Remaja Ini 'Mati' 20 Menit, Mengaku Hidup Lagi setelah Disentuh Yesus

Seorang remaja asal Texas, Amerika Serikat bernama Zack Clements mengaku mengalami pengalaman spiritual menakjubkan. Zack yang masih berusia 17 tahun, mengaku diselamatkan dari kematian setelah disentuh Yesus.

Kisah Zack bermula ketika ia jantungnya berhenti berdetak selama 20 menit saat pelajaran olahraga di sekolah. Remaja yang dikenal bertubuh fit dan atletis itu bahkan dianggap sudah meninggal.

Saat petugas medis datang dan berhasil dan menemukan nadi Zack kembali berdenyut, maka ia segera diterbangkan ke rumah sakit. Ia baru tersadar setelah beberapa hari menjalani perawatan di ICU.

Para dokter tak bisa menjelaskan bagaimana Zack bisa hidup lagi. Namun, Zack menuturkan bahwa ia diatangi Yesus saat sedang “mati” karena jantungnya berhenti berdenyut. Zack menuturkan, saat itu Yesus mengucap segalanya akan baik-baik saja.

“Aku melihat pria dengan rambut panjang acak-acakan dan jenggot tebal. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengenali bahwa dia Yesus,” katanya.

Zack menambahkan, dirinya saat sedang “mati” itu lantas mendekat ke Yesus. “Dia meletakkan tangannya ke bahuku dan bilang padaku semuanya akan baik-baik saja dan tak usah khawatir,” kenangnya.

Keluarga Zack pun meyakini ada campur tangan ilahi sehingga seseorang yang sudah kehilangan detak jantung selama 20 menit bisa hidup lagi. Ayah Zack, Billy mengatakan, peristiwa yang dialami putranya memang sulit dijelaskan. “Ini bukan hal yang bisa dijelaskan secara manusiawi,” katanya.
Sedangkan ibunda Zack, Teresa mengaku senang putra kesayagannya masih hidup karena campur tangan Tuhan. “Aku sangat senang Dia (Yesus, red) memutuskan untuk membiaskan anakku kembali,” katanya.(mirror/ara/jpnn)

Di Pemakaman Andrew Chan, Dibacakan Kesaksian Imannya

Pada ibadah penghiburan sebelum pemakaman Andrew Chan—terpidana mati penyelundupan narkoba ke Indonesia—yang diadakan di Gereja Hillsong di Sydney, Jumat (8/5) pidato yang ditulis oleh Chan sendiri dibacakan:

“Terima kasih semua telah berkumpul di sini pada hari ini untuk menyaksikan sesuatu yang hebat. Ini adalah hari saat saya akan ‘bangkit’ dari peti mati saya sendiri, sekarang, seperti kata-kata yang diucapkan, dalam nama Yesus, ‘Bangkitlah’. Atau, saya menikmati kebangkitan itu di surga, dan saya akan menunggu untuk Anda semua di sana”
 ...
“Saat-saat terakhir saya di sini di bumi saya bernyanyi ‘Haleluya!’ Aku telah menyelesaikan perlombaan dengan baik. Saya mengakhiri pertandingan yang baik dan keluar sebagai pemenang di mata Allah dan manusia. Saya punya kisah sendiri, cerita yang ditentukan oleh Anda semua tentang bagaimana Anda menjadi saksi atas kehidupan saya. Tanyakan kepada diri sendiri: ‘Apa yang saya tinggalkan bersama dengan Anda?  Yang akan menentukan warisan saya.’”

Teks lengkap tulisan Chan ada di The Sydney Morning Herald.

Jenazah dua penyelundup narkoba ini, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Pemimpin kelompok “Bali Nine”, demikian mereka dijuluki, mendapat perhatian internasional karena bertobat kepada Allah selama dekade-panjang mereka dipenjara di LP Kerobokan, Bali.

Salah satu tahanan, Andrew Chan, belajar teologi dan ditahbiskan pada bulan Februari, hari setelah permohonan grasi itu ditolak.

Tepat sebelum eksekusi mereka, para tahanan menyanyikan “Amazing Grace,” kemudian “Bless the Lord, O My Soul.”

“Mereka memuji Allah,” kata pastor Karina de Vega kepada Sydney Morning Herald. “Itu menakjubkan. Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan orang yang begitu bersemangat untuk bertemu Allah mereka.”

Saat di penjara, Chan dan Myuran Sukumaran berkorespondensi dengan Brian Houston, pendeta dari Gereja Hillsong di Sydney. (Gereja internasional, salah satu dari 10 gereja paling berpengaruh abad ke-20, yang terkenal dengan musik, termasuk lagu-lagu seperti “Mighty to Save,” “God is Able,” dan “How Great is Our God”).

“Dari semua sudut, dua orang muda ini—saya memiliki hak istimewa besar bisa melakukan kontak pribadi beberapa bulan terakhir—tidak hanya menerima rahmat dan pengampunan Yesus Kristus, tetapi juga nama mereka telah direhabilitasi sehingga menjadi narapidana yang berkelakuan terhormat di penjara," tulis Houston sesaat sebelum eksekusi mereka. “Bahkan di penjara mereka telah membuat kontribusi positif bagi kehidupan tahanan lain, dan berusaha untuk membayar utang mereka kepada masyarakat. Saya telah memiliki kesenangan berbicara dengan Andrew Chan hampir setiap hari dan imannya dan kekuatan di bawah tekanan yang ekstrem. Itu telah mengilhami saya.”
Chan menjadi Kristen saat di sel isolasi.

“Itu tidak terjadi sampai saya berada di sel isolasi saya. Saat dalam sendiri, saya merasa perlu untuk berada di sisi kanan Allah,” katanya kepada Bible Society Australia. Setelah membaca Perjanjian Baru empat kali, “Saya berlutut dan menangis untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun,” katanya.

Ia melanjutkan:

“Tepat sebelum tanggal pengadilan saya (saat ia akan menerima vonis hukuman mati), saya ingat pernah membaca Markus 11: 23-24, di sana dikatakan bahwa jika Anda memiliki cukup iman Anda bisa mengatakan kepada gunung ini, ‘Pindah’ dan Tuhan akan melakukannya . Jadi aku berkata, ‘Tuhan jika Engkau nyata dan jika hal ini benar, saya ingin Engkau untuk membebaskan saya, dan jika Engkau melakukannya saya akan melayani Anda setiap hari selama sisa hidup saya.’ Saya pergi ke sidang pengadilan dan mereka menghukum saya dan memberi vonis hukuman mati. Ketika saya kembali ke sel, saya berkata, ‘Tuhan, saya memohon kepada-Mu untuk membebaskan saya, tidak membunuh saya.’ Tuhan berbicara kepada saya dan berkata, ‘Andrew, saya telah membebaskanmu dari dalam ke luar; Saya telah memberimu kehidupan!’ Sejak saat itu saya tidak berhenti menyembah-Nya. Saya tidak pernah menyanyikan lagu pujian sebelumnya, belum pernah memimpin ibadah, sampai Yesus membebaskan saya.”

