Nyaris Jadi Korban 'Honor Killing'

Perempuan ini adalah keturunan Pakistan yang sudah lama tinggal di Eropa. Menghadapi pilihan sangat sulit, antara nyawa atau tradisi Islam konservatif, Ia pun terpaksa pindah keyakinan.

Masalah itu bermula saat Sabatina James masih berusia 15 tahun. Ketika itu, keluarga mereka tinggal di Kota Linz, Austria. Jauh dari desa di pegunungan Kashmir, Pakistan, tempat asal mereka.

Di Eropa, Sabatina muda amat menikmati kebebasan hidupnya. “T-shirt dan celana jeans. Lipstik dan eyeliner. Saya menikmatinya,” ujarnya. Namun, hal itu ternyata tidak sejalan dengan orangtuanya yang konservatif. Hampir setiap aktivitas yang Sabatina lakukan, menjadi sumber pertengkaran.

Tidak hanya pelajaran berenang, kelas akting pun dinilai ayahnya hanya untuk pelacur. Demikian juga penggunaan tampon dan pembalut wanita, yang menghebohkan keluarganya. Sang ibu mengatakan, tampon bisa merusak keperawanan.

Suatu hari, sang ibu menemukan buku harian Sabatina dan terungkaplah bahwa ia pernah mencium seorang anak laki-laki di taman, setelah sekolah. Tamparan keras pun melayang ke pipi Sabatina, sehingga ia terlempar ke dinding. Tak puas, kakinya ditendang. Ia pun disebut perempuan tunasusila.

“Bila anda perempuan muda yang sedang tumbuh dan Ibu memukuli anda, ini sangat merusak. Anda seperti tak punya jangkar,” keluhnya. Tidak hanya itu. Sabatina diminta untuk menikah dengan pria pilihan keluarganya. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, sang ibu saat seusianya juga sudah mengalami pernikahan.

Di keluarga seperti mereka, pernikahan merupakan sebuah kepastian bagi seorang anak perempuan. “Ayah tak selalu menjadi orang yang paling memaksa, bisa ibu yang paling memaksakan,”ujarnya.

Namun, Sabatina ternyata menolak. Hal inilah yang mengawali pertengkaran mereka selama tiga tahun berikutnya. Bagi keluarganya, pemberontakan Sabatina sebenarnya amat memalukan, terutama di kalangan warga Pakistan yang berada di Austria. Sabatina pun makin dipaksa untuk menikah, agar kehormatan keluarga tak ternodai.

Bahkan demi mendisiplinkannya, Sabatina disekolahkan di sebuah madrasah di Lahore, yang kondisinya amat buruk. Tiga bulan di tempat itu, ia tak tahan dan mogok makan hingga dikeluarkan. Tak lama berselang, ia setuju menikahi pria yang dipilihkan keluarganya. Hal itu dilakukan hanya agar ia bisa kembali ke Austria.

Orangtuanya sadar, Sabatina tak benar-benar ingin menikah. Sang ibu pun mengancam akan membunuhnya. “Kehormatan keluarga ini lebih penting ketimbang hidupku atau hidupmu,” ujarnya.

Itulah saat Sabatina menyadari nyawanya terancam. Ia kabur ke Linz, hidup di tempat penampungan dan kerja di kafe lokal. Namun, orangtuanya meneror dan terus muncul. Alhasil, Sabatina yang berusia 18 tahun, kehilangan pekerjaannya.

Dengan bantuan kawannya, ia akhirnya kabur ke Ibukota Wina dan memulai hidup baru. Tentu dengan mengganti identitas, bahkan agama yang dianutnya. Kini, sebagai seorang Katolik, Sabatina menuangkan perasaan dan pengalaman pedihnya dalam sebuah buku.

Pengadilan, untungnya, memihak pada Sabatina. Di Jerman, tempat tinggalnya saat ini, Ia mengelola sebuah yayasan yang dinamakan ‘Sabatina’. Mereka menampung atau memberi pekerjaan gadis-gadis yang mengalami nasib sepertinya dirinya.

“Saya mendobrak tradisi menikah atau mati. Saya jarang keluar sendirian. Kadang membayangkan ada orang yang mengawasi semua gerak-gerik. Saya selalu mencintai kebebasan ini, meski harus membayarnya dengan mahal,” tuturnya kepada Daily Beast.

Sabatina cukup beruntung. Banyak perempuan muda lainnya tak bernasib seperti ia. Mereka tewas dibunuh keluarganya sendiri. Membunuh demi kehormatan keluarga ini dikenal dengan istilah ‘honor killing’ dan marak terjadi di keluarga Islam konservatif.

(inilah)
←   →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by Cerita Langit