Kapel Kenaikan Yesus di Kompleks Masjid, Lambang Harmoni

Kamis (14/5) umat Kristen merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga. Situs yang dipercaya sebagai lokasi perpisahan para murid dengan Yesus setelah 40 hari bangkit dari kematian kini ada di kompleks Masjid At-Tur di puncak Bukit Zaitun, distrik Yerusalem Timur.

Kitab Kisah Para Rasul 1 menceritakan Yesus memberi pesan supaya 11 muridnya—Yudas Iskariot sudah mati gantung diri—tidak meninggalkan Yerusalem. Selama 40 hari setelah kebangkitannya, Yesus berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah (ay. 3). Namun, Para murid Yesus digambarkan masih belum memahami benar arti seluruh peristiwa yang mereka alami. Banyak dari mereka yang masih berharap bahwa Yesus akan memulihkan kerajaan Daud yang runtuh sejak dikalahkan oleh Kerajaan Babel (ay. 6).

Tetapi Yesus mempunyai misi lain yang bukan dari dunia. Ia berpesan kepada murid-muridnya: "... kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi"(ay. 8). Dan sesudah meninggalkan pesan itu, dicatat bahwa Yesus terangkat ke surga, sambil disaksikan oleh murid-muridnya. Peristiwa itu membuat mereka tercengang. Namun dua malaikat Tuhan menampakkan diri dan mengingatkan mereka akan pesan yang telah diberikan Yesus kepada mereka.

Setelah kejadian itu dan sepuluh hari kemudian saat pencurahan Roh Kudus—pada hari Pentakosta—para murid menjadi pekabar Injil yang penuh semangat. Mereka menceritakan kelegaan dari cengkeraman dosa saat mengenal Yesus Kristus.
Dalam Kisah Para Rasul 1:12 tertulis, “Lalu kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.” Ini mengindikasikan bahwa lokasi Yesus terangkat ke surga ada di Bukit Zaitun.


Ratu Helena
Setelah Ratu Helena—ibu dari Kaisar Romawi, Konstatinus—menjadi Kristen, ia terdorong untuk menelusuri jejak-jejak suci, berbagai tempat yang menjadi saksi pelayanan Yesus di dunia. Dibantu sejarawan Hieronimus dan Eusebius ia mencarinya, sekitar 326-328 Masehi.

Atas perintahnya dibangunlah Gereja Makam Kudus—Holy Sepulchre—menjadi saksi penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus di Yerusalem. Juga, Gereja Kelahiran Yesus Kristus (Church of Nativity) di Betlehem.

Untuk menandai tempat yang menjadi saksi kenaikan Yesus, Helena memutuskan memilih puncak Bukit Zaitun untuk didirikan kapel yang menandakan Kenaikan Yesus ke Surga. Kompleks pertama dibangun di situs kapel ini dikenal sebagaiImbomon (bahasa Yunani untuk "di atas bukit").

Itu adalah rotunda (bangunan berkubah), terbuka ke langit, dikelilingi oleh serambi bertiang melingkar dan lengkungan. Pada 390M, Poimenia, seorang wanita aristokrat Romawi kaya dan saleh dari keluarga kekaisaran membiayai penambahan gereja gaya Bizantium di lokasi konstruksi asli Helena.

Tempat kudus kedua di lokasi ini, juga dalam desain Bizantium, yang disebut "Eleona Basilica" (Elaion dalam bahasa Yunani berarti "kebun zaitun", dari Elaia "pohon zaitun," dan memiliki kesamaan sering disebutkan untuk Eleos berarti "belas kasihan"). Tempat ziarah ini dibangun di atas gua suci yang dipercaya sebagai tempat Yesus mengajarkan murid-muridnya untuk berdoa Bapa Kami. Gereja Pater Noster, dibangun di atas reruntuhan gereja abad ke-4 ini.

Namun, sebagian besar gereja ini dan struktur di sekitarnya hancur oleh tentara Persia Shah Khosrau II selama fase akhir dari Perang Bizantium-Sassanid pada 614M.

Rekonstruksi
Bangunan-bangunan ini kemudian dibangun kembali pada akhir abad ke-7. Para uskup dari Ordo Fransikan dan peziarah haji Arculf yang berziarah ke Yerusalem pada sekitar tahun 680, menjelaskan gereja ini sebagai "sebuah bangunan bundar terbuka ke langit, dengan tiga jalur masuk dari selatan. Delapan pelita bersinar terang di malam hari melalui jendela menghadap Yerusalem . Di dalamnya ada Edicule yang berisi jejak Kristus." Gereja yang direkonstruksi ini akhirnya hancur, dan dibangun kembali untuk kedua kalinya oleh Tentara Salib pada abad ke-12. Gereja akhir ini akhirnya dihancurkan oleh tentara Sultan Salahuddin (Saladin), hanya menyisakan kompleks luar berukuran 12x12 meter berdinding segi delapan sebagian utuh mengelilingi tempat ziarah berukuran 3x3 meter. Struktur ini masih berdiri saat ini.

Masjid At-Tur
Setelah kejatuhan Yerusalem pada 1187 gereja hancur dan biara ditinggalkan oleh orang-orang Kristen, yang bermukim di Acre. Saladin menjadikan Bukit Zaitun sebagai wakaf dipercayakan kepada dua syekh, al-Salih Wali al-Din dan Abu Hasan al-Hakari. Donasi ini terdaftar dalam dokumen tertanggal 20 Oktober 1188.

Saladin mengubah kapel menjadi masjid dan di dalamnya mihrab terpasang. Karena sebagian besar peziarah berziarah ke situs itu adalah orang-orang Kristen, sebagai isyarat kompromi dan kebajikan Saladin, ia memerintahkan pembangunan, dua tahun kemudian, sebuah masjid kedua terdekat untuk ibadah Muslim sementara Kristen terus mengunjungi kapel utama.

Juga sekitar waktu ini kompleks itu diperkaya dengan menara, dinding, dan dijaga oleh penjaga. Kapel dan struktur di sekitarnya sempat terabaikan dan rusak selama 300 tahun ke depan. Pada abad ke-15 bagian timur hancur dari dinding luar segi delapan dipisahkan dari yang lain oleh dinding pembatas dan diduduki oleh rumah-rumah petani dan kandang hewan. Meskipun masih di bawah kewenangan Wakaf Islam Yerusalem—di bawah Mufti Besar Yerusalem—di bawah Otoritas Palestina, masjid At-Tur saat ini dibuka untuk pengunjung dari semua agama dengan membayar jumlah tertentu.

Umat dari Gereja Kristen Ortodoks Yunani biasanya mengadakan kebaktian Kenaikan Yesus. Kebaktian dilakukan di lingkungan masjid di sekitar dan di dalam kapel. Menurut penanggalan mereka akan jatuh pada Kamis, 21 Mei 2015. 
Tidak jauh dari Kapel Kenaikan, biara dan gereja  Ortodoks Rusia dibangun pada 1870-1887. Itu salah satu proyek Tanah Suci yang berasal oleh Archimandrite Antonin Kapustin, sebagai bagian dari Rusia untuk memperluas kehadiran mereka di tanah dan kota Kudus.