Setelah pertobatannya, Chan belajar selama enam tahun untuk menjadi seorang pendeta. Dia mengajar kelas Alkitab, menjalankan sekolah memasak, dan tampil dalam sebuah film dokumenter anti-narkoba bagi siswa sekolah saat ia di penjara. Chan bertemu dengan seorang pastor Indonesia, Febyanti Herewila, dalam salah satu kunjungan rutinnya ke penjara. Dia menikahinya kurang dari dua hari sebelum ia meninggal.

Baptist News Global memprofilkan beberapa misionaris yang bekerja dengan Sukumaran dan lain-lain pada program seni penjara. “Selama waktu saya kenal mereka, saya telah melihat dua pemuda menemukan harapan dan penyembuhan melalui apa yang mereka lakukan dalam membuat seni dan berbagi keahlian mereka dengan narapidana lainnya,” kata Tina Bailey. “Mereka adalah pemimpin dengan pengaruh indah dan positif.”

Empat tahun yang lalu, Chan mengatakan kepada Morning Herald bagaimana rasanya menghadapi kematian.

“Saya tidak benar-benar takut itu, kematian,” katanya. “Bahkan jika saya meninggal, saya masih akan memiliki kehidupan di surga dan jelas akan menjadi selamanya.”

(christianitytoday.com)

Manny Pacquiao: Saya Bertinju untuk Menyenangkan Hati Tuhan


Tinggal hitungan beberapa jam lagi untuk tiba pada pertandingan tinju yang paling dinanti dunia saat ini dan tiada habis-habisnya kisah tentang dua petarung, Floyd Mayweather Jr. dan Manny Pacquiao diulas. Yang disebut terakhir ini, tampak lebih istimewa, mengingat dirinya yang kurang diunggulkan, namun memiliki latar belakang profesi yang unik dan sangat populer..

Pacquiao, petinju Filipina yang merupakan ayah dari lima orang anak, adalah juga seorang penginjil. Setiap hari ia mengutip ayat-ayat Alkitab dan membagikannya kepada jutaan penggemarnya. Muncul pertanyaan, bila tinju selama ini dianggap olah raga keras dan kemenangan antara lain ditentukan dengan seberapa kuat seseorang menyakiti lawan, bagaimana Pacquiao, seorang evangelis yang menganjurkan kasih, harus bisa menyakiti lawan demi memenangi pertandingan.

Kepada The Christian Post, Pacquiao mengatakan pertandingan melawan Mayweather yang oleh sejumlah kalangan digambarkan sebagai Pertandingan Abad Ini, baginya lebih dari sekadar untuk menaklukkan lawan yang memiliki reputasi hebat di dunia tinju.

"Saya ingin menyenangkan Tuhan, keluarga dan penggemar saya dengan pertandingan ini," kata dia. "Saya ingin mereka tahu saya bertarung untuk Tuhan dan untuk negara, membawa kehormatan dan kemuliaan bagi mereka," lanjutnya

Pertarungan Mayweather vs Pacquiao akan berlangsung di MGM Grand Garden, Las Vegas, Sabtu (2/5) malam waktu setempat atau Minggu 3 Mei pukul 12:00 WIB. Sebagian besar pengamat mengunggulkan Mayweather, yang berjulukan Pretty Boy. Rekor pria berusia 38 tahun ini mencorong, belum pernah terkalahkan sepanjang 18 tahun karier profesionalnya. Sementara Pacquiao, kendati melegenda sebagai petarung yang tahan pukul pernah kalah dari Timothy Bradley pada Juni tahun 2012 dan kalah KO dari   Juan Manuel Marquez pada Desember 2012.

Kendati sebagai underdog, Pacquiao memiliki catatan menonjol dari kemampuannya untuk bangkit dari kekalahan. Timothy Bradley yang pernah menaklukkannya, ia kalahkan lagi pada 12 April 2014 lalu. Gaya bertinjunya yang agresif dan tidak kenal mundur, membuatnya meraih simpati.
Dikenal sebagai penginjil yang vokal, Pacquiao mengatakan ia berlatih dengan sangat disiplin untuk pertandingan kali ini. Ia menambahkan dirinya kini siap secara mental dan rohani untuk mengalahkan lawannya.

"Saya siapkan mental yang sama seperti yang saya lakukan dengan semua pertarungan saya yang lain," kata Pacquiao. "Saya pikir saya berlatih untuk laga ini dengan lebih fokus sedikit. Secara rohani, saya berdoa untuk diri saya sendiri dan juga untuk lawan saya."

Pria berusia 36 tahun ini mengatakan bahwa dia tidak ingin mengecewakan para penggemarnya, dan mempertahankan gaya hidup disiplin untuk menjadi panutan bagi orang lain.

Kendati demikian, Pacquiao mengaku bahwa ia tidak selalu dapat menjadi contoh masyarakat.
"Saya menyadari  dosa menggiring saya ke arah yang salah, tidak hanya dalam hidup ini, tapi selamanya," akunya. "Saya menyadari saya memiliki kebutuhan. Saya tiba pada titik di mana saya menyadari kebutuhan itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Saya menaruh iman dan kepercayaan dalam Tuhan Yesus Kristus."
 
"Saya suka bertinju, tapi saya sadar sekarang bahwa hidup saya bukan hanya tinju."

 "Saya hanya ingin mendorong semua orang Kristen untuk berbagi pengalaman keselamatan mereka kepada orang lain. Saya berpikir bahwa kita bisa memberi dampak  di dunia ini."

"Saya belum yakin apakah akan pensiun pada tahun 2016, namun warisan yang saya ingin tinggalkan adalah menjadi panutan dan inspirasi, tidak hanya bagi penggemar tinju, tetapi untuk semua orang di seluruh dunia."

