yang ditunjukkan anak itu. Setelah sampai, Ruth melihat Daniel masih tidur dengan begitu nyenyak, namun hanya beralaskan selembar kertas koran.

Dengan hati-hati Ruth mendekati dan berusaha membangunkan Daniel. Suaranya lembut membangunkan anak itu, "Daniel, bangun Nak! Mama sangat sayang sama kamu! Mama mengasihi kamu!" Kemudian Daniel berkata, "Sana... sana... Oh, tidak Kak, tidak Kak. Aku tidak mau ikut Kakak. Aku tinggal di sini saja." Mendengar kata-kata itu, hati Ruth sangat sedih dan tidak kuat menghadapinya.

Sekali lagi, Ruth kembali mengandalkan Tuhan. Ia berteriak minta tolong kepada Tuhan Yesus agar memulihkan ingatan Daniel. Dengan otoritas kuasa Tuhan ia berdoa, hanya beberapa detik setelah doa selesai diucapkan, Daniel mulai sadar dan ingatannya pulih kembali. Ruth memeluknya erat-erat, sembari mendengar ucapan dari bibir anaknya, "Aku mau ikut sama Mama." Melihat anaknya yang sudah begitu dekil, Ruth kemudian segera memandikan Daniel di kolam pancuran kompleks Monas.

Dengan hati yang begitu bergembira, Ruth pun membawa Daniel pulang ke tempat kediaman mereka kembali. Ia sungguh merasakan bahwa pertemuannya dengan Daniel, semata-mata oleh kemurahan Tuhan. Sejak bertemu Daniel, Ruth senang sekali. Ia bersukacita karena Tuhan Yesus telah menemukan anaknya. Hatinya meluap-luap penuh kegembiraan dan rasa syukur kepada Tuhan. Ruth merasakan sukacita selalu di dalam pimpinan Tuhan. Sungguh kuasa Tuhan nyata dan menjadikan segalanya indah pada waktu-Nya.

(10 Mukjizat yang Terjadi pada Orang Biasa - Basuki, Lasri Yuliana, dan Cacuk Wibisono)

Perjalanan Apollo 13 yang Menakjubkan

Bagian Apollo 13 Yang Rusak
"Saya mendengar suara [radio] dari luar angkasa, 'Houston, kami memiliki masalah.'"

Ada peristiwa-peristiwa dalam sejarah, yang seolah-olah menghentikan waktu. Pada saat itu seluruh dunia seakan menahan napasnya, menunggu dan melihat apa yang akan terjadi kemudian. Ketika itu saya masih berusia dua belas tahun, saat misi dramatis Apollo 13 ke bulan menangkap perhatian dunia. Saya ingat, ketika itu saya terpaku pada layar televisi, menerka-nerka apakah awak pesawat itu akan berhasil kembali ke bumi, ataukah mereka akan tersesat selamanya dalam kehampaan luar angkasa yang kelam.

Hari itu, 13 April 1970, Jerry Woodfill benar-benar berada di pusat peristiwa itu. Senin malam itu, ia bertugas sebagai Teknisi Sistem Peringatan bagi misi Apollo 13 ke bulan yang bernasib buruk itu. Sebenarnya, jam kerja Jerry akan berakhir pada pukul 10 malam, tetapi setelah pukul 9, ia ingat ketika sedang memeriksa panel kontrol dan menyadari bahwa ada sesuatu yang benar-benar salah.

Pada saat yang sama, dua ratus enam puluh kilometer dari planet bumi, para kru Apollo 13 mendengar suara ledakan yang teredam. Mereka memandang keluar dari jendela kokpit dan melihat uap yang menyembur ke ruang angkasa.

"Saat itulah saya mendengar suara dari luar angkasa, 'Houston, kami memiliki masalah.' Sama seperti kata-kata di film Apollo 13, yang disutradarai oleh Ron Howard yang terkenal itu. Tetapi seharusnya mereka berkata, 'Houston, kami memiliki beberapa masalah' -- karena saya melihat beberapa indikator tanda bahaya yang menyala sekaligus."

Hal itu membuat para teknisi NASA membutuhkan waktu untuk mengetahui apa yang salah. Dalam setiap program misi Apollo ke bulan, selalu ada dua bagian pesawat luar angkasa yang diluncurkan: sebuah pesawat induk yang berfungsi untuk mengorbit di orbit bulan dan membawa kru astronaut kembali ke bumi, dan sebuah Lunar Lander untuk membawa dua dari tiga astronaut mendarat di permukaan bulan dan membawa mereka kembali ke pesawat induk yang berada di orbit bulan. Tampaknya, hubungan arus pendek telah menyebabkan ledakan pada salah satu dari tabung oksigen di pesawat induk. Uap yang mereka lihat tadi adalah oksigen cair yang berada dalam tabung yang rusak tersebut.

"Ketika tabung oksigen itu meledak, hal itu menimbulkan sejumlah kerusakan yang berikutnya pada sistem yang lain," ujar Jerry. "Sel bahan bakar berhenti berfungsi, yang dengan demikian membuat daya listrik di pesawat induk menjadi padam. Tanpa daya listrik di pesawat induk, para kru harus berpindah dari menggunakan tenaga dari sel bahan bakar kepada daya dari baterai. Pesawat itu sedang sekarat."