Sebuah 64 M lonceng tinggi menara ini dirancang untuk melambangkan kenaikan ke surga. Itu bel Kristen pertama yang beroperasi di Yerusalem. (dbs)

Patung Yesus Sang Tunawisma Menyebar ke Seluruh Dunia



Patung selebar dua meter Yesus Sang Tunawisma di luar Katedral Gereja Kristus (Christ Church Cathedral) di Dublin telah didedikasikan dan diberkati oleh Uskup Agung Gereja Irlandia Michael Jackson dan Uskup Agung Katolik Roma di Dublin Diarmuid Martin. Patung ini telah dikirim kepada warga Dublin oleh dermawan anonim dari Amerika Utara. Dan sang pematung, Timothy Schmalz, terbang dari Kanada untuk membawanya.
Patung perunggu menggambarkan bangku taman dengan sosok berjubah tak berwajah berbaring di atasnya. Pejalan kaki yang lewat akan menyadari bahwa patung itu menggambarkan Yesus hanya ketika mereka melihat lubang di kaki. Patung ini terletak di depan Katedral sehingga dapat dilihat masyarakat.
Berbicara dalam ibadah singkat di katedral sebelum pembukaan tersebut, awal Mei lalu, Jackson mengatakan bahwa orang-orang dari Dublin merasa dihormati dan didera untuk menerima Patung Yesus Sang Tunawisma ini. Dihormati, kata dia, karena keindahannya dalam pembuatannya mempercantik Katedral Gereja Kristus. Dan, didera karena “fakta skandal karena sikap terhadap para tunawisma dan statistik tunawisma di Dublin pada tahun 2015 membuat patung ini sebagai pengingat dan peringatan.”
Uskup agung itu mengatakan bahwa Alkitab berbicara tentang Yesus berkata: “Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya.” Patung memberikan setiap orang yang lewat kesempatan untuk merefleksikan aspek ini dalam narasi agama Kristen, kelahiran, penyaliban, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus, katanya.
“Di seluruh dunia manusia saat ini mengalami penghinaan, menjadi tunawisma, diperdagangkan, dan tewas hanya karena hidup dan mendapatkan di bawah kulit ideologi penindas mereka,” kata Jackson.”Setiap hari bagi mereka adalah Jumat Agung. Mereka menunggu hari kebangkitan harapan dan ketakutan, kepercayaan dan pengkhianatan, dalam kegelapan dan cahaya. Tunawisma menarik kita ke dalam dunia mereka - dan memang; kita tidak berani meninggalkan mereka di sini atau di luar negeri. Abad ke-21 tidak lebih baik daripada abad ke-20. Yesus Sang Tunawisma adalah pengingat dari penderitaan dan teror mereka, apa pun kewarganegaraan atau keyakinan mereka—dan itu menjadi ikon solidaritas dengan mereka.”
Martin mengatakan bahwa bagi orang Kristen, tunawisma tidak hanya statistik. Penderitaan mereka adalah penderitaan kami, katanya. Ia menambahkan bahwa citra Yesus Sang Tunawisma mengingatkan kita pada tuntutan kepercayaan dalam Yesus Kristus. Dia mengatakan bahwa patung itu bukan hanya patung normal; itu tidak diciptakan untuk dilihat dan dikagumi, itu adalah gambar yang harus menarik sekilas pemirsa dengan banyak bangku-bangku taman, pintu dan sudut terlindung di mana Yesus berbaring sebagai tunawisma setiap hari dan setiap malam.
Patung Yesus Sang Tunawisma yang banyak dibicarakan itu telah dipasang di kota-kota di Amerika Utara, Kanada, dan Eropa. Yesus Sang Tunawisma pertama mendapat perhatian internasional pada awal 2014 ketika patung itu dipasang di luar Gereja Episkopal St Alban di pusat kota Davidson, North Carolina.
Setelah kompetisi di antara calon situs Dublin, Katedral Christ Church dipilih menjadi lokasi oleh pematung Schmalz. Ini bisa dikatakan Patung Sang Tunawisma pertama yang dipasang di luar Amerika Utara.
Pada 20 Mei nanti, Gereja First Presbyterian, Toronto, Kanada juga akan melakukan ibadah pemberkatan pada patung Yesus Sang Tunawisma yang terletak di pinggir jalan Jackson dan Rosalind.
(episcopaldigitalnetwork.com)

Remaja Ini 'Mati' 20 Menit, Mengaku Hidup Lagi setelah Disentuh Yesus

Seorang remaja asal Texas, Amerika Serikat bernama Zack Clements mengaku mengalami pengalaman spiritual menakjubkan. Zack yang masih berusia 17 tahun, mengaku diselamatkan dari kematian setelah disentuh Yesus.

Kisah Zack bermula ketika ia jantungnya berhenti berdetak selama 20 menit saat pelajaran olahraga di sekolah. Remaja yang dikenal bertubuh fit dan atletis itu bahkan dianggap sudah meninggal.

Saat petugas medis datang dan berhasil dan menemukan nadi Zack kembali berdenyut, maka ia segera diterbangkan ke rumah sakit. Ia baru tersadar setelah beberapa hari menjalani perawatan di ICU.

Para dokter tak bisa menjelaskan bagaimana Zack bisa hidup lagi. Namun, Zack menuturkan bahwa ia diatangi Yesus saat sedang “mati” karena jantungnya berhenti berdenyut. Zack menuturkan, saat itu Yesus mengucap segalanya akan baik-baik saja.

“Aku melihat pria dengan rambut panjang acak-acakan dan jenggot tebal. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengenali bahwa dia Yesus,” katanya.

Zack menambahkan, dirinya saat sedang “mati” itu lantas mendekat ke Yesus. “Dia meletakkan tangannya ke bahuku dan bilang padaku semuanya akan baik-baik saja dan tak usah khawatir,” kenangnya.

Keluarga Zack pun meyakini ada campur tangan ilahi sehingga seseorang yang sudah kehilangan detak jantung selama 20 menit bisa hidup lagi. Ayah Zack, Billy mengatakan, peristiwa yang dialami putranya memang sulit dijelaskan. “Ini bukan hal yang bisa dijelaskan secara manusiawi,” katanya.
Sedangkan ibunda Zack, Teresa mengaku senang putra kesayagannya masih hidup karena campur tangan Tuhan. “Aku sangat senang Dia (Yesus, red) memutuskan untuk membiaskan anakku kembali,” katanya.(mirror/ara/jpnn)

India: Pastor Dianiaya Ketika Berkhotbah

Pastor Arul dan Omkar dirawat di rumah sakit karena luka-luka
akibat penganiayaan. (Foto: dari VOM)
Voice of the Martyrs, kelompok yang membantu orang Kristen korban penganiayaan di seluruh dunia, baru-baru ini melaporkan bahwa lebih dari 30 ekstrimis Hindu menyerbu pertemuan komunitas gereja, Pastor Arul tengah menyampaikan khotbahnya.

"Mereka mulai memukuli wajah, kepala dan dadanya," kata VOM. "Omkar, pemimpin gereja lainnya yang mencoba menghentikan serangan itu, tetapi dia ditangkap."

"Meskipun konstitusi India memberi kebebasan beragama, serangan terhadap umat Kristen meningkat sejak tahun lalu di India. Kelompok nasionalis Hindu seperti Partai Bharatiya Janata (BJP), partai politik terbesar di India, dan Rashtriya Swayamesevak Sangh, sebuah organisasi nasionalis Hindu, merasa memeiliki lebih kebebasan untuk bertindak di bawah kepemimpinan BJP dan Perdana Menteri Narendra Modi,’’ seperti dilaporkan Mission Network News, yang dikutip Chriatian Examiner.