(satuharapan.com)

Belajar Bahasa Ibrani dari Seorang Muslimah

Pertama kali saya datang menemui Wiwin Triwinarti pada awal tahun 2014 silam, saya terkejut ketika seorang perempuan berjilbab yang muncul di hadapan saya. Saya sengaja datang ke Depok untuk bertemu Wiwin Triwinarti karena saya mencari guru Bahasa Ibrani. Saya tidak mengira saya akan bertemu dengan seorang Muslimah.
Saat itu saya menanyakan kesediaannya untuk memberikan kursus Bahasa Ibrani bagi beberapa orang yang berminat belajar Bahasa Ibrani yang dikenal di kalangan Kristen sebagai bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Karena keterbatasan waktunya, kursus Bahasa Ibrani itu gagal terwujud.
Pada pertemuan pertama kami yang berlangsung singkat itu, saya menanyakan mengapa Bahasa Ibrani diajarkan di Program Studi Arab. Wiwin menjawab, “Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab itu satu rumpun.”
“Apakah Bahasa Ibrani bisa disebut sebagai bahasa tertua di dunia?” saya bertanya. “Ya, Bible (Alkitab) klasik. Lebih tua dari Arab yang jelas,” jelasnya sembari mengangguk-angguk. Dari sejarahnya, Bahasa Ibrani dan Arab beserta Aramaik termasuk dalam rumpun Semit. Semit berasal dari kata Sem, anak Nabi Nuh yang selamat dari air bah yang menjadi cikal bakal nenek moyang bangsa-bangsa itu.
Pertemuan kedua kami berlangsung pada sebuah tengah hari di kala hujan lebat mengguyur Depok, awal Januari 2015. Berkerudung warna moka, perempuan kelahiran Bandung, 13 April lima puluh dua tahun silam ini terlihat ceria dan enerjik. Senyum lebar tersungging di wajahnya yang berkacamata. Siang itu ia baru selesai memberikan tutorial Bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing. Sudah 12 tahun Wiwin Triwinarti, M.A mengajar Bahasa Ibrani Dasar di Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univesitas Indonesia. Gelar M.A diperolehnya pada tahun 1998 dari Program Magister Linguistik Australian National University (ANU) di Canberra, Australia.
Wiwin menjadi pengajar Bahasa Ibrani Dasar secara tidak sengaja. Setelah ia lulus S-1 Bahasa Arab, ia diminta oleh Ketua Jurusan saat itu (Ramli Harun) untuk mendampingi Profesor Ihromi, dosen Bahasa Ibrani di UI. Kebetulan pendamping Profesor Ihromi yakni Amin Subarkah sedang mengambil S-2 di Jogyakarta. Karena menyukai linguistik, Wiwin pun mencoba mendalami Bahasa Ibrani dengan cara mendengar Profesor Ihromi mengajar mahasiswa. Di rumah pun, ia mendengar kaset-kaset rekaman Bahasa Ibrani. Ia baru benar-benar lepas dari Profesor Ihromi setelah belajar mengajar selama dua tahun. Profesor Ihromi kala itu berstatus sebagai dosen tamu di UI. Sehari-hari Profesor Ihromi adalah dosen Bahasa Ibrani Alkitab dan juga pernah menjadi Rektor Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.
Wiwin sempat mengenang bagaimana sulitnya ia belajar dari Profesor Ihromi karena contoh kata, struktur dan tata kalimat yang digunakan masa itu diambil dari buku berbahasa Ibrani tertua. Maklum, Profesor Ihromi adalah orang Indonesia pertama yang mendapat gelar doktor Bahasa Ibrani Perjanjian Lama dari Amerika Serikat.
“Ketika (Profesor Ihromi) mengajar di sini, sama sekali tidak menyinggung agama,” tegas Wiwin. Wiwin terlihat sangat percaya diri pada profesinya sebagai pengajar Bahasa Ibrani meski tinggal di Indonesia yang mayoritas Muslim. Ia mengaku tidak mengalami hambatan dari keluarga dan teman-teman. Bahkan mahasiswanya pun sudah sangat terbuka pemikiran dan wawasannya sehingga tidak ragu untuk memilih mata kuliah Bahasa Ibrani Dasar.
Wiwin menjelaskan pengajaran Bahasa Ibrani sudah ada sejak Wiwin berkuliah di Program Studi Arab. Awalnya ini menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa Program Studi Arab. Namun sejak tahun 2011, Bahasa Ibrani Dasar hanya mata kuliah tambahan yang bebas diambil oleh mahasiswa Program Studi Arab dan program studi lain. Tak heran kelas Bahasa Ibrani Dasar pada tiap semester diikuti oleh mahasiswa berbagai jurusan. Pada semester lalu, Wiwin mengajar dua kelas masing-masing memiliki murid 29 dan 24 orang – ada yang muslim dan ada yang non-muslim.
Wiwin mengatakan mahasiswa dari luar Program Studi Arab maupun fakultas lainnya juga berminat mengambil Bahasa Ibrani Dasar karena dianggap berguna untuk bidang ilmu yang sedang mereka pelajari. Misalnya untuk Ilmu Arkeologi, beberapa penemuan artefak kuno yang bertuliskan Bahasa Ibrani. Untuk mahasiswa Ilmu Perpustakaan, Bahasa Ibrani akan sangat berguna untuk membaca dan pengarsipan naskah-naskah tua yang ditulis dalam Bahasa Ibrani. Mahasiswa Wiwin semester lalu berasal dari jurusan Hukum, Fisika, Psikologi, Ekonomi, Ilmu Komunikasi dan Ilmu Komputer.
Bagi para mahasiswa kelas Bahasa Ibrani Dasar, mata kuliah ini sangat sulit. Tetapi Dosen Wiwin dinilai piawai dan sabar dalam mengajar sehingga mahasiswa senang mengikuti kelas ini. Kesukaran Bahasa Ibrani menurut Wiwin adalah pada vokalnya yang berjumlah 12, konsonan 22.
“Ada vokal panjang, vokal pendek dan vokal pendek yang lebih pendek.”
Kesulitan semakin bertambah karena vokal umumnya tidak ditulis sehingga orang yang mau berbahasa Ibrani harus mengingat setiap kata dan tata cara penulisan karena berubah-ubah. Wiwin mencontohkan kata “bait” yang berarti rumah, dapat berubah menjadi “bet” ketika bertemu dengan kata lain. Contoh lain sebuah kalimat “mahasiswa universitas itu” dan “mahasiswa-mahasiswa univertas itu”, maka dalam Bahasa Ibrani penulisan dan bunyinya berubah.
Wiwin mengakui belajar Bahasa Ibrani itu susah namun sangat unik. Bahkan Wiwin menilai perubahan vokal dalam kalimat yang luar biasa itulah yang menjadikan bahasa ini unik.  Menurut Wiwin, meski ia dapat membaca aksara Ibrani, namun hanya ketika ada vokalnya saja.
“Itu sangat menantang. Saya yakin mereka itu (pengguna Bahasa Ibrani) pintar-pintar karena ingatannya sangat kuat,” kesimpulan Wiwin. Namun bagi yang bisa berbahasa Arab, cukup mudah untuk belajar Bahasa Ibrani karena Bahasa Ibrani juga mengenal perubahan tunggal-jamak feminin-maskulin untuk bentuk nomina, juga perubahan bentuk verba berdasarkan pelakunya.
Selain itu, sebagaimana bahasa Arab penulisannya   juga dilakukan dari kanan ke kiri. Tetapi, bentuk aksara, sangat berbeda dengan Bahasa Arab. Kedekatan Bahasa Ibrani dengan Bahasa Arab dicontohkan Wiwin dengan kata: talmid (mahasiswa/murid pria-Ibrani) dan tilmidz (mahasiswa/murid pria-Arab).
Meski bergelut dengan Bahasa Ibrani, Wiwin mengaku tidak menggali lebih jauh tentang budaya dan orang-orang pengguna Bahasa Ibrani.
Saya bertanya, apakah ia ingin ke Israel, negara pengguna Bahasa Ibrani?  Dengan lugas, Wiwin menjawab “Ya, saya ingin tahu situasinya, bagaimana belajar Bahasa Ibrani ke negaranya sendiri.”
Dari selasar di depan ruang kerjanya, kami berpindah ke meja kerja Wiwin yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas. Beberapa buku ajar Bahasa Ibrani ada di sana. Semua buku diupayakan sendiri oleh Wiwin. Tak sungkan-sungkan, Wiwin mengaku meminta buku ajar Bahasa Ibrani dari rekannya yang berkebangsaan Belanda. Sebuah buku yakni Bahasa Ibrani dengan terjemahan Bahasa Arab diberikan oleh muridnya ketika berlibur ke Mesir. Sedangkan Profesor Ihromi mewariskan dua buah buku ajar yang masih digunakan Wiwin hingga sekarang. Wiwin mengatakan sangat membutuhkan bahan ajar yang memadai. Ia berharap ada bantuan buku-buku yang sangat sulit didapatkan di Indonesia.
Wiwin adalah ibu dari dua orang putra berusia remaja. Foto Fadli Fikriawan Wibowo dan Gilang Novrizal Wibowo beserta sang suami Indiarto Wibowo terpajang bersama foto diri Wiwin ketika belum berjilbab di jendela meja kerjanya. “Ah, itu foto saya untuk ijazah sarjana.”
Wiwin mengaku pernah bercita-cita menjadi guru TK ketika ia masih kecil. Namun, Tuhan Yang Maha Kuasa membawanya menjadi salah seorang pengajar Bahasa Ibrani yang cuma dikuasai segelintir orang Indonesia. Bahkan, orang Kristen yang notabene membaca Alkitab Perjanjian Lama umumnya tidak dapat membaca dalam Bahasa Ibrani, bahasa aslinya. Karena itu ketika berkenalan dengan orang-orang yang beragama Kristen, Wiwin biasanya memberitahukan profesinya dan mengajak kalangan Kristen untuk menekuni Bahasa Ibrani. “Umat Kristen bisa menggali Bible (Alkitab) lebih dalam karena tahu arti dalam bahasa aslinya.”
Tak terasa sudah  dua jam kami berbincang. Hujan di luar sudah berhenti, memudahkan Wiwin, si penyuka alam ini untuk bergegas pulang ke rumahnya di Sawangan.
“Perbedaan itu jangan dijauhi, justru kita harus pelajari untuk memahami, ujarnya sambil tersenyum.” Mendengar kalimat itu, mendadak langit kelabu di atas kepala kami terasa secerah mentari.
Penulis: 