Tak lama kemudian, para personel NASA menyadari akibat dari ledakan itu. "Saya rasa mungkin membutuhkan sembilan puluh menit bagi kami, untuk benar-benar mengerti bahwa pesawat induk tidak lagi dapat mendukung kehidupan para kru, dan mengharuskan kami untuk menggunakan pendarat bulan itu sebagai perahu penyelamat. Pesawat induk itu didesain untuk menampung tiga astronaut dan untuk mendukung mereka selama seluruh perjalanan, sementara Lunar Lander itu didesain hanya untuk menampung dua orang dan misi mereka selama kurang dari empat puluh delapan jam. Tetapi sekarang, Lunar Lander itu harus dapat bertahan selama jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bumi -- dengan tiga orang di dalamnya.

Dengan nyawa para astronaut sebagai taruhannya -- kru teknisi dan para pengawas penerbangan bekerja mati-matian, mencari cara untuk membawa para pemberani itu pulang. Saat itu mereka menghadapi tiga dilema. Pertama, sistem penyaringan udara pada Lunar Lander tidak dapat bertahan untuk mencukupi kebutuhan untuk tiga orang, dalam waktu yang dibutuhkan agar ketiganya dapat mencapai bumi. Setiap anggota kru akan mati karena karbon dioksida yang akan semakin bertambah di dalam pesawat itu. Kedua, tanpa daya listrik di pesawat induk, mereka tidak akan sanggup mencapai atmosfer bumi.

Ketiga, dengan kerusakan yang dialami oleh pesawat induk, para astronaut itu tidak dapat menggunakan mesin pendorong yang dimiliki pesawat induk untuk membawa mereka pulang ke bumi, sehingga mereka harus menggunakan mesin pendorong yang lebih kecil, yang terdapat pada Lunar Lander. Masalahnya, mesin pendorong pada Lunar Lander hanya didesain untuk mendorongnya keluar dari pesawat induk ke permukaan bulan dan kemudian kembali lagi ke pesawat induk, tidak dimaksudkan untuk mendorong kedua pesawat itu dalam perjalanan yang lebih panjang untuk mengitari bulan dan kembali ke bumi. Mereka harus memikirkan ulang rencana itu. Tugas mereka amat berat, banyak orang yang mengira bahwa para astronaut Apollo 13 tidak akan kembali.

Tetapi ada perubahan yang menarik pada jalan cerita ini. Jerry berkata bahwa seluruh orang di Amerika dan seluruh dunia berdoa bagi kepulangan para kru Apollo 13.

"Doa itu sangat nyata. Mereka berdoa di Tembok Ratapan di Yerusalem. Sri Paus di Basilika Santo Petrus berdoa agar nyawa para astronaut diselamatkan. Mereka berdoa di pabrik-pabrik di seluruh negara kami. Bursa Efek di Chicago berhenti sejenak -- penghitung mereka berhenti. Para pembeli dan penjual saham di sana mengambil waktu untuk berdoa bagi keselamatan para astronaut di Apollo 13. Dewan kongres menganggap penting peristiwa tersebut, sehingga di tengah-tengah rapat mereka mengeluarkan pengumuman yang mendorong orang untuk berdoa bagi rencana penyelamatan Apollo 13."

Gereja-gereja di seluruh Amerika mengadakan pertemuan doa khusus, memohon kepada Tuhan untuk kepulangan para astronaut Apollo 13. Jerry bahkan mendengar bahwa pelayanan misi di Burma dan orang-orang Kristen di Guyana, Afrika Barat, berdoa bagi mereka. Jerry melihat rekan-rekan sekerjanya di ruangan pengawas misi penerbangan ini menundukkan kepala mereka dan berdoa. Seperti ratusan ribu asap kemenyan yang naik ke surga, doa-doa dari seluruh dunia dinaikkan demi harapan agar Tuhan menyayangkan nyawa ketiga pria pemberani ini.

Masalah paling pelik yang dihadapi oleh personel NASA dan yang harus segera dipecahkan adalah masalah sistem penyaringan udara. Dalam Lunar Lander sebenarnya terdapat cadangan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga orang ini selama perjalanan pulang mereka. Masalahnya adalah sistem penyaring udara itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan yang baru ini. Karbon dioksida yang dihasilkan oleh para astronaut lambat laun tidak akan mampu diproses oleh sistem penyaring udara itu, sehingga para astronaut akan mati karena kekurangan oksigen.

Para teknisi NASA mengambil keputusan bahwa para astronaut tersebut harus mengambil filter yang berada di pesawat induk (yang berbentuk segi empat), dan membentuknya ulang agar cocok dengan sistem penyaringan udara yang terdapat pada Lunar Lander (yang didesain untuk penyaring udara yang berbentuk bulat). Pepatah yang mengatakan "Anda tidak dapat memasangkan pasak yang berbentuk segi empat di lubang yang bulat" adalah masalah yang sedang dialami para teknisi NASA pada saat itu.

