Tahukah Anda dimana letak pohon Natal tertinggi di Asia? Pohon itu terdapat di Taman rekreasi Legoland, Johor, Malaysia.
Keunikan dari pohon ini adalah keseluruhan pohon terbuat dari mainan lego. Pohon Natal yang setinggi sembilan meter itu terbuat dari 400 ribu potongan Lego dan dihiasi dengan 260 ornamen Lego.
Dirancang dengan program komputer canggih pada awalnya, pohon itu kemudian dirakit oleh sembilan tim dimana desain awal pohon dikerjakan di negara Republik Ceko dimana Shop Lego Model terbesar berada. Butuh waktu 10 minggu untuk merampungkan pohon Natal yang memiliki berat mati enam ribu kilogram tersebut.
Pohon itu kemudian dikirim ke Malaysia dalam 40 bagian dan dirakit ulang di taman rekreasi Legoland.
Menurut General Manajer Legoland Malaysia, Siegfried Boerst pembangunan pohon Natal itu merupakan tradisi tahunan yang ada di taman rekreasi Legoland di seluruh dunia.
Meskipun tingginya mencapai 9 meter, namun pohon ini sudah dirancang untuk bertahan dalam segala kondisi seperti panas, angin kencang, dan hujan. Pohon yang dilengkapi dengan 108 lilin LED itu sudah ditampilkan sejak Kamis malam (19/11) hingga awal Januari 2013.
Arti Natal untuk Umat Teraniaya di Asia Tengah
Berbeda dengan umat Kristen di Indonesia yang masih bisa menikmati kebebasan untuk mempersiapkan dan merayakan hari Natal, umat Kristen di Asia Tengah yang teraniaya tidak dapat mempersiapkan, juga terancam tidak dapat merayakan natal secara bebas.
Gereja-gereja di Asia Tengah hanya dapat bertemu dalam kelompok kecil di rumah-rumah, bahkan mereka siap mempertaruhkan hidup mereka untuk merayakan kelahiran Yesus. Namun keadaan seperti ini tidak membuat semangat mereka merayakan natal menjadi hilang. Justru menambah keimanan mereka terhadap Kristus.
"Natal berarti pengharapan bagi kami. Disepanjang hidup saya dulu takut kematian. Orang tua saya tidak bisa memberi saya kepastian pengharapan, mereka tidak tahu bagaimana memberikan jawaban tentang itu. Awalnya mereka mengatakan bahwa mereka adalah komunis, kemudian ketika saya mulai membaca Alkitab mereka melarang saya dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah kaum M. Dan saya tidak menemukan kepastian dalam agama yang lama tetapi kelahiran Yesus Kristus memberikan kita pengharapan yang pasti!" ungkap seorang saudara seiman di Asia Tengah yang tidak mau disebutkan namanya.
Dirinya juga mengungkapkan bahwa pernyataan Allah kepada dunia dalam rupa manusia menjadi pengharapan umat percaya disana.
"Selama hidup kami yang dahulu orang tua kami mengajarkan untuk berbuat baik, sembayang secara rutin setiap hari, berbuat baik kepada semua orang dan melakukan banyak hal dan bahkan lebih untuk bisa mendapatkan kehidupan kekal itu. Tapi melalui kelahiran Yesus