Kisah Inspiratif Laura Alexandra

Keterbatasan fisik maupun berbagai permasalahan hidup sering membuat orang pesimis, mengeluh serta merasa seolah Tuhan tak adil. Bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus pula yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.

Adalah Laurentia Alexandra atau akrab dipanggil Laura, Sulung dari dua bersaudara. Bakatnya dibidang modeling terlihat ketika masih balita, Laura gemar sekali bergaya di depan cermin bak peragawati. Melihat kegemaran dan bakat Laura yang senang dengan modeling serta urusan bersolek, maka orang tua dari Laura yaitu Peter Lie dan Vivi Lestari, langsung mengarahkan Laura ke pendidikan yang sesuai dengan bakatnya.

Upaya yang dilakukan oleh orang tua Laura berbuah hasil, tercatat sejumlah prestasi yang diukir Laura di dunia hiburan, salah satu dari prestasi tersebut adalah dengan menjadi bintang iklan. Prestasi seperti ini tentu menjadi luar biasa dengan keterbatasannya. Gadis yang mirip peragawati terkenal Tracy Trinita ini, mampu untuk berbuat sesuatu yang terbilang sulit dilakukan kebanyakan anak sepertinya.

Orang tua Laura berkeyakinan bahwa setiap anak yang dititipkan Tuhan kepada mereka adalah anugerah Tuhan yang memiliki hak yang sama dengan yang lainnya untuk meraih cita-cita. Orang tua Laura mencoba menumbuhkan percaya diri dari anaknya untuk dapat berprestasi tanpa harus memikirkan kelemahannya. Kedepan Laura mencoba memotivasi anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat berbuat sesuatu hingga menjadi suatu prestasi.

Mengutup dari seorang founder dan CEO (chief executive officer) Thisable Enterprise. Di balik keterbatasan pasti ada kelebihan. Walaupun terbatas mendengar, bukan berarti harus terbatas melakukan apapun. Tunjukkan semua batas yang harus ditembus, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Laurentia Alexandra sudah membuktikan bahwa ia mampu berprestasi dibidang modeling dan tata rias wajah.

Tahu Bayi Tak Sempurna, Ibu Ini Ikhlas Melahirkannya

Tahu bahwa bayinya akan terlahir tanpa memiliki indera penglihatan, Ibu asal Woodbury, Tennessee, Amerika ini tetap menantikan kelahiran anak tercintanya.  Sebuah pilihan di jaman ini yang tentu saja tak mudah.  Tak sedikit orang yang memberikan komentar negatif kepada Lacy Buchanan, Ibu bayi yang terlahir tanpa mata, menurut mereka seharusnya Lacy menggagalkan kelahiran anak tersebut karena alasan kondisinya.  

Kendati pilihan Lacy Buchanan untuk menunggu kelahiran Christian merupakan pilihan yang tidak populer, namun hal itu menginspirasi banyak orang di seluruh dunia selama dua tahun terakhir, setelah ia memposting video dari ceritanya ke laman video berbagi YouTube.  Di video yang sama Lacy juga menuliskan pesan agar siapapun mempertimbangkan keinginannya untuk mengaborsi darah daging mereka.  "Pikirkan kembali keputusan Anda, tidak peduli keadaan. Saya sangat senang, saya memilih hidup!” tulisnya dalam deskripsi video singkatnya. 

Kendati Christian terlahir tanpa bibir dan langit-langit, juga matanya tidak terbentuk dengan benar, Lacy dan suaminya menerima dengan ikhlas bayi mereka yang lahir bulan Februari tahun 2011 lalu itu.

Christian kini berusia tiga tahun dan terus menjalani operasi rekonstruksi untuk memperbaiki langit-langit, dan akan menjalani operasi lain di tahun-tahun mendatang. Lacy mengatakan, bahwa Christian adalah anak normal sama seperti anak kecil lainnya; dia hanya melihat dengan mata hatinya bukan mata fisiknya. Christian suka tertawa dan bermain, dan terlibat dalam percakapan. Video inspiratif ini dapat anda lihat di sini: http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=oWCbkyR0cy0

Pesulap India Dapat Merlin Award Kategori “Gospel Magic”

India sepertinya saat ini sudah menjadi salah satu negara dengan seni sulap yang cukup maju. Terbukti selama beberapa tahun belakangan, banyak pesulap asal India yang menerima penghargaan-penghargaan dari berbagai asosiasi sulap di dunia, sebut saja salah satunya Merlin Award dari International Magicians Society.