Jerry mengingat kembali bagaimana para teknisi menghadapi dilema tersebut secara frontal: "Malam itu, mereka menaruh di atas meja benda apa pun yang berada dalam Apollo 13, yang mungkin dapat menolong untuk memecahkan kesulitan ini. Mereka bahkan mengeluarkan kantong plastik yang biasanya digunakan untuk menaruh batu bulan -- apa pun yang mereka tahu ada dalam pesawat itu."

"Salah seorang dari para teknisi itu melihat benda-benda yang saling tak terkait itu, dan di dalam benaknya ia melihat cara untuk membuat selang-selang yang terbuat dari baju astronaut dan kantong-kantong plastik untuk batu bulan itu, dan beberapa lembar kertas karton yang digabungkan menjadi sedemikian rupa, sehingga penyaring udara itu dapat terpasang. Saya percaya bahwa ini adalah jawaban dari doa-doa yang dinaikkan. Teknisi ini menggambar konfigurasi yang ada dalam benaknya itu, sementara timnya sibuk menyusun prosedur bagi para astronaut, agar mereka dapat melakukannya." Ajaibnya, sistem yang baru itu dapat bekerja!

Meskipun rintangan besar yang pertama sudah mereka lewati, waktu yang berharga terus berjalan. Ratusan ilmuwan dan teknisi bekerja dengan gelisah untuk memecahkan rintangan berikutnya: sistem listrik yang tidak berfungsi. Para astronaut harus menggunakan bagian kerucut dari pesawat induk untuk dapat memasuki atmosfer bumi; namun demikian, mereka telah menggunakan seluruh daya yang ada dalam baterai di pesawat induk ketika listrik di pesawat itu padam. Daya yang berada dalam baterai ini adalah hal yang sangat penting bagi mereka untuk memasuki atmosfer bumi, tanpanya mereka tidak akan dapat kembali.

Seorang teknisi yang brilian mendesain sebuah cara agar mereka dapat "memancing" baterai di kapsul induk dengan menggunakan kabel sementara. Jerry mengingat bahwa para teknisi harus menentukan apakah ada kabel di pesawat itu yang dapat dipakai untuk rencana ini.

"Teknisi tersebut bahkan tidak yakin bahwa kabel yang dimaksud itu ada di pesawat tersebut, tetapi jika mereka dapat menemukannya, maka ia dapat menyambungkan dua sistem listrik tersebut -- sistem listrik yang berfungsi di Lunar Lander dengan baterai yang sudah habis terpakai di pesawat induk. Ia mungkin dapat menyetel pemutus arus listrik dalam konfigurasi tertentu, sehingga dapat mengalirkan daya melalui kabel ke dalam baterai yang sudah habis di kapsul yang digunakan untuk memasuki atmosfer bumi."

Setelah pencarian yang teliti menggunakan skema pesawat itu, mereka akhirnya menemukan kabel yang dibutuhkan. Prosedur yang belum pernah dicoba sebelumnya tampak menjanjikan, namun tetap memiliki risikonya. Ketika mereka melakukan prosedur itu pada simulasi komputer, hasil yang didapat tidak baik. "Hasil simulasi itu mengatakan, 'Jangan lakukan itu; prosedur ini terlalu berbahaya,'" kata Jerry. "Tetapi kami tidak memiliki alternatif lain. Kami harus melakukannya, sebab tanpa daya listrik itu mereka tidak akan dapat memasuki atmosfer bumi."

Ketika prosedur yang berisiko itu dijalankan, peringatan komputer itu benar-benar terjadi. Salah satu dari baterai itu meledak. "Kejadian itu benar-benar menjadi momen yang membangunkan, sebab suara ledakan itu terdengar seperti ledakan tabung oksigen yang pertama."

"Tetapi ajaibnya, doa-doa yang dinaikkan itu terjawab. Meskipun sel baterai itu meledak, tetapi baterai tersebut mengirimkan sejumlah daya yang dibutuhkan untuk keseluruhan misi itu. Dapatkah Anda memercayainya? Kabel yang seadanya dan baterai yang meledak, namun semuanya berjalan dengan baik, dan baterai yang berada di kapsul untuk kembali ke bumi itu telah terisi."

Tantangan terakhirnya adalah bagaimana cara membawa astronaut ini pulang. Dengan roket utama pesawat induk yang rusak, para teknisi harus mencari cara untuk menggunakan sistem pendorong yang dimiliki oleh Lunar Lander.

"Mesin pendorong itu tidak pernah didesain untuk membawa seluruh bagian pesawat itu kembali ke bumi, tetapi hanya didesain untuk mendarat di permukaan bulan saja dan kembali ke pesawat induk. Sekarang kami benar-benar menggunakannya untuk mendorong seluruh bagian Lunar Lander dan pesawat induk untuk mengitari bulan dan kembali ke bumi." Dengan waktu yang sangat terbatas, ratusan teknisi dan pengawas penerbangan bekerja tanpa lelah bersama-sama dengan para astronaut Apollo 13 untuk melakukan prosedur itu, langkah demi langkah, untuk menggunakan mesin dari Lunar Lander.