Para ekstremis menyeret dua orang Kristen keluar dari gedung, dan mereka meninju dan menendang mereka, di tempat yang hanya seperempat  mil dari kantor polisi, menurut VOM. Ada orang-orang Kristen itu dituduh "memaksa konversi (pindah agama)," yang dianggap oleh mereka sebagai kejahatan di sejumlah negara bagian India.

Itu adalah "kejahatan" yang belum lama berkembang. Omkar datang ke kota itu untuk mulai bekerja, bertemu Arul, dan sekitar 20 orang berkumpul pada hari Minggu, menurut VOM. Sebulan setelah gereja rumah dimulai, para pemimpin mendapatkan peringatkan.

Kemudian ekstrimis mulai menekan pemilik bangunan untuk mengusir warga gereja, VOM dilaporkan. Tidak terpengaruh oleh tekanan itu, dua orang itu terus memberi pelayanan kepada mereka sampai hari Minggu mereka dianiaya. Mereka dirawat di rumah sakit karena menderita luka-luka.

Lebih dari 1,25 miliar penduduk India dengan sekitar 79 persen dari populasi itu beragama Hindu. Penduduk lainnya, sekitar 15 persen menganut Islam, dan 2,5 persen Kristen, menurut sensus terakhir oleh pemerintah.

Di Pemakaman Andrew Chan, Dibacakan Kesaksian Imannya

Pada ibadah penghiburan sebelum pemakaman Andrew Chan—terpidana mati penyelundupan narkoba ke Indonesia—yang diadakan di Gereja Hillsong di Sydney, Jumat (8/5) pidato yang ditulis oleh Chan sendiri dibacakan:

“Terima kasih semua telah berkumpul di sini pada hari ini untuk menyaksikan sesuatu yang hebat. Ini adalah hari saat saya akan ‘bangkit’ dari peti mati saya sendiri, sekarang, seperti kata-kata yang diucapkan, dalam nama Yesus, ‘Bangkitlah’. Atau, saya menikmati kebangkitan itu di surga, dan saya akan menunggu untuk Anda semua di sana”
 ...
“Saat-saat terakhir saya di sini di bumi saya bernyanyi ‘Haleluya!’ Aku telah menyelesaikan perlombaan dengan baik. Saya mengakhiri pertandingan yang baik dan keluar sebagai pemenang di mata Allah dan manusia. Saya punya kisah sendiri, cerita yang ditentukan oleh Anda semua tentang bagaimana Anda menjadi saksi atas kehidupan saya. Tanyakan kepada diri sendiri: ‘Apa yang saya tinggalkan bersama dengan Anda?  Yang akan menentukan warisan saya.’”

Teks lengkap tulisan Chan ada di The Sydney Morning Herald.

Jenazah dua penyelundup narkoba ini, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Pemimpin kelompok “Bali Nine”, demikian mereka dijuluki, mendapat perhatian internasional karena bertobat kepada Allah selama dekade-panjang mereka dipenjara di LP Kerobokan, Bali.

Salah satu tahanan, Andrew Chan, belajar teologi dan ditahbiskan pada bulan Februari, hari setelah permohonan grasi itu ditolak.

Tepat sebelum eksekusi mereka, para tahanan menyanyikan “Amazing Grace,” kemudian “Bless the Lord, O My Soul.”

“Mereka memuji Allah,” kata pastor Karina de Vega kepada Sydney Morning Herald. “Itu menakjubkan. Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan orang yang begitu bersemangat untuk bertemu Allah mereka.”

Saat di penjara, Chan dan Myuran Sukumaran berkorespondensi dengan Brian Houston, pendeta dari Gereja Hillsong di Sydney. (Gereja internasional, salah satu dari 10 gereja paling berpengaruh abad ke-20, yang terkenal dengan musik, termasuk lagu-lagu seperti “Mighty to Save,” “God is Able,” dan “How Great is Our God”).

“Dari semua sudut, dua orang muda ini—saya memiliki hak istimewa besar bisa melakukan kontak pribadi beberapa bulan terakhir—tidak hanya menerima rahmat dan pengampunan Yesus Kristus, tetapi juga nama mereka telah direhabilitasi sehingga menjadi narapidana yang berkelakuan terhormat di penjara," tulis Houston sesaat sebelum eksekusi mereka. “Bahkan di penjara mereka telah membuat kontribusi positif bagi kehidupan tahanan lain, dan berusaha untuk membayar utang mereka kepada masyarakat. Saya telah memiliki kesenangan berbicara dengan Andrew Chan hampir setiap hari dan imannya dan kekuatan di bawah tekanan yang ekstrem. Itu telah mengilhami saya.”
Chan menjadi Kristen saat di sel isolasi.

“Itu tidak terjadi sampai saya berada di sel isolasi saya. Saat dalam sendiri, saya merasa perlu untuk berada di sisi kanan Allah,” katanya kepada Bible Society Australia. Setelah membaca Perjanjian Baru empat kali, “Saya berlutut dan menangis untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun,” katanya.

Ia melanjutkan:

“Tepat sebelum tanggal pengadilan saya (saat ia akan menerima vonis hukuman mati), saya ingat pernah membaca Markus 11: 23-24, di sana dikatakan bahwa jika Anda memiliki cukup iman Anda bisa mengatakan kepada gunung ini, ‘Pindah’ dan Tuhan akan melakukannya . Jadi aku berkata, ‘Tuhan jika Engkau nyata dan jika hal ini benar, saya ingin Engkau untuk membebaskan saya, dan jika Engkau melakukannya saya akan melayani Anda setiap hari selama sisa hidup saya.’ Saya pergi ke sidang pengadilan dan mereka menghukum saya dan memberi vonis hukuman mati. Ketika saya kembali ke sel, saya berkata, ‘Tuhan, saya memohon kepada-Mu untuk membebaskan saya, tidak membunuh saya.’ Tuhan berbicara kepada saya dan berkata, ‘Andrew, saya telah membebaskanmu dari dalam ke luar; Saya telah memberimu kehidupan!’ Sejak saat itu saya tidak berhenti menyembah-Nya. Saya tidak pernah menyanyikan lagu pujian sebelumnya, belum pernah memimpin ibadah, sampai Yesus membebaskan saya.”

Setelah pertobatannya, Chan belajar selama enam tahun untuk menjadi seorang pendeta. Dia mengajar kelas Alkitab, menjalankan sekolah memasak, dan tampil dalam sebuah film dokumenter anti-narkoba bagi siswa sekolah saat ia di penjara. Chan bertemu dengan seorang pastor Indonesia, Febyanti Herewila, dalam salah satu kunjungan rutinnya ke penjara. Dia menikahinya kurang dari dua hari sebelum ia meninggal.

Baptist News Global memprofilkan beberapa misionaris yang bekerja dengan Sukumaran dan lain-lain pada program seni penjara. “Selama waktu saya kenal mereka, saya telah melihat dua pemuda menemukan harapan dan penyembuhan melalui apa yang mereka lakukan dalam membuat seni dan berbagi keahlian mereka dengan narapidana lainnya,” kata Tina Bailey. “Mereka adalah pemimpin dengan pengaruh indah dan positif.”

Empat tahun yang lalu, Chan mengatakan kepada Morning Herald bagaimana rasanya menghadapi kematian.

“Saya tidak benar-benar takut itu, kematian,” katanya. “Bahkan jika saya meninggal, saya masih akan memiliki kehidupan di surga dan jelas akan menjadi selamanya.”