Belum lama ini ada satu lagi pesulap asal India yang di anugerahi penghargaan dari asosiasi sulap terbesar di dunia tersebut. Rev Saju Mathew, seorang pendeta asal Gereja Mar Thoma Immanuel, Houston, Amerika Serikat, berhasil mendapatkan Merlin Award tahun ini untuk kategori ‘Best Gospel Magician.’

Penghargaan yang juga dijuluki sebagai Piala Oscar-nya dunia sulap ini akan diberikan kepada pesulap asal India tersebut pada tanggal 21 Maret 2015 di Houston, Amerika Serikat. Ini sekaligus menjadi rekor pertama, seorang pendeta dipertimbangkan untuk mendapatkan penghargaan dari IMS.
Rev Saju Mathew mengatakan bahwa ia sangat bangga terpilih untuk mendapatkan penghargaan ini. Dia menggunakan sulap untuk menyampaikan cerita Alkitab dan pelajaran moral untuk anak-anak. Tetapi kemudian ia juga mulai menyajikan pertunjukan sulapnya di berbagai tempat.

Meskipun tinggal di Amerika Serikat, Rev Saju tercatat sebagai salah satu penduduk asli di Chachipunna, Pathanapuram, disrik Kollam. Ia sempat menyelesaikan gelar Bachelor of Divinity dari Mar Thoma Theological Seminary, Kottayam. (bds.)


Tunawisma Ini Tawarkan Uang Terakhirnya untuk Bantu Seorang Mahasiswi

Kebaikan bisa datang dari sumber yang tak terduga, misalnya dari seorang tunawisma, seperti pengalaman yang dialami seorang mahasiswi, Dominique Harrison-Bentzen (22).

Kisah luar biasa itu diawali ketika gadis yang menuntut ilmu di University of Central Lanchasire di kota Preston, Inggris, itu akan pulang ke kediamannya pada suatu malam pada 4 Desember lalu.

Saat akan pulang itulah, Dominique baru menyadari jika kartu ATM miliknya hilang sehingga dia tak bisa mengambil uang pada saat dia tak memiliki uang tunai sama sekali.

"Saya baru sadar saya tak punya uang dan saat itulah seorang tunawisma menghampiri saya dan menawarkan uang tiga poundsterling yang dimilikinya," kenang Dominique.

"Dia memaksa saya mengambil uang itu agar saya bisa naik taksi dan selamat sampai di rumah," tambah dia.

Dominique memang tak menerima uang yang ditawarkan pria tunawisma yang mengaku bernama Robbie itu. Namun, finalis ratu kecantikan kota Preston itu kemudian bertekad akan membantu Robbie untuk memulai lagi hidupnya.

"Saya lalu mengunggah status lewat akun Facebook saya tentang pengalaman saya. Sehari kemudian, saya bertemu kembali dengan dia dan ternyata dia sudah banyak menolong orang," ujar Dominique.

Robbie ternyata banyak membantu warga kota Preston yang mengalami kesulitan, misalnya mengembalikan dompet yang jatuh hingga menawarkan syal miliknya untuk seseorang yang kedinginan.

Kini Dominique akan menghabiskan waktu selama 24 jam bersama Robbie untuk menggalang dana yang nantinya akan disumbangkan untuk pria itu agar bisa menata kehidupannya kembali.

"Dia sudah menjadi tunawisma selama tujuh bulan dan itu bukan kesalahannya. Kini dia sulit mencari kerja karena tak memiliki alamat tetap," kata Dominique.

Dominique bahkan menghabiskan empat hari berkeliling kota untuk mencari Robbie dan kehilangan harapan untuk bisa bertemu kembali dengan pria tersebut. "Beruntung saya memiliki ibu dan mobilnya yang membantu proses pencarian ini," tambah dia.

Lalu, bagaimana cara Dominique akan membantu Robbie?

"Jika orang-orang bisa memberi saya tiga poundsterling, sama seperti yang ditawarkan Robbie kepada saya, maka saya harap bisa mengumpulkan uang yang cukup agar dia bisa menyewa flat agar dia bisa hidup nyaman," ujar Dominique.

Niat itu kemudian diunggahnya ke akun Facebook-nya dengan tajuk "Help Robbie, Preston's Homeless Hero" dan ternyata respons yang diperoleh sangat luar biasa. Sejauh ini sudah lebih dari 2.000 orang mendukung niat Dominique itu dan dana yang terkumpul sejauh ini telah mencapai 13.954 poundsterling atau hampir Rp 278 juta.

"Saya harap usaha saya ini akan membuat banyak orang berpikir sedikit tentang orang di sekitar mereka. Masa-masa menjelang Natal adalah waktu yang bagus untuk memikirkan orang lain," ujar Dominique.

"Jika orang melihat apa yang saya lakukan mungkin saya mereka akan memiliki waktu untuk berhenti dan berbicara kepada para tunawisma untuk sekadar mendengar kisah mereka," kata gadis itu.

Jessica Cox, Pilot Pertama Tanpa Lengan

Berapa banyak wanita di dunia ini yang berhasil mendapat lisensi pilot? Berapa banyak pilot yang menggunakan kacamata? 

Mungkin akan ada beberapa nama, namun bila ditanyakan, berapa banyak pilot perempuan yang tidak mempunyai tangan? Hanya satu nama yang akan disebutkan, dia adalah Jessica Cox. Wanita kelahiran 1983 ini menggunakan kaki untuk mengendalikan pesawat dalam penerbangan solo nya.

Semenjak dalam kandungan, tidak ada tanda-tanda yang menandakan kekurangan dalam fisiknya. Namun saat lahir, dokter sempat bingung karena Jessica lahir tanpa tangan. Meskipun begitu, orang tuaya tidak lantas menganggapnya sebagai korban ataupun anak cacat. Sehingga dia tumbuh dengan kasih sayang yang tulus dan membantunya untuk tidak menyerah pada keadaan.

Dalam pertumbuhannya, wanita keturunan Filipina ini telah berhasil memberdayakan kedua kakinya dengan sangat baik, bahkan melebihi kemampuan kaki pada orang normal. Jessica kecil sudah belajar makan dan menulis menggunakan kakinya. Tidak ingin berdiam diri, dia juga menjadi murid yang aktif di kegiatan di sekolahnya. Bahkan di usia belia, Jessica juga  mendapat sabuk hitam Tae Kwon Do dan sudah mampu menyetir sendiri.