Jerry mengingat betapa takjubnya ia, ketika memandangi bagian-bagian pesawat yang rontok, dan sebagai Teknisi Sistem Peringatan, ia tahu bahwa ada banyak petaka yang dapat terjadi, namun tidak terjadi pada saat itu. Contohnya, ledakan itu terjadi di saat yang tepat. "Seandainya ledakan itu terjadi di bulan, atau ketika mereka dalam perjalanan kembali ke bumi, atau pada permulaan misi, maka mereka tidak akan dapat menyelamatkan para astronaut itu. Bahkan kejadian itu dapat juga terjadi di tempat peluncuran. Dapatkah Anda membayangkan besarnya kebakaran dan kehancuran yang ditimbulkan, seandainya seluruh menara peluncuran meledak dan terbakar? Hal itu akan menyurutkan ketertarikan dalam hal eksplorasi angkasa untuk bertahun-tahun."

Ketika ledakan tabung oksigen itu terjadi, salah satu astronaut baru saja memasuki Lunar Lander dan menyalakan beberapa sistem kunci. Karena palka pesawat sudah terbuka dan sistem pada Lunar Lander sudah menyala, maka transisi pesawat kecil itu untuk menjadi "sekoci penyelamat" menjadi lebih mudah. Semua langkah seolah-olah sudah diatur untuk menolong para astronaut itu kembali pulang.

Sementara pesawat yang bermasalah itu semakin mendekati bumi, ada satu lagi peristiwa dramatis yang terjadi: sebuah awan badai besar yang tampak berada di dekat tempat pendaratan di Samudra Pasifik menyingkir dari tempat tersebut, ketika Apollo 13 bersiap-siap memasuki atmosfer bumi.

Tentu saja ketiga astronaut Apollo 13 yang pemberani itu berhasil kembali ke bumi. Luar biasanya, mereka mendarat di koordinat pendaratan di air itu dengan akurasi yang sangat tepat, sekalipun terdapat rintangan-rintangan besar itu.

Sebelum petualangan ini, Jerry selalu membandingkan penerbangan ke luar angkasa dengan kursi berkaki tiga. Kaki yang pertama adalah para teknisi yang mendesain pesawat luar angkasa, kaki yang kedua adalah para astronaut yang menerbangkannya, dan yang ketiga adalah para pengawas penerbangan yang mengawasi para astronaut selama misi mereka. Ketika ia mengakui keberanian para astronaut Apollo 13 dan kecerdasan para pengawas penerbangan dan tim teknisinya, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari analogi ini: "Bagi misi Apollo 13, ada kaki keempat -- Tuhan dan doa yang dijawab."

Selama keterlibatannya dengan misi Apollo ke bulan yang bersejarah ini, Jerry Woodfill bukanlah seorang Kristen. Namun setelah melihat yang terjadi, bagaimana para astronaut itu berhasil kembali ke bumi, dan bagaimana banyak orang di seluruh dunia berdoa, Jerry menerima Yesus Kristus di dalam hatinya pada saat Pertemuan Pengusaha Kristen (Christian Businessmen's Meeting).

"Apa yang dapat Anda katakan ketika melihat peristiwa itu dengan mata kepala Anda sendiri? Saya adalah seorang saksi mata dari kejadian itu. Saya berpikir, jika Tuhan dapat melakukan mukjizat untuk membawa para astronaut yang tampaknya akan hilang itu pulang dari luar angkasa, maka Ia juga sanggup meraih saya dari ruang kendali misi di surga, dan memberi saya petunjuk dalam menjalani hidup saya."

(Gorman Woodfin)

Peluru Allah

Lutheran Church di Du Bois, Pennsylvania bukanlah suatu tempat yang disukai oleh seorang Thompson kecil di suatu hari minggu bertahun-tahun lalu. Dia sama sekali bosan dan tidak tertarik, tetapi tiba-tiba muncul suatu pemikiran seperti sebuah peluru menembus kepalanya: 'Suatu hari kamu akan berkhotbah di mimbar itu.' Dia terus berusaha menyingkirkan pikiran itu dan melupakan kesan yang hidup.

W.F THOMPSON tidak tertarik sama sekali pada gereja di masa mudanya, pada usia yang ketujuh belas Ia memasuki Angkatan Laut dan keluar dari tempat latihan menjadi seorang pejuang yang kejam. Dia haus darah "Saya sangat menikmati membunuh terutama dengan bayonet," kenangnya suatu kali.

Seusai pertempuran Thompson pindah ke Releigh, North Carolina dan memasuki dunia usaha. Suatu hari masuk seorang lelaki ke kantornya dan mengacungkan senjata meminta uang dari kasnya. Thompson ingin sekali menghabisi perampok itu tetapi akan sangat membahayakan orang lain. Tiba-tiba seorang pelanggan masuk, dan perampok itu terkesima dan tiba-tiba berlari keluar. Thompson mengejar keluar gedung dan ke jalan, ketika berbelok ke Fayetteville Street perampok itu menunggunya dengan mengacungkan revolver ke arahnya dan peluru pertama segera menembus dada Thompson sedangkan dua peluru lainnya bersarang di lengan dan bahu kirinya.