(christianitytoday.com)

Ratusan Orang Samaria Rayakan Paskah di Gunung Gerizim Israel

Ratusan anggota komunitas Samaria bersama-sama dengan para tamu (orang Israel maupun Palestina) berkumpul di Gunung Gerizim dekat Nablus, pada Sabtu malam (2/5), untuk merayakan hari raya Paskah.
Mereka yang hadir mengenakan jubah putih tradisional dengan penutup kepala merah. Mereka  mendengarkan Imam orang Samaria  membaca perintah Allah yang berisi permintaan kepada bangsa Israel untuk mempersembahkan korban. Dan setelah perintah tersebut dibacakan, 50 ekor domba pun dijadikan korban, satu untuk mewakili setiap keluarga.

Menurut ynetnews.com yang melaporkan peristiwa ini, kelompok etnoreligius Samaria menyandang nama itu ketika anggotanya diasingkan ke daerah Samaria oleh Raja Asyur, Sanherib, di hari-hari terakhir era Bait Allah yang pertama, yang dibangun oleh Raja Salomo. Menurut tradisi Samaria, upacara pengorbanan semacam ini telah dilakukan oleh nenek moyang mereka dalam 3.600 tahun terakhir.

Domba yang disembelih dikuliti setelah dikorbankan, dengan membuang bagian-bagian yang terlarang untuk dikonsumsi. Korban itu kemudian dibakar di atas api mezbah. Kemudian, daging domba yang ditusuk dan dimasak dalam oven di atas tanah. Ketika daging panggang itu sudah matang, setiap keluarga berkumpul di rumah mereka masing-masingi untuk melakukan mitzvah makan korban Paskah.

Komunitas  Samaria di Israel terdiri dari sekitar 800 anggota. Setengah dari mereka hidup di Gunung Gerizim dan setengah lainnya di Holon, di pinggiran Tel Aviv.

Orang-orang Samaria menganut Samaritanisme, agama Abraham yang memiliki hubungan dekat dengan Yudaisme. Mereka hanya mematuhi apa yang tertulis dalam Alkitab, dan menganggap ibadah mereka lah agama yang benar yang diwariskan oleh bangsa Israel kuno.

Kepala Dewan Daerah Samaria, Gershon Mesika, menghadiri upacara tersebut.

 "Kami bisa menunjukkan rasa hormat kami kepada kelompok Samaria, yang merupakan bagian dari Negara Israel," katanya. "Selama bertahun-tahun kami sudah bekerja sama penuh antara Samaria dan dewan daerah. Baik pada hari biasa, hari perayaan dan hari berkabung."

Di kalangan umat Kristen sebutan Orang Samaria sangat populer lewat perumpamaan yang diceritakan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Kaum Samaria yang dalam tradisi Yahudi dikenal bukan masyarakat terpandang dan kerap juga dicap tidak saleh, dalam perumpaan yang dikisahkan Yesus justru menunjukkan belas kasih tatkala melihat ada orang yang terluka di pinggir jalan. Ia menolongnya bahkan membawanya ke rumah penginapan serta menitipkan uang kepada pemilik penginapan itu agar merawat korban sampai sembuh.

Dalam perumpamaan itu, orang Samaria dikontraskan dengan orang Lewi yang justru dalam ritual ibadah selalu menjadi panutan dan didengarkan. Tetapi dalam perumpamaan Yesus, orang Lewi tersebut terkesan tidak memiliki belas kasih, karena ia melewati begitu saja korban yang jatuh di tengah jalan, dan tidak menolongnya.

(Satuharapan.com)

Manny Pacquiao: Saya Bertinju untuk Menyenangkan Hati Tuhan


Tinggal hitungan beberapa jam lagi untuk tiba pada pertandingan tinju yang paling dinanti dunia saat ini dan tiada habis-habisnya kisah tentang dua petarung, Floyd Mayweather Jr. dan Manny Pacquiao diulas. Yang disebut terakhir ini, tampak lebih istimewa, mengingat dirinya yang kurang diunggulkan, namun memiliki latar belakang profesi yang unik dan sangat populer..

Pacquiao, petinju Filipina yang merupakan ayah dari lima orang anak, adalah juga seorang penginjil. Setiap hari ia mengutip ayat-ayat Alkitab dan membagikannya kepada jutaan penggemarnya. Muncul pertanyaan, bila tinju selama ini dianggap olah raga keras dan kemenangan antara lain ditentukan dengan seberapa kuat seseorang menyakiti lawan, bagaimana Pacquiao, seorang evangelis yang menganjurkan kasih, harus bisa menyakiti lawan demi memenangi pertandingan.

Kepada The Christian Post, Pacquiao mengatakan pertandingan melawan Mayweather yang oleh sejumlah kalangan digambarkan sebagai Pertandingan Abad Ini, baginya lebih dari sekadar untuk menaklukkan lawan yang memiliki reputasi hebat di dunia tinju.

"Saya ingin menyenangkan Tuhan, keluarga dan penggemar saya dengan pertandingan ini," kata dia. "Saya ingin mereka tahu saya bertarung untuk Tuhan dan untuk negara, membawa kehormatan dan kemuliaan bagi mereka," lanjutnya

Pertarungan Mayweather vs Pacquiao akan berlangsung di MGM Grand Garden, Las Vegas, Sabtu (2/5) malam waktu setempat atau Minggu 3 Mei pukul 12:00 WIB. Sebagian besar pengamat mengunggulkan Mayweather, yang berjulukan Pretty Boy. Rekor pria berusia 38 tahun ini mencorong, belum pernah terkalahkan sepanjang 18 tahun karier profesionalnya. Sementara Pacquiao, kendati melegenda sebagai petarung yang tahan pukul pernah kalah dari Timothy Bradley pada Juni tahun 2012 dan kalah KO dari   Juan Manuel Marquez pada Desember 2012.

Kendati sebagai underdog, Pacquiao memiliki catatan menonjol dari kemampuannya untuk bangkit dari kekalahan. Timothy Bradley yang pernah menaklukkannya, ia kalahkan lagi pada 12 April 2014 lalu. Gaya bertinjunya yang agresif dan tidak kenal mundur, membuatnya meraih simpati.
Dikenal sebagai penginjil yang vokal, Pacquiao mengatakan ia berlatih dengan sangat disiplin untuk pertandingan kali ini. Ia menambahkan dirinya kini siap secara mental dan rohani untuk mengalahkan lawannya.

"Saya siapkan mental yang sama seperti yang saya lakukan dengan semua pertarungan saya yang lain," kata Pacquiao. "Saya pikir saya berlatih untuk laga ini dengan lebih fokus sedikit. Secara rohani, saya berdoa untuk diri saya sendiri dan juga untuk lawan saya."

Pria berusia 36 tahun ini mengatakan bahwa dia tidak ingin mengecewakan para penggemarnya, dan mempertahankan gaya hidup disiplin untuk menjadi panutan bagi orang lain.

Kendati demikian, Pacquiao mengaku bahwa ia tidak selalu dapat menjadi contoh masyarakat.
"Saya menyadari  dosa menggiring saya ke arah yang salah, tidak hanya dalam hidup ini, tapi selamanya," akunya. "Saya menyadari saya memiliki kebutuhan. Saya tiba pada titik di mana saya menyadari kebutuhan itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Saya menaruh iman dan kepercayaan dalam Tuhan Yesus Kristus."
 
"Saya suka bertinju, tapi saya sadar sekarang bahwa hidup saya bukan hanya tinju."

 "Saya hanya ingin mendorong semua orang Kristen untuk berbagi pengalaman keselamatan mereka kepada orang lain. Saya berpikir bahwa kita bisa memberi dampak  di dunia ini."