Awalnya dirinya merasa sangat sulit menjadi orang berbeda di tengah masyarakat yang menuntut kesempurnaan. Jessica tahu rasanya mendapat pandangan yang tidak mengenakkan hingga hinaan dari teman-teman sekolahnya, namun itu tidak menghentikannya.

Beranjak dewasa, dia kemudian melanjutkan studi di University of Arizona. Saat itu, Jessica sudah bisa melakukan segala keperluannya dengan mandiri. Mulai dari mengetik, memasang kontak lens, menyiapkan sarapan, mencuci rambut, make-up, berenang, berselancar, bermain scuba, dan bermain piano semua bisa dilakukan dengan kakinya.

Keberhasilan studi tidak lantas membuatnya berhenti berkarya. Masih ada mimpi masa kecilnya yang ingin digapai, yakni menjadi Superwoman yang bisa terbang di angkasa. “Di taman bermain saya seringkali frustasi bahkan marah karena sedikit permainan yang bisa dinikmati. Namun ketika naik ayunan, saya selalu membayangkan menjadi Superwomen dimana saya bisa terbang diatas taman bermain,” ujar Jessica.

Kesempatan itupun akhirnya datang, ketika seorang pilot pesawat Robin Stoddard menawarkannya untuk terbang dengan pesawat. Benar-benar di luar bayangannya, dan hampir tidak masuk akal baginya, karena dirinya tidak memiliki tangan. Tidak ingin kehilangan moment emas, akhirnya dia memberanikan diri dan berlatih menjadi seorang pilot. Jessica berlatih menggunakan pesawat ringan model Ercoupe tahun 1940. Pesawat dengan system terbang sederhana ini hanya mengandalkan tangan, tanpa menggunakan pedal, sehingga pas dengan kondisinya.

Meskipun lebih lama dari waktu normal latihan enam bulan, akhirnya setelah tiga tahun dia bisa mengantongi sertifikat pilot pesawat ringan. Dan pada tanggal 10 Oktober 2008, Jessica mendapat izin terbang pesawat sport dari US Federal Aviation Administration. Tidak berhenti di situ. Saat ini Jessica bukan hanya sebagai pilot, namun juga berperan sebagai instruktur. 

Dirinya sangat senang bisa mewujudkan mimpinya. Walau tanpa 'sayap', Jessica membuktikan bahwa dirinya bisa terbang mengarungi angkasa. “Ketika terbang, saya merasakan perasaan hebat soal kebebasan, kemerdekaan, dan kekuatan,” ujar Jessica yang mengendalikan kemudi dengan kaki kiri dan tuas dengan kaki kanannya itu.

Saat ini Jessica rutin menjadi pembicara dalam seminar internasional dan tumbuh menjadi pesohor kelas dunia. Dia berbicara, memberi kiat bagaimana mengubah kekurangan menjadi kekuatan. Dan dirinya lebih dari sekedar contoh.

Melihat ini, masihkah kita akan mengatakan untuk menyerah karena pesimis atau keterbatasan diri? Jessica juga manusia biasa dan sempat berkeluh namun bukan itu yang menghentikannya. Mencapai cita memang tidak segampang berbicara soal motivasi. Namun seperti Jessica, layaknya kita juga memiliki mental baja yang tidak menyerah dengan keadaan yang terbatas atau sifat pesimis kita.

Sumber : Dream/Jawaban.com by tk

Masih Kecil Sudah Jadi Pahlawan

Kisah Tasripin, anak berusia 13 tahun asal Banyumas, yang harus mengurus ketiga adiknya karena ditinggal ayahnya yang bekerja di Malaysia, dan ibunya yang sudah meninggal, menggugah banyak orang. Tak terkecuali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tersentuh hatinya hingga memberikan bantuan.

Tasripin merupakan gambaran anak yang meskipun belia tapi memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Ia harus bekerja di sawah agar adik-adiknya bisa makan. Mungkin terpaksa karena keadaan. Tetapi apa pun namanya, sikap tersebut telah menginspirasi banyak orang. Di tengah anak-anak seusianya, bahkan remaja lebih tua darinya, yang lepas kendali karena terbiasa menikmati hidup berlebihan, kisah Tasripin ibarat setitik air yang menyejukkan. Sudah pasti masih banyak kisah lain serupa Tasripin tetapi tidak terpublikasi karena tak tercium media.

Di mana kita menemukan contoh-contoh inspiratif selanjutnya? Di India tiap tahun diselenggarakan ajang penobatan pahlawan bagi anak-anak seusia Tasripin yang menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Salah satunya, National Bravery Awards yang sudah digelar sejak tahun 1957.

Dengan adanya ajang itu, tiap tahun muncul pahlawan baru dari kalangan anak-anak. Contohnya, Om Prakash Yadav, 12 tahun. Anak ini berangkat sekolah dengan belasan anak lainnya menggunakan satu mobil van. Di tengah jalan mesin mobil itu koslet hingga terbakar. Sopirnya ngacir menyelamatkan diri, begitupun teman-teman lainnya. Lain dengan Prakash. Begitu melihat delapan temannya terjebak di dalam mobil, ia masuk lagi untuk menolongnya. Ia tak menghiraukan api. Kedelapan anak itu pun selamat berkat pertolongannya, sedangkan ia terbakar muka dan punggungnya. Meski ia selamat peristiwa itu menyisakan luka di wajah dan punggungnya. Dia pun menerima National Bravery Awards untuk kategori Bharat Awards.

Sudah selayaknya kita pun memiliki ajang seperti itu yang dengan rutin memberikan penghargaan pada anak-anak yang inspiratif. Para pahlawan cilik ini tak hanya akan menjadi contoh bagi anak-anak seusianya, tetapi contoh bagi kita semua. Di tengah berita keculasan, kecurangan, kekerasan, korupsi, saling jegal, dan sebagainya, yang menghiasi berita keseharian kita belakangan ini, kisah anak-anak seperti ini akan menjadi semacam percikan embrio dari bangkitnya spirit pembangunan karakter bangsa.

Belajar Bersih dari Xiamen

Jika meminta pendapat pada mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Xiamen, Fujian, China, apa kesannya mengenai kota tempatnya kuliah, ada dua hal yang selalu mereka kemukakan. Yaitu Xiamen sebagai kota terbersih di China dan sebagai kota paling romantis di Negeri Tirai Bambu itu.

Tetapi masih ada julukan lain. Yaitu Xiamen sebagai kota paling indah, juga kota yang paling didambakan sebagai tempat tinggal. Untuk yang terakhir ini, Sina.com, sebuah situs portal berita China, pernah menelusuri bagaimana kesan warga China mengenai Xiamen. Dasar awalnya meniru jajak pendapat yang dibuat The Economist Intelligence Unit (EIU) yang menetapkan Melbourne, Australia, sebagai kota paling didambakan untuk tempat tinggal di dunia karena memiliki skor tertinggi untuk stabilitas keamanan, penanganan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, dan infrastruktur. Kebetulan keempat kategori itu bisa terpenuhi oleh Xiamen dengan skor penilaian yang diperkirakan tinggi jika dilakukan jajak pendapat.