Thompson masih hidup sepanjang akhir pekan, tetapi pada hari senin dengan lembut para dokter yang merawatnya meminta istrinya untuk mengurus pemakamannya, "Dia tinggal beberapa hari lagi." Semua teman berkumpul disamping tempat tidurnya, dan setiap nafas menunjukkan akhir hidupnya. Tetapi W.F.Thompson terus bertahan hidup dalam ketidak sadarannya, dan pada suatu hari ia membuka matanya dan memandang ruangan berusaha mengingat siapa dan dimana dia.

Thompson hanya melihat Alkitab terbuka di meja sebelah tempat tidurnya, kehadiran Alkitab itu sangat membuatnya marah. Dengan geram diraihnya Alkitab itu, ditutup dan kembali pingsan. Untuk kedua kalinya terbuka matanya dan yang dilihatnya Perjanjian Baru itu terbuka seperti dulu, dan dia berusaha menutup sebelum pingsan untuk kedua kalinya. Ketika matanya terbuka untuk ketiga kalinya, kembali matanya menatap Alkitab terbuka dimeja samping tempat tidurnya menunggu untuk dibaca, dengan sekuat tenaga diraihnya Alkitab itu untuk dilemparkan. Tetapi ketika hendak dilempar, tepat diatas kepalanya terbuka Injil Yohanes 6 ayat ke 37, seperti peluru menusuk hatinya: 'Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku dan barang siapa datang kepada-Ku, dia tidak akan Kubuang.'

Dengan tangan gemetaran dan kesadaran penuh, dia membuka halaman itu dan membaca ayat itu lagi. Dia mulai sadar dan bertanya dalam hati "Apakah saya yang dimaksud ayat ini?" dan terdengarlah suara Tuhan dengan tegas dalam hatinya "Terutama kau". Itulah firman yang disampaikan W.F.Thompson di kemudian hari dalam khotbahnya yang pertama di Trinity Lutheran Church, ketika dia sudah sembuh dari penderitaannya dan ketika dia sudah menyerahkan diri serta menerima Kristus sebagai juruselamatnya.

(Robert J.Morgan)

Ditetapkan untuk Mati, Tapi Hidup dan Bernyanyi

Gloria lahir dalam keadaan cacat. Kedua jari tangan kanan dan ketiga jari tangan kirinya tidak memiliki kuku. Demikian juga kakinya mengalami cacat serius. Kelima jari kaki kanannya tidak memiliki kuku dan bentuknya bulat, sedangkan telapak kaki kirinya hanya setengah bagian besarnya dan bentuknya bulat seperti kepalan tangan, tidak ada kuku dan tidak ada jari. 

Sejak kecil, Gloria tidak dapat memakai sepatu atau sandal. Pada waktu TK, Gloria harus memakai sepatu boot dan pada waktu SD, tidak ada sepatu yang cocok bagi kakinya yang cacat itu. Akhirnya Gloria menggunakan sepatu anak laki-laki yang tertutup dan memakai tali agar sepatu tersebut dapat menyangga dan menutupi kaki kirinya yang hanya setengah itu. Sepatu yang ia pakai adalah sepatu yang alasnya terbuat dari karet yang cukup tebal dan cukup berat untuk ukuran kakinya yang kecil. Gloria berjalan terpincang-pincang karena sepatunya yang berat. Terkadang ia mengalami kesakitan dan harus menyeret sepatunya. Pelajaran olah raga adalah pelajaran yang menakutkan bagi Gloria, karena ia harus berlari keliling lapangan dengan sepatunya yang berat itu. Ia merasa malu, gagal, dan tidak berdaya. Di sekolah ia merasa lain daripada teman-temannya. Gloria hanya dapat menangis dan menangis.

Gloria tumbuh menjadi anak yang pendiam, pemalu dan tertutup. Ia sangat minder dan tidak memiliki rasa percaya diri. Di masa kecilnya, Gloria tidak mengalami suatu masa yang indah seperti yang dialami oleh setiap anak. Ia mengalami suatu kegelisahan dan ia begitu ketakutan jika seseorang mendekatinya dan bersahabat dengannya, karena pikir Gloria orang itu akan mengejeknya. Karena perasaan itulah, untuk berbicara dengan orang lain ia tergagap-gagap, berkeringat, bingung, dan kehilangan semua kata-kata yang hendak diucapkannya. Hingga memasuki usia remaja, Gloria tidak memiliki teman yang mau menghabiskan waktu bersama dengannya, belajar bersamanya, dan untuk jalan-jalan. Pada saat teman-temannya bergembira di pesta ulang tahun yang ke-l7, Gloria tidak dapat menghadiri dan ikut berpesta dengan mereka. Gloria sangat kesepian dan semakin tenggelam dalam kesendiriannya.