"Saya belum yakin apakah akan pensiun pada tahun 2016, namun warisan yang saya ingin tinggalkan adalah menjadi panutan dan inspirasi, tidak hanya bagi penggemar tinju, tetapi untuk semua orang di seluruh dunia."

(satuharapan.com)

Ratusan Kristen Nepal Meninggal Sewaktu Beribadah

Ratusan umat Kristen Nepal yang sedang beribadah meninggal tertimpa reruntuhan gereja mereka yang roboh saat gempa berkekuatan 7,8 skala richter di Nepal, Sabtu lalu (25/4). Jemaat Kristen Nepal terbiasa beribadah pada hari Sabtu karena merupakan hari libur, sedangkan hari Minggu di Nepal adalah hari kerja. Ibadah di gereja Nepal umumnya berlangsung sampai pukul 12:30 siang, itu berarti sebagian besar umat Kristen masih berada di gereja tatkala gempa terjadi pada pukul 11:56.
“Banyak orang Kristen terkubur ketika mereka beribadah di hari Sabat dan meninggal,” kata Presiden Gereja Advent Hari Ketujuh Nepal, Umesh Pokharel, seperti ditulis Christianity Today (CT). Media CT juga mengutip pernyataan pekerja gereja  Brethren in Christ yang mengatakan, “Beberapa orang melaporkan 100 orang beriman di sebuah gereja di Kathmandu yang tengah beribadah di lantai tujuh sebuah bangunan yang disewa yang kemudian roboh sepenuhnya, dan 40 jenazah telah dikeluarkan sementara yang lainnya masih hilang.”
Sekitar 80 orang meninggal ketika Evalengical Church, di Kapan, di luar kota Kathmandu, rubuh. Sedangan 17 jenazah ditemukan di balik puing-puing gereja sebuah desa. Pendeta gereja itu dilaporkan kehilangan tiga anggota keluarganya dalam tragedi ini.
Assemblis of God World Mission (AGWM) melaporkan tiga gereja mereka rusak parah dan beberapa umat mereka kehilangan nyawa.
Gereja Kristus Nepal di Kathmandu tengah melayankan ibadah ketika gempa melanda, setidaknya lima keluarga kehilangan tempat tinggal dan melukai satu anggota.
Gereja lain di Kathmandu terlewat dari bencana gempa. “Sepuluh menit sebelum terjadi gempa, semua orang masih berada di dalamnya, bila terjadi demikian pasti akan banyak yang terluka, bahkan kematian,” kata Direktur Asia Selatan, lembaga Christian Aid. Secara keseluruhan diperkirakan ada 500 orang Kristen yang meninggal akibat gempa ini.
Jumlah korban meninggal dalam bencana gempa dahsyat di Nepal pekan lalu melonjak menjadi 6.204, menurut laporan terbaru Pusat Operasi Darurat Nasional pada Jumat (1/5). Sementara itu, 13.932 orang lainnya terluka akibat gempa 7,8 skala richter yang mengguncang Nepal pada Sabtu pekan lalu, ungkap pusat darurat tersebut. (satuharapan.com)