Akan tetapi setelah jajak dilakukan, ditemukan kesan lain yang memperkaya kesan positif terhadap Xiamen. Para responden menyebutkan bahwa kelebihan Xiamen terletak pada sarana transportasinya yang nyaman, udara yang segar, jalan-jalan yang rapi, tingkat pembangunan ekonomi yang tinggi, keamanan publik yang baik, dan jaminan sosial yang juga baik bagi warganya. Tiga komponen pertama sulit didapat di kota-kota besar China sekarang. Bahkan kota seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou dihadapkan pada masalah pencemaran udara yang mengkhawatirkan. Tingkat kemacetan lalu-lintas juga membuat banyak waktu terbuang percuma di jalanan kota-kota besar itu. Sedangkan di Xiamen, hampir tak ada kemacetan dengan jalan-jalan yang lebar sehingga waktu tempuh lebih cepat.

Selain itu kota ini juga nyaman bagi pejalan kaki dengan fasilitas trotoar yang luas, aneka tanaman yang indah di kiri-kanannya, serta kebijakan tak boleh ada sepeda motor melintas di kota. Bagi warga yang ingin bepergian dalam jarak dekat, selain berjalan kaki adalah menggunakan sepeda. Meski belakangan sepeda motor diakali dengan menggunakan sepeda bermesin listrik yang tidak berbunyi saat dikendarai, sejauh ini berjalan kaki di Xiamen masih amat nyaman dibanding di kota-kota lain. Apalagi trotoarnya relatif bersih dari pedagang kaki lima.

Pelajaran dari Beres Zoo

Nama populernya Beres Zoo. Di telinga Indonesia nama itu terdengar unik. Tetapi ia lebih dikenal sebagai “Morning Zoo” karena siaran radio paginya. Namanya sendiri Zoltan Beres, kelahiran Hungaria 29 April 1975.

Sebelum menjadi penyiar radio, ia adalah pencipta lagu, dan disc jockey (DJ) di negaranya, Hungaria. Ia menggagas grup musik 4F-Club dengan album pertamanya Balaton Fever. Album ini sukses dan membuatnya terkenal. Namun Beres tak bisa melanjutkan suksesnya. Ketika album-album berikutnya diluncurkan tak ada yang sukses lagi. Grupnya pun bubar.

Karena kurang berhasil itu ia banting setir menjadi penyiar radio. Dialah penggagas satu style siaran radio yang namanya shock jock, yaitu siaran yang menghibur pendengarnya dengan cerita yang dilebih-lebihkan baik unsur humornya maupun unsur kesedihannya. Style ini lebih dikenal sebagai tabloid radio karena lebih menekankan unsur hiburannya ketimbang fakta. Di Hungaria, dialah orang pertama yang memperkenalkan shock jock ini.

Namun style seperti ini kerap mengundang masalah dan penyiarnya berurusan dengan sejumlah pihak. Beres sendiri beberapa kali berurusan dengan sejumlah pihak hingga ke pengadilan, mulai soal lirik lagunya hingga namanya. Soal namanya, Beres, ia digugat perusahaan farmasi Béres Gyógyszergyár Zrt karena menggunakan nama “Beres” dalam pertunjukannya.

Ibu Kehilangan Dua Kaki Dapat Penghargaan NASCAR

Di Hari Ibu (Mother’s Day) di Amerika Serikat kemarin, NASCAR, arena balapan mobil terkenal di AS mengundang Stephanie Decker, 38 tahun, dan keluarganya ke arena. Stephanie mendapat sambutan meriah di sana dan dielu-elukan sebagai pahlawan. Stephanie hadir bersama suaminya Joe Decker, dan kedua anaknya, Dominic (10 tahun) dan Reese (7 tahun).

Dua tahun lalu Stephanie menggugah dunia dengan aksi heroiknya menyelmatkan kedua anaknya.  Awal Maret 2001 Indiana diterjang tornado dahsyat. Stephanie dan kedua anaknya tak sempat mencari perlindungan ketika angin itu mengarah ke rumah mereka. “Saya pikir posisi kami sudah aman, tak tahunya angin menderu dari belakang. Itu seperti suara kereta yang menghampiri kami,” kata Stephanie. Deru angin menakutkan itu membuat kedua anaknya, Dominic dan Reese, menangis ketakutan.

“Mami, aku tak mau mati. Tolong, jangan biarkan aku mati,” kata Stephanie menirukan anak-anaknya. “Kalian tidak akan mati,” katanya membesarkan hati kedua anaknya.

Lalu ia membawa anaknya ke lantai bawah rumahnya sambil berpikir apa yang harus dilakukan. Namun tornado terlanjur cepat tiba. Stephanie mengambil selimut tebal lalu menutupi kedua anaknya dengan selimut sambil ia peluk erat-erat. “Tiba-tiba aneka benda menimpa punggung saya, dan saya berusaha bertahan,” katanya. Bahkan ia tetap bertahan ketika kedua kakinya tertimpa benda berat.

Setelah tornado berlalu, giliran anaknya yang jadi pahlawan. Dominic tahu ibunya terluka, karena itu ia buru-buru keluar dari pelukan ibunya dan pergi mencari tetangganya untuk menyelamatkan ibunya. Menurut Stephanie, ketika Dominic pergi itulah ia menyadari kedua kakinya tak bisa digerakkan. Stephanie kemudian dibawa ke rumah sakit. Namun ia harus kehilangan kedua kakinya. Sedangkan kedua anaknya tak cedera.

Kemarin Stephanie hadir sebelum pergelaran NASCAR dengan kedua kakinya ditopang kaki palsu. NASCAR memberinya hadiah dana untuk yayasan yang dikelola Stephanie. Yayasan bergerak dalam bidang kemanusiaan untuk memotivasi mereka yang mengalami cedera seperti dirinya dan bantuan lain. Di antara yang dibantu Stephanie adalah para korban Bom Boston yang beberapa di antaranya kehilangan kaki.

Pendaki Gunung

Bobby adalah pendaki gunung yang dikenal akan usahanya untuk mendaki gunung tinggi bersalju. Ia setidaknya sudah mencoba mendaki hingga ke puncak gunung sebanyak 30 kali, tapi selalu saja gagal. Ia memulai pendakiannya dengan baik, fokus pada puncak gunung yang bersalju, membayangkan pemandangan yang mengagumkan dan perasaan bebas ketika berada di sana.

Tapi ketika pendakiannya mulai terasa berat, kekuatannya mulai berkurang, daya pandangnya menurun, dan ia lebih sering memandangi sepatu boots-nya yang usang. Akhirnya, saat awan memenuhi langit di atasnya, ia menyadari bahwa dirinya tak bakal mampu menikmati pemandangan dari puncak gunung saat itu. Lalu, ia duduk beristirahat, dan merasa lega karena akan mulai menuruni gunung kembali menuju pedesaan, meski agak khawatir akan ejekan dan cemoohan orang-orang yang akan diterimanya.