Waktu terus berjalan dan Gloria tumbuh menjadi gadis dewasa tetapi tidak juga datang perubahan apapun pada dirinya. Gloria berteriak dalam kemarahannya, "Mengapa aku harus mengalami penderitaan seberat ini? Mengapa aku harus dilahirkan cacat seperti ini? Mengapa aku harus menderita seumur hidupku? Tidak bolehkah aku merasakan bahagia sedikit saja? Aku lahir dan tidak ada gunanya sama sekali, hanya menjadi beban bagi orang lain. Aku membenci diriku. Aku membenci semua yang ada padaku. Tidak ada yang baik di dalamku. Lalu untuk apa aku lahir? Lebih baik aku mati saja. Aku takut menghadapi hari esok"

Dalam keputusasaannya, Gloria berseru kepada Tuhan. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya berdoa, dan kepada Tuhan yang mana ia harus minta tolong. Sampai suatu hari, seorang teman mengajak Gloria ke gereja. Asing bagi Gloria untuk mengikuti ibadah di gereja. Tetapi Allah sedang mempersiapkan jalan bagi hidup Gloria. Di tengah ibadah, Allah menjamah hati Gloria. "Saya merasakan damai pada saat itu." Hari itu, bulan Maret 1986, Gloria menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi dalam hidupnya, dan dibaptis pada bulan Agustus 1986. "Saya memiliki kasih yang baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, kasih dari Tuhan Yesus Kristus. Saya menangis dan menangis, menyadari ada seseorang yang mengasihi saya dan yang menerima saya apa adanya. Saya merasa tidak sendirian. Dan Ia juga memiliki rencana yang terbaik bagi masa depan saya.

Kasih yang baru membuat ia merasa hidupnya yang hampa dipenuhi kembali oleh harapan-harapan atas janji Allah. Hatinya meluap dengan rasa cinta kepada Tuhan Yesus. Setiap saat dorongan untuk membaca Alkitab, berdoa, dan menyembah Tuhan sangat kuat ia rasakan. Namun, perjuangan Gloria belum berakhir. Mamanya menentang keras pada saat ia mengetahui Gloria telah menjadi seorang kristen. Sejak kecil, Gloria diajarkan untuk bersembahyang kepada patung. Karena tidak dapat menghentikan Gloria untuk ke gereja, mamanya mengancam, Gloria tidak boleh bersembahyang kepada papanya yang telah meninggal. Karena menurut kepercayaan mereka, salah satu cara menghormati orang yang sudah meninggal adalah dengan bersembahyang kepada fotonya. Dengan berbuat demikian, mama membuat Gloria merasa bahwa ia sudah tidak lagi menghormati kedua orang tuanya. Tetapi hal itu tidak membuat Gloria berhenti. Ia semakin dalam mengasihi Tuhan.

Waktu terus berjalan. Dua tahun setelah pertobatannya, Gloria menghadapi suatu kenyataan pahit yang selama ini tak diketahuinya. Suatu saat tantenya datang ke rumah. Dari mulut tantenya terkuak semua pertanyaan dalam benaknya yang selama ini tak terjawab. Tantenya bertanya pada Gloria, "Apakah kamu tahu, mengapa kamu lahir dan mengalami cacat tubuh seperti itu?" "Saya tahu. Mama bercerita pada saya bahwa pada waktu saya ada dalam kandungan mama, mama tidak sengaja memotong kaki ayam. Mama lupa bahwa hal itu tidak boleh dilakukan. Akhirnya saya lahir dan keadaan kaki seperti kaki ayam yang terpotong" jawab Gloria dengan tanpa rasa curiga. Namun entah dorongan apa yang ada dalam diri tantenya, sehingga tantenya kemudian menceritakan yang sebenarnya pada Gloria. Apa yang diceritakan oleh mamamu tidak benar. Itu hanya suatu kepercayaan orang pada zaman dulu. Sebenarnya mamamu baru menyadari bahwa dirinya akan memunyai seorang bayi lagi ketika kandungannya telah memasuki usia 3 bulan. Mama sangat terkejut dan bingung. Ia tidak menyangka bahwa ia akan memiliki seorang anak lagi, anak yang ke tujuh.

Mama berpikir akan diberi makan apa dan pendidikan yang bagaimana kepada anak ini jika ia lahir. Untuk menghidupi keenam anak yang sekarang ada saja sudah sangat sulit. Mama mengatakan pada waktu itu perasaannya begitu kacau, ia tak tahu dari mana akan mendapatkan seluruh biaya yang ia butuhkan -- biaya untuk membeli obat dan vitamin, makanan bergizi, biaya untuk melahirkan dan perawatan bayi. Ketakutan melanda pikiran dan perasaan mamamu. Mamamu bertekad untuk menggugurkan bayi yang ada dalam kandungannya. Segala usaha dilakukan, mulai dari minum jamu, obat-obatan sampai dengan cara dipijit. Tetapi semua gagal. Mamamu memikirkan cara lain yaitu dengan memberikan bayinya kepada orang lain jika ia lahir. Akhirnya bayi itu lahir. Begitu mengetahui bayinya mengalami cacat pada kedua tangan dan kaki yang serius -- hatinya hancur dan ia merasa bersalah, mengingat semua yang telah dilakukannya. Karena perasaan bersalahnya, mama kemudian memutuskan untuk memelihara sendiri bayi itu dan tidak diberikannya pada keluarga yang telah menyanggupi untuk mengambil bayinya itu."