Belajar Bahasa Ibrani dari Seorang Muslimah

Pertama kali saya datang menemui Wiwin Triwinarti pada awal tahun 2014 silam, saya terkejut ketika seorang perempuan berjilbab yang muncul di hadapan saya. Saya sengaja datang ke Depok untuk bertemu Wiwin Triwinarti karena saya mencari guru Bahasa Ibrani. Saya tidak mengira saya akan bertemu dengan seorang Muslimah.
Saat itu saya menanyakan kesediaannya untuk memberikan kursus Bahasa Ibrani bagi beberapa orang yang berminat belajar Bahasa Ibrani yang dikenal di kalangan Kristen sebagai bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Karena keterbatasan waktunya, kursus Bahasa Ibrani itu gagal terwujud.
Pada pertemuan pertama kami yang berlangsung singkat itu, saya menanyakan mengapa Bahasa Ibrani diajarkan di Program Studi Arab. Wiwin menjawab, “Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab itu satu rumpun.”
“Apakah Bahasa Ibrani bisa disebut sebagai bahasa tertua di dunia?” saya bertanya. “Ya, Bible (Alkitab) klasik. Lebih tua dari Arab yang jelas,” jelasnya sembari mengangguk-angguk. Dari sejarahnya, Bahasa Ibrani dan Arab beserta Aramaik termasuk dalam rumpun Semit. Semit berasal dari kata Sem, anak Nabi Nuh yang selamat dari air bah yang menjadi cikal bakal nenek moyang bangsa-bangsa itu.
Pertemuan kedua kami berlangsung pada sebuah tengah hari di kala hujan lebat mengguyur Depok, awal Januari 2015. Berkerudung warna moka, perempuan kelahiran Bandung, 13 April lima puluh dua tahun silam ini terlihat ceria dan enerjik. Senyum lebar tersungging di wajahnya yang berkacamata. Siang itu ia baru selesai memberikan tutorial Bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing. Sudah 12 tahun Wiwin Triwinarti, M.A mengajar Bahasa Ibrani Dasar di Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univesitas Indonesia. Gelar M.A diperolehnya pada tahun 1998 dari Program Magister Linguistik Australian National University (ANU) di Canberra, Australia.
Wiwin menjadi pengajar Bahasa Ibrani Dasar secara tidak sengaja. Setelah ia lulus S-1 Bahasa Arab, ia diminta oleh Ketua Jurusan saat itu (Ramli Harun) untuk mendampingi Profesor Ihromi, dosen Bahasa Ibrani di UI. Kebetulan pendamping Profesor Ihromi yakni Amin Subarkah sedang mengambil S-2 di Jogyakarta. Karena menyukai linguistik, Wiwin pun mencoba mendalami Bahasa Ibrani dengan cara mendengar Profesor Ihromi mengajar mahasiswa. Di rumah pun, ia mendengar kaset-kaset rekaman Bahasa Ibrani. Ia baru benar-benar lepas dari Profesor Ihromi setelah belajar mengajar selama dua tahun. Profesor Ihromi kala itu berstatus sebagai dosen tamu di UI. Sehari-hari Profesor Ihromi adalah dosen Bahasa Ibrani Alkitab dan juga pernah menjadi Rektor Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.
Wiwin sempat mengenang bagaimana sulitnya ia belajar dari Profesor Ihromi karena contoh kata, struktur dan tata kalimat yang digunakan masa itu diambil dari buku berbahasa Ibrani tertua. Maklum, Profesor Ihromi adalah orang Indonesia pertama yang mendapat gelar doktor Bahasa Ibrani Perjanjian Lama dari Amerika Serikat.
“Ketika (Profesor Ihromi) mengajar di sini, sama sekali tidak menyinggung agama,” tegas Wiwin. Wiwin terlihat sangat percaya diri pada profesinya sebagai pengajar Bahasa Ibrani meski tinggal di Indonesia yang mayoritas Muslim. Ia mengaku tidak mengalami hambatan dari keluarga dan teman-teman. Bahkan mahasiswanya pun sudah sangat terbuka pemikiran dan wawasannya sehingga tidak ragu untuk memilih mata kuliah Bahasa Ibrani Dasar.
Wiwin menjelaskan pengajaran Bahasa Ibrani sudah ada sejak Wiwin berkuliah di Program Studi Arab. Awalnya ini menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa Program Studi Arab. Namun sejak tahun 2011, Bahasa Ibrani Dasar hanya mata kuliah tambahan yang bebas diambil oleh mahasiswa Program Studi Arab dan program studi lain. Tak heran kelas Bahasa Ibrani Dasar pada tiap semester diikuti oleh mahasiswa berbagai jurusan. Pada semester lalu, Wiwin mengajar dua kelas masing-masing memiliki murid 29 dan 24 orang – ada yang muslim dan ada yang non-muslim.
Wiwin mengatakan mahasiswa dari luar Program Studi Arab maupun fakultas lainnya juga berminat mengambil Bahasa Ibrani Dasar karena dianggap berguna untuk bidang ilmu yang sedang mereka pelajari. Misalnya untuk Ilmu Arkeologi, beberapa penemuan artefak kuno yang bertuliskan Bahasa Ibrani. Untuk mahasiswa Ilmu Perpustakaan, Bahasa Ibrani akan sangat berguna untuk membaca dan pengarsipan naskah-naskah tua yang ditulis dalam Bahasa Ibrani. Mahasiswa Wiwin semester lalu berasal dari jurusan Hukum, Fisika, Psikologi, Ekonomi, Ilmu Komunikasi dan Ilmu Komputer.
Bagi para mahasiswa kelas Bahasa Ibrani Dasar, mata kuliah ini sangat sulit. Tetapi Dosen Wiwin dinilai piawai dan sabar dalam mengajar sehingga mahasiswa senang mengikuti kelas ini. Kesukaran Bahasa Ibrani menurut Wiwin adalah pada vokalnya yang berjumlah 12, konsonan 22.
“Ada vokal panjang, vokal pendek dan vokal pendek yang lebih pendek.”
Kesulitan semakin bertambah karena vokal umumnya tidak ditulis sehingga orang yang mau berbahasa Ibrani harus mengingat setiap kata dan tata cara penulisan karena berubah-ubah. Wiwin mencontohkan kata “bait” yang berarti rumah, dapat berubah menjadi “bet” ketika bertemu dengan kata lain. Contoh lain sebuah kalimat “mahasiswa universitas itu” dan “mahasiswa-mahasiswa univertas itu”, maka dalam Bahasa Ibrani penulisan dan bunyinya berubah.
Wiwin mengakui belajar Bahasa Ibrani itu susah namun sangat unik. Bahkan Wiwin menilai perubahan vokal dalam kalimat yang luar biasa itulah yang menjadikan bahasa ini unik.  Menurut Wiwin, meski ia dapat membaca aksara Ibrani, namun hanya ketika ada vokalnya saja.
“Itu sangat menantang. Saya yakin mereka itu (pengguna Bahasa Ibrani) pintar-pintar karena ingatannya sangat kuat,” kesimpulan Wiwin. Namun bagi yang bisa berbahasa Arab, cukup mudah untuk belajar Bahasa Ibrani karena Bahasa Ibrani juga mengenal perubahan tunggal-jamak feminin-maskulin untuk bentuk nomina, juga perubahan bentuk verba berdasarkan pelakunya.
Selain itu, sebagaimana bahasa Arab penulisannya   juga dilakukan dari kanan ke kiri. Tetapi, bentuk aksara, sangat berbeda dengan Bahasa Arab. Kedekatan Bahasa Ibrani dengan Bahasa Arab dicontohkan Wiwin dengan kata: talmid (mahasiswa/murid pria-Ibrani) dan tilmidz (mahasiswa/murid pria-Arab).
Meski bergelut dengan Bahasa Ibrani, Wiwin mengaku tidak menggali lebih jauh tentang budaya dan orang-orang pengguna Bahasa Ibrani.
Saya bertanya, apakah ia ingin ke Israel, negara pengguna Bahasa Ibrani?  Dengan lugas, Wiwin menjawab “Ya, saya ingin tahu situasinya, bagaimana belajar Bahasa Ibrani ke negaranya sendiri.”
Dari selasar di depan ruang kerjanya, kami berpindah ke meja kerja Wiwin yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas. Beberapa buku ajar Bahasa Ibrani ada di sana. Semua buku diupayakan sendiri oleh Wiwin. Tak sungkan-sungkan, Wiwin mengaku meminta buku ajar Bahasa Ibrani dari rekannya yang berkebangsaan Belanda. Sebuah buku yakni Bahasa Ibrani dengan terjemahan Bahasa Arab diberikan oleh muridnya ketika berlibur ke Mesir. Sedangkan Profesor Ihromi mewariskan dua buah buku ajar yang masih digunakan Wiwin hingga sekarang. Wiwin mengatakan sangat membutuhkan bahan ajar yang memadai. Ia berharap ada bantuan buku-buku yang sangat sulit didapatkan di Indonesia.
Wiwin adalah ibu dari dua orang putra berusia remaja. Foto Fadli Fikriawan Wibowo dan Gilang Novrizal Wibowo beserta sang suami Indiarto Wibowo terpajang bersama foto diri Wiwin ketika belum berjilbab di jendela meja kerjanya. “Ah, itu foto saya untuk ijazah sarjana.”
Wiwin mengaku pernah bercita-cita menjadi guru TK ketika ia masih kecil. Namun, Tuhan Yang Maha Kuasa membawanya menjadi salah seorang pengajar Bahasa Ibrani yang cuma dikuasai segelintir orang Indonesia. Bahkan, orang Kristen yang notabene membaca Alkitab Perjanjian Lama umumnya tidak dapat membaca dalam Bahasa Ibrani, bahasa aslinya. Karena itu ketika berkenalan dengan orang-orang yang beragama Kristen, Wiwin biasanya memberitahukan profesinya dan mengajak kalangan Kristen untuk menekuni Bahasa Ibrani. “Umat Kristen bisa menggali Bible (Alkitab) lebih dalam karena tahu arti dalam bahasa aslinya.”
Tak terasa sudah  dua jam kami berbincang. Hujan di luar sudah berhenti, memudahkan Wiwin, si penyuka alam ini untuk bergegas pulang ke rumahnya di Sawangan.
“Perbedaan itu jangan dijauhi, justru kita harus pelajari untuk memahami, ujarnya sambil tersenyum.” Mendengar kalimat itu, mendadak langit kelabu di atas kepala kami terasa secerah mentari.
Penulis: 

Amazing Graze” Iringi Langkah 8 Narapidana ke Tempat Eksekusi

Lagu Amazing Grace membahana ditengah malam, penyanyinya adalah delapan terpidana mati kasus narkoba yang berjalan dengan kepala tegak menuju tanah lapang tempat mereka dieksekusi mati. Kejadian mengharukan tersebut disaksikan oleh para rohaniawan yang turut mendampingi narapidana yang dihukum mati di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah, Rabu (29/4).
Ke delapan narapidana tersebut bersama-sama menyanyikan lagu “Amazing Grace”, lagu terdengar lagu “Bless the Lord O My Soul” sebelum suara nyanyian mereka berakhir oleh suara tembakan senjata.
“Ketika mereka dibawa keluar ke tiang kayu untuk dieksekusi, mereka terus menyanyi. Kami menunggu di tenda tidak jauh dari situ dan mencoba memberi dukungan moral kepada mereka,” kata rohaniwan terpidana mati asal Brasil Rodrigo Gularte, Pater Charlie Burrows, seperti dikutip dari Sidney Morning Herald, Rabu (29/4)
“Semua orang melihat ke depan. Tampaknya, mereka menerima nasibnya,” Pater Charlie menambahkan.
Seorang pendeta yang hadir di lokasi eksekusi, Karina de Vega mengatakan suara nyanyian delapan narapidana membahana di udara. “Mereka memuji Tuhan mereka masing-masing,” kata dia. Pendeta Vega mengaku takjub melihat pemandangan mengharukan tersebut, ini adalah pengalamannya pertama kali menyaksikan orang yang begitu bersemangat untuk bertemu Tuhan.
“Mereka terikat bersama seperti persaudaraan. Mereka menyanyikan lagu satu demi satu untuk memuji Tuhan. Seperti dalam paduan suara, mereka menyayikan lagu itu bersama-sama, bahkan yang tidak beragama Kristen, saya percaya mereka juga ikut bernyanyi dalam hati,” Pendeta Vega menambahkan.
Kedelapan terpidana itu dilaporkan meninggal dengan cepat. Fairfax Media mengatakan, kedelapan orang itu, termasuk dua warga Australia, meninggal seketika setelah ditembak di jantung. Dengan demikian, komandan regu tembak tidak harus menembak mereka di kepala. Skenario itu akan terjadi jika para narapidana tidak meninggal setelah 10 menit. (satuharapan.com)