Suatu hari, Bobby berjumpa dengan Risman yang sudah tua. Ia seorang ahli kacamata di kota, yang menyaksikan sendiri kegagalan yang dialami Bobby. Risman inilah yang paling mendukung Bobby untuk pantang menyerah. Akhirnya, Risman memberikan sebuah kacamata hitam yang khusus. "Jika awan mulai gelap, pakai kacamatanya. Atau kalau kakimu mulai terasa sakit, pakai juga kacamatanya. Ini kacamata spesial yang akan membantumu."

Bobby menerima hadiah itu sambil lalu. Tapi pada kesempatan pendakian berikutnya, Bobby tak lupa membawa serta pemberian Risman itu. Ketika jalur pendakiannya mulai membuat kaki Bobby terasa sakit, ia teringat akan ucapan Risman, dan dipakailah kacamata itu. Rasa sakitnya sangat parah, tapi dengan kacamata baru itu ia masih bisa menahannya dan mampu melihat puncak gunung yang bersalju di atas sana. Jadilah, ia kembali meneruskan pendakiannya.

Ketika kelihatannya puncak gunung tinggal berjarak sedikit lagi, tibat-tiba datang awangelap yang menutupi langit. Tapi kali ini di antara awan-awan itu ia masih bisa melihat puncak gunung. Bobby pun melanjutkan pendakiannya, hingga berhasil melewati kumpulan awan itu, melupakan rasa sakitnya, dan akhirnya tiba juga di puncak gunung. Usahanya itu benar-benar terbayar lunas. Kemenangan yang diraihnya tiada bandinganya; begitu indah sama seperti pemandangan di sekitar, yang memancarkan keelokan di tengah-tengah suasana yang tenang. Bagian bawah gunung tertutup lautan awan yang tebal. Bobby tidak ingat awan yang tadi berhasil dilewatinya ternyata setebal itu, karenanya ia mencoba memperhatikannya lebih cermat dengan kacamata hitamnya. Akhirnya ia mengerti.

Ternyata Risman sudah memasang sebuah gambar tipis di dalam lensa, dalam bentuk pemandangan puncak gunung yang tertutup salju. Kacamata itu dibuat sedemikian rupa sehingga Bobby hanya bisa melihatnya jika pandangannya diarahkan ke atas. Risman memahami ketika Bobby kehilangan sasarannya, ia sama saja kehilangan mimpinya, dan keinginan untuk melanjutkan pendakian akan berkurang.

Bobby menyadari bahwa selama ini satu-satunya penghalang dirinya mencapai puncak gunung adalah rasa putus asanya, hilangnya semangat dalam diri untuk terus berjuang. Ketika ia tidak mampu lagi melihat puncak gunung, masalahnya mulai muncul. Ia berterima kasih pada Risman karena menggunakan trik yang membantunya melihat bahwa tujuannya tidaklah mustahil.

Kisah Bobby di atas tentu pernah atau sedang kita alami saat ini. Apakah penghalang diri kita mencapai target sasaran kita, dan apa pula trik yang bisa kita gunakan untuk berfungsi layaknya kacamata hitam spesial milik Bobby? Kenalilah kelemahan kita sehingga kita bisa mencegah kelemahan itu melemahkan semangat kita, dan sadarilah kekuatan kita agar kita bisa menggunakannya sebagai penyemangat dan pendorong di kala kita hendak menyerah.

Tak Mau Kehilangan Kesempatan

Ernest Clayton Walker Jr lahir di Beaumont, Texas, pada 19 Agustus 1969 dari orangtua bernama Ernest dan Danna Walker, sebuah keluarga sederhana. Ia anak pertama dari lima bersaudara. Waktu usianya sembilan tahun ayahnya memberi hadiah gitar. Sejak itu ia tak lepas dari alat musik tersebut, memainkannya, dan mencoba mencipta lagu.

Ketika usianya menginjak 15 tahun ia mulai ikut kompetisi nyanyi. Namun nasibnya masih belum beranjak. Ia tetap harus membanting tulang membantu keluarga. Sambil sekolah malamnya bekerja sebagai juru ketik di sebuah motel. Kondisi itu tak memupus harapannya untuk menjadi penyanyi country. Bahkan ia terus mencari cara agar mimpinya tercapai. Misalnya, ia mengirimkan rekaman lagu hasil ciptaannya ke studio radio untuk diperdengarkan pada publik. Meski lagunya dianggap bagus, radio itu tak bersedia memutar lagu ciptaannya.

Tamat SMA tekadnya makin bulat.Untuk mencapainya ia susun target, seperti menuliskan lima tahun ke depan ia harus jadi apa. "Saya petakan bagaimana caranya agar bisa punya album sendiri, bagaimana pakaian yang harus dikenakan band saya, dan sebagainya," ia mengungkapkan rencananya.

Sayangnya rencana tak mudah dicapai. Ia malah bekerja di pabrik ban. Namun saat usianya memasuki 19 tahun ia memberanikan diri menjajakan suaranya dari bar ke bar sampai akhirnya mendapat kontrak sebagai penyanyi tetap bar Neon Armadillo, di Beaumont, Texas.

Suatu kali di tahun 1992, ia sedang manggung dalam suatu kesempatan. Entah kebetulan atau bagaimana di antara penonton hadir James Stroud, seorang produser dari perusahaan rekaman terkenal, Giant Record. Walker mengenalinya. Ia pun berusaha tampil maksimal agar menarik perhatian. Namun setelah beberapa lagu rupanya Strout kurang berkesan dengan penampilan Walker. Ia lalu pergi.Untungnya Walker bisa menyelesaikan lagu terakhirnya dan sempat mengejar Stroud hingga ke limosinnya. "Saya tak boleh kehilangan dia," katanya.

Ia mengetuk kaca jendela limosin Stroud. "Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya pada Stroud. Menurut Walker, Stroud bilang baik-baik saja.

Namun dengan pengejaran itu Walker telah membuka pintu suksesnya. Tak berapa lama kemudian ia sudah membuat album pertamanya di bawah arahan Stroud. Dan pilihan Stroud tak salah. Dari album berjudul Clay Walker ini tiga lagu di antaranya "What's It to You", "Live Until I Die" dan "Dreaming with My Eyes Open" bergiliran menduduki tangga lagu pertama. Sejak saat itulah Walker berkembang menjadi bintang musik country. Tak hanya itu, sejumlah pengamat musik memberi apresiasi lebih tentang penyanyi ini. Walker disebutkan memiliki karakter khas yang dianggap sangat kental dengan jenis musik ini baik suara, gaya, hingga cara berpakaian. Bahkan penampilannya menjadi trend setter musik country.
 →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by Cerita Langit