Mendengar cerita itu, Gloria merasa seluruh dunianya runtuh. Tangisan, kemarahan, kesedihan, perasaan gelisah dan keputusasaan, semuanya bercampur jadi satu. Kenyataan pahit yang didengarnya itu seperti membuka kembali lembaran pahit yang dilaluinya selama ini. Penderitaan demi penderitaan yang dirasakannya, ejekan dan tertawaan orang-orang yang didengarnya setiap hari, dan semua pemberontakan pada mamanya. Kini Gloria menyadari dari mana kebencian pada mamanya berasal. Kebencian yang amat dalam yang tidak perah ia mengerti alasannya. Tidak pernah mama membedakan kami. Perlakuannya sama terhadap kami semua. Namun entah mengapa, saya sangat memberontak pada mama. Saya selalu menentang mama. Jika sesuatu yang saya minta tidak dituruti, saya akan sangat marah. Saya akan membanting pintu, menarik-narik rambut saya dan kepala saya bentur-benturkan ke tembok. Saya selalu mengomel untuk memuaskan kemarahan saya.

Kembali ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia harus mengampuni mamanya untuk semua yang mamanya perbuat terhadap dirinya. Gloria bergumul dan terus berjuang untuk mengampuni mamanya. Sampai suatu saat Gloria mengikuti retreat. Firman Allah yang diberitakan dengan jelas didengarnya seperti Allah sendiri berbicara bagi dirinya, "Aku sudah mengenal engkau sebelum engkau dibentuk dalam kandungan ibumu. Aku sudah menguduskan engkau sebelum engkau keluar dari kandungan ibumu. Engkau sangat berharga di mata-Ku dan mulia, Aku ini mengasihi engkau." Dan mulai saat itu, perlahan demi perlahan Gloria menerima kesembuhan atas semua luka-luka di hatinya. Setelah dipulihkan atas luka-luka batinnya, Gloria mendapat tawaran pekerjaan di sebuah kursus bahasa Inggris untuk anak-anak usia playgroup. Tanpa pikir panjang, Gloria menerima tawaran tersebut. Di sana Gloria bekerja sebagai guru bantu yang bertugas membantu guru utama untuk mendampingi anak-anak yang belajar. Tugas Gloria adalah membantu anak-anak yang tidak bisa memegang pensil, menghibur anak-anak yang menangis di kelas, atau menemani anak-anak yang mau ke kamar mandi.

Pada suatu saat, salah satu orang tua murid datang ke tempat kursus dan dengan marah ia menuntut kepada kepala sekolah untuk memberhentikan Gloria karena ia mengira Gloria terkena penyakit kusta. Ia takut penyakit itu akan menular kepadaa anak-anak di situ. Ia mengancam, jika Gloria tidak diberhentikan, ia dan beberapa orang tua murid yang lain akan mengeluarkan anak-anak mereka dari tempat kursus tersebut. Hari itu juga, Gloria dibawa diperiksa, dan dokter menyatakan bahwa itu bukan kusta. Masih tidak percaya dengan keterangan dokter, orang tua murid kembali menginginkan Gloria untuk diperiksa di laboratorium. Mendengar hal itu, Gloria sangat marah. Ia ingin melabrak orang itu. Namun ketika berpapasan muka dengan muka, Gloria tidak dapat mengelurkan sepatah kata pun untuk melampiaskan kemarahannya itu.

Gloria berpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya agar tempat kursus itu tidak dirugikan. Keesokan harinya, ia menghadap kepala sekolah dan menyampaikan niatnya. Mendengar hal itu, kepala sekolah berkata kepadanya, "Kalau kamu keluar dari tempat ini, itu berarti kamu menyetujui apa yang dituduhkan kepada kamu." Jawaban dari kepala sekolah membuat Gloria menyadari apa yang sedang diperjuangkannya. Gloria tetap bekerja di tempat kursus tersebut, meskipun setelah kejadian itu beberapa orang tua murid menarik anak-anaknya untuk tidak belajar di situ. Tetapi setelah kejadian itu, pendaftaran murid-murid baru semakin banyak, sehingga dibutuhkan guru untuk mengajar. Akhirnya, diangkatlah Gloria menjadi guru untuk mengajar dan tidak lagi menjadi guru bantu. Gloria mempergunakan kesempatan tersebut untuk menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada anak-anak pada 5 menit terakhir di setiap pelajaran yang diajarkannya. Sampai akhirnya, kepala sekolahnya memberi ijin untuk membuka sekolah minggu di tempat kursus itu.

Gloria kemudian mendapat tawaran untuk mengajar di SD. Selama 4 tahun mengajar di sana, ia menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada murid-murid. Hal ini kemudian diketahui oleh pihak sekolah dan kemudian Gloria diberhentikan. Gloria merasa sedih mengalami hal itu, tetapi ia percaya Tuhan yang membela hidupnya, Tuhan yang akan buka jalan sehingga Ia yang akan memberkati dengan berkali lipat. Beberapa bulan kemudian, Gloria mulai mendapat tawaran untuk mengajar anak-anak dari rumah ke rumah. Gloria juga memulai usaha membuat kue kering yang kemudian berkembang dengan pesat. Gloria pun memberi dirinya untuk mulai melayani Tuhan, bernyanyi bagi Tuhan untuk semua pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam hidupnya dan keluarganya.