Kunjungan Muslim Afganistan ke Grha Oikoumene

Hari ini di Grha Oikoumene, kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menerima kunjungan delegasi Muslim Afghanistan dalam lawatannya ke Indonesia, pada Kamis (30/4).  Delegasi yang berkunjung ke Indonesia atas dukungan Asia Foundation berdialog dengan PGI tentang bagaimana hubungan antaragama di Indonesia.
Ketua Umum PGI Pendeta Henriette Lebang yang didampingi oleh Pendeta Penrad Siagian Sekretaris Eksekutif Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan dan Trisno Sutanto Koordinator Peneliti Biro Penelitian dan Komunikasi (Litkom PGI), menerima delegasi dan menjelaskan PGI sebagai sebuah lembaga Kristen antar denominasi yang juga menjalin komunikasi dan kerja sama dengan agama lain di Indonesia untuk bersama-sama menumbuhkan spiritualitas dan saling menghargai.
Delegasi Muslim Afghanistan mengapresiasi gereja-gereja di Indonesia dan menceritakan kisah Nabi Umar saat di Palestina, Nabi Umar memerintahkan agar tidak merusak rumah ibadah agama Kristen dan tidak mengganggu umat beragama Kristen.
Perwakilan delegasi juga menegaskan bahwa Islam dan kristen adalah agama dengan satu Allah dan agama dengan satu kitab, karena itu umat Islam dan Kristen harus saling menghargai.
Lawatan delegasi Muslim Afganistan, adalah bagian dari program rutin kunjungan yang digagas lembaga Asia Foundation dan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) untuk belajar demokrasi, toleransi, keberagaman dan Hak Asasi Manusia (HAM). Indonesia menjadi tempat yang selalu dikunjungi sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, selain PGI mereka juga berkunjung ke lembaga Setara, Wahid Institute dan juga CSCR.
Seusai kunjungan, Pendeta Henriette merasa cukup terharu dengan pertemuan tersebut, dan mengatakan pertemuan seperti ini membuatnya seperti bertemu dengan salah seorang saudara yang berasal dari negara jauh.
(pgi.or.id)

Cara Ampuh Agar Jemaat Tak Gunakan Smart Phone Di Gereja

Add caption
Merasa terganggung dengan bunyi ponsel jemaat yang kerap berdering selama ibadah, seorang Imam Katolik mencari cara yang memungkinkan jemaat tak lagi memainkan telepon pintar mereka selama ibadah. 

Pastor Michele Madonna, yang melayani di  gereja Santa Maria di Montesanto, Kota Naples, Italia bagian selatan ini akhirnya menemukan cara ampuh agar jemaat tak lagi menggunakan telepon mereka di gereja, apalagi selama ibadah berlangsung.  Michele pun membeli alat yang disebut Jammer di sebuah toko listrik.  Alat ini berfungsi untuk mengacaukan sinyal telephon seluler.  Di beberapa situs online alat ini dibandrol mulai $40, sampai dengan $454.28, tergantung spesifikasi dan kelebihannya.

Sebelum menggunakan alat ini Pastor Michele terlebih dahulu berkonsultasi dengan pihak kepolisian setempat, dan petugas pun mengijikan jammer dipasang di gereja.  Alat ini terbukti ampuh membuat jemaat tak lagi memainkan hand phone atau smart phone mereka selama ibadah.  Pastor Michele terpaksa memasang alat ini lantaran jemaat tak mau mengindahkan tanda yang meminta mereka mematikan ponsel agar tak mengganggu layanan ibadah.  Jemaat hanya mau mematikan telepon ketika mengikuti acara pemakaman, terang Pastor Michele, seperti dirilis Daily Mail. Menurut Michele, ini dilakukan agar jemaat dapat lebih khusuk beribadah

Seorang Anak Berkata, "Raja Datang"


Lily, seorang anak batita yang sedang bermain bersama ibunya tiba-tiba mengatakan sesuatu. Inilah penjelasan sang ibu Chelsea :
Pada suatu tengah malam (beberapa jam sebelum video ini direkam), Lily terjaga dari tidurnya, mengetuk dan berbicara di pintunya. Dia berkata, seperti sangat mendesak, "Sesuatu datang! Sesuatu datang!" Sepertinya dia menjelaskan mimpinya dengan rumit. Saya berusaha untuk merekamnya dengan video.
Setelah 18 detik saya merekamnya dan saya tanya, "apa yang datang?" Lily berkata, "Seorang Raja". Itu juga seperti terdengar "Bapa di Atas, mendorongmu ke atas", dan "Bergabunglah dengan Bapa di atas" untuk beberapa kali. Saya tidak berharap Anda berpikir saya mereka-reka hal ini. Jujur, saya tidak pernah mengajarkannya akan hal ini. Di akhir perkataanya, Lily seolah membungkuk sebanyak tiga kali seperti sedang memberi hormat kepada Raja yang disebutnya itu.
Di hari berikutnya, setelah Lily mendapatkan sarapan paginya, dia berkata lagi, "Mama, bukalah, karena Tuhan sedang datang!" dan dia kembali mengetuk ke tembok sebanyak 3 kali.
Lily baru saja berumur 2 tahun, dan tidak memiliki kosa kata yang pelik untuk dipelajarinya ataupun kalimat yang sempurna untuk diejanya. Pengetahuannya akan Tuhan juga baru didapatnya saat dia berdoa sebelum tidur malam, dan kami tidak pernah berdiskusi apapun tentang Hari Pengangkatan.
Kiranya video ini memberkati Anda.
"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan." (Yoel 2:28) 

Gereja Unik Kaum Zabaleen Di Mesir

Gereja Gua atau biara saint simon, terletak di gunung Mokattam di tenggara Kairo, Mesir, di daerah yang dikenal sebagai 'kota sampah' karena populasi besar pengumpul sampah atau zabbaleen yang tinggal di sana. Zabbaleen adalah keturunan petani yang mulai bermigrasi dari pinggiran Mesir ke Kairo pada tahun 1940. Migrasi karena panen yang buruk dan kemiskinan yang membuat mereka datang ke kota mencari pekerjaan dan membangun pemukiman darurat di sekitar kota. Awalnya, mereka masih hidup dengan tradisi mereka yaitu beternak babi, kambing, ayam dan hewan lainnya, tapi akhirnya menemukan pekerjaan yang lebih menguntungkan,dengan mengumpulkan dan memilah sampah yang dihasilkan oleh warga kota . Keluarga zabbaleen akan memilah-milah sampah rumah tangga, dan menjual kembali, sedangkan sampah organik menjadi sumber makanan bagi ternak mereka. Karena sangat menguntungkan Bahkan, gelombang migran datang dari Mesir Hulu untuk tinggal dan bekerja di desa-desa sampah baru didirikan dari Kairo.