(Irene Ralahalu)

Aku Tidak Percaya!

Ilustrasi
Ketika berumur 20 tahun, saya sudah bekerja di perusahaan bus di Bandung. Selain bertugas sebagai sopir, saya juga dipercaya untuk melakukan pembelian suku cadang dan untuk mengurus keuangan perusahaan. Melihat kerajinan dan ketekunan saya bekerja, bos saya berniat untuk menjodohkan saya dengan putrinya. Saya keberatan dengan perjodohan itu dan mengundurkan diri dari perusahaan. Tahun 1980, saya bertemu dengan seorang wanita pilihan saya sendiri dan menikahinya di Bandung. Setahun setelah menikah, kami membuka usaha bengkel dan menjual suku cadang sepeda motor.

Sebelum menikah saya berziarah ke tempat-tempat keramat, dan kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan saya. Hingga kami dikaruniai tiga orang anak, saya tetap setia mengunjungi guru-guru spiritual di Gunung Kawi agar cepat memperoleh kekayaan dan untuk mendapatkan jimat. Pengaruh jimat-jimat yang kami miliki di luar dugaan kami. Usaha kami berkembang demikian pesat. Banyaknya konsumen yang harus kami layani mengakibatkan kami tidak ada waktu lagi untuk anak-anak, bahkan untuk makan saja kami tidak sempat. Namun, ketika harta itu semakin melimpah, keadaan keluarga kami menjadi "panas" dengan keributan setiap hari. Tidak ada lagi komunikasi yang baik di antara kami.

Begitu sibuknya kami mengurus bisnis yang semakin besar, sampai kami lupa kepada "sang pemberi berkat". Kami lupa memberikan kewajiban dari perjanjian kami terhadap berhala-berhala yang ada di rumah kami, akibatnya anak kami yang pertama meninggal "diambil" berhala tersebut. Sekalipun kami menyadari bahwa anak kami telah menjadi tumbal, namun tidak pernah sedikit pun kami berniat untuk menjauhkan diri dari berhala itu, malahan kami tetap memeliharanya dengan baik. Akibatnya, keadaan keluarga semakin hari semakin berantakan. Puncaknya terjadi ketika kami akhirnya memutuskan untuk bercerai secara resmi di catatan sipil. Saya pergi dari rumah dan bekerja sebagai operator bioskop layar tancap. Adik saya yang memerhatikan keadaan itu, menghampiri saya, dan mengajak saya pergi ke gereja.

Baru saja saya menginjakkan kaki di halaman parkir gereja, Tuhan telah menjamah hati saya. Saya menyesali seluruh perbuatan-perbuatan jahat yang saya lakukan selama ini, dan di tempat parkir mobil itu saya menangis sejadi-jadinya. Saya merasa tidak layak masuk ke dalam tempat suci itu. Lalu setelah mengutarakan berbagai permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga saya kepada hamba Tuhan di gereja itu, hamba Tuhan itu menganjurkan agar saya dan istri saya bersatu lagi. Dengan dorongan dari hamba Tuhan itu, saya mencoba mendatangi istri dan anak-anak. Namun, dia tidak percaya bahwa saya sudah berubah. Menurutnya, perubahan itu terlalu cepat saya alami.

Saya belum berani untuk tinggal serumah dengan istri saya, bahkan saya diperlakukan sama seperti karyawan bengkel lainnya. Setiap pagi saya datang untuk bekerja bersama istri saya di bengkel dan sore harinya saya pulang ke rumah ayah saya. Sekalipun saya memunyai temperamen yang sangat keras, namun Tuhan melembutkan hati saya untuk mengalah dan semuanya itu saya lakukan demi keutuhan rumah tangga. Setiap kali ada kesempatan, saya meminta maaf kepada istri saya sambil mengatakan bahwa saya sudah berubah dan sudah bertobat. Di hari berikutnya, saya mengajaknya mengunjungi gereja untuk membuktikan bahwa saya sudah bertobat, namun setiap kali saya mengajaknya, ia selalu menolak. Beberapa bulan kemudian, hati saya semakin kasihan melihat anak-anak dan istri, maka saya mengatakan kepadanya bahwa saya sudah berubah, dan saya ingin rujuk untuk membangun rumah tangga dengan rukun.

Setelah berbulan-bulan, akhirnya Tuhan mendengar doa saya. Tahun 1991 istri saya bersedia pergi bersama saya ke gereja. Di sana Tuhan mulai melembutkan hatinya, dan pada kali yang ketiga ketika ia ikut bersama saya, dalam ibadah itu ia menerima Yesus sebagai Tuhannya. Setelah sama-sama dibaptis, Tuhan mempersatukan kami kembali.

(Sumber : Seorang pria yang tidak ingin namanya disebutkan - Majalah Suara)
 →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by Cerita Langit