Selama bertahun-tahun, pemukiman darurat dari zabbaleen dipindahkan di sekitar kota. Akhirnya, sekelompok besar zabbaleen menetap di bawah tebing dari Mokattam atau tambang Moquattam di tepi timur kota, yang kini telah tumbuh dengan populasi 8.000 pada awal tahun 1980, menjadi  komunitas terbesar pengumpul sampah di Kairo, dengan sekitar 30.000 penduduk zabbaleen.
Mesir adalah negara mayoritas Muslim, tapi zabbaleen adalah Kristen Koptik. Komunitas Kristen yang jarang ditemukan di Mesir, sehingga zabbaleen memilih untuk tinggal di Mokattam dalam komunitas religius mereka sendiri meskipun banyak dari mereka mampu membangun rumah di tempat lain.


 
Lokal Gereja Koptik di Desa Mokattam didirikan pada tahun 1975. Setelah pendirian gereja, zabbaleen merasa lebih aman di lokasi mereka dan kemudian mulai menggunakan bahan bangunan yang lebih permanen, seperti batu dan batu bata, untuk rumah mereka. Mengingat pengalaman mereka sebelumnya yaitu pengusiran dari Giza pada tahun 1970, zabbaleen pernah tinggal di gubuk sementara sampai saat itu. Pada tahun 1976, kebakaran besar terjadi di Manshiyat Nasir, yang menyebabkan awal pembangunan gereja pertama, situs seluas 1.000 meter persegi di bawah gunung Mokattam. Beberapa gereja lainnya juga di temukan dibangun di dalam gua di Mokattam, dimana Biara St Simon Tanner adalah yang terbesar dengan kapasitas tempat duduk 20.000. Bahkan, Gua Gereja St Simon di Mokattam adalah gereja terbesar di Timur Tengah.




















Pesulap India Dapat Merlin Award Kategori “Gospel Magic”

India sepertinya saat ini sudah menjadi salah satu negara dengan seni sulap yang cukup maju. Terbukti selama beberapa tahun belakangan, banyak pesulap asal India yang menerima penghargaan-penghargaan dari berbagai asosiasi sulap di dunia, sebut saja salah satunya Merlin Award dari International Magicians Society.

Belum lama ini ada satu lagi pesulap asal India yang di anugerahi penghargaan dari asosiasi sulap terbesar di dunia tersebut. Rev Saju Mathew, seorang pendeta asal Gereja Mar Thoma Immanuel, Houston, Amerika Serikat, berhasil mendapatkan Merlin Award tahun ini untuk kategori ‘Best Gospel Magician.’

Penghargaan yang juga dijuluki sebagai Piala Oscar-nya dunia sulap ini akan diberikan kepada pesulap asal India tersebut pada tanggal 21 Maret 2015 di Houston, Amerika Serikat. Ini sekaligus menjadi rekor pertama, seorang pendeta dipertimbangkan untuk mendapatkan penghargaan dari IMS.
Rev Saju Mathew mengatakan bahwa ia sangat bangga terpilih untuk mendapatkan penghargaan ini. Dia menggunakan sulap untuk menyampaikan cerita Alkitab dan pelajaran moral untuk anak-anak. Tetapi kemudian ia juga mulai menyajikan pertunjukan sulapnya di berbagai tempat.

Meskipun tinggal di Amerika Serikat, Rev Saju tercatat sebagai salah satu penduduk asli di Chachipunna, Pathanapuram, disrik Kollam. Ia sempat menyelesaikan gelar Bachelor of Divinity dari Mar Thoma Theological Seminary, Kottayam. (bds.)


White Tail, Gereja yang Perbolehkan Jemaatnya Bugil Saat Kebaktian

Dengan dalih mengikuti kehidupan Tuhan Yesus, gereja White Tail yang berlokasi di Ivor, Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat mengizinkan para jemaatnya tidak menggunakan pakaian (bugil) di saat acara kebaktian.

"Ketika Yesus lahir Dia bugil dan saat disalib juga Dia telanjang. Jika Tuhan menakdirkannya begitu, apa salahnya bugil?" ujar pemimpin gereja White Tail Allen Parker kepada stasiun televisi ABC13, seperti dilansir Huffington Post, Senin (10/2).

Parker mengatakan budaya yang terdapat dalam gereja yang dipimpinnya ini adalah hadiah dan hak istimewa yang Tuhan telah berikan kepadanya.

"Mereka peduli, mereka memahami, dan mereka masyarakat dan berorientasi pada keluarga. Kami adalah salah satu gereja yang (jemaatnya) paling terlibat yang ada di sekitar lingkungan ini (Ivor, Virginia). Saya akan mempertahankan gereja kami..."

Dari abad ke abad, selalu ada orang di dunia ini yang keliru memahami ajaran dan kehidupan Tuhan Yesus. Meresponi hal itu, kita justru jangan langsung mengatakan sesat atau kutukan kepada mereka, melainkan doakanlah dan bila punya kesempatan untuk menyampaikan kebenaran firman Allah, sampaikan itu kepada mereka. 

Orang Religius Lebih Kecanduan Terhadap Pornografi dari Non-Religius

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti Case Western menemukan fakta mengejutkan seputar tingkat ketagihan masyarakat terhadap pornografi. Studi yang dinamakan "Pelanggaran sebagai Bentuk Kecanduan: Penolakan Religiusitas dan Moral yang Diakibatkan oleh Kecanduan Pornografi" dan dipublikasikan dalam jurnal Archieves of Sexual Behavior menyebutkan bahwa secara keseluruhan, orang religius memiliki tingkat kecanduan terhadap pornografi lebih tinggi dari orang yang level keagamaannya biasa saja. "Hal yang umum terjadi dalam keagamaan membuang kata "ketagihan" ketika mereka sedang membicarakan hal berbau pornografi," kata penulis studi tersebut, Joshua Grubbs.

Grubbs mengatakan dirinya mendapatkan ide penelitian ini ketika masih duduk di bangku kuliah di Liberty College, sebuah kampus Kristen. Dia mengutarakan bagaimana teman-temannya begitu kecanduan terhadap pornografi bahkan hanya melihatnya secara sekilas.

"Saya telah melihat bagaimana agama mempengaruhi kesehatan mental seseorang dan kejiwaan mereka," katanya. "Konflik inilah yang membuat saya tercengang. Saya melihat bagaimana orang yang jarang melihat pornografi merasa bersalah dan cemas," lanjutnya.

Grubbs juga menemukan bahwa lebih dari 600 buku yang ada di situs Amazon bertemakan ketagihan pornografi dijual pada kategori agama dan spiritual. "Kami sangat terkejut bahwa intensitas melihat pornografi tidak mempengaruhi persepsi ketagihan, namun kepercayaan moral yang kuat," kata Grubbs.

Akan tetapi semua hal tersebut kembali kepada masing-masing kita. Jika kita selalu membiarkan Tuhan dan firman-Nya menguasai pikiran dan hidup kita, maka Dia akan membantu kita lepas dari  segala godaan pikiran negatif, bahkan pornografi sekalipun.

(Jawaban.com)
 →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by Cerita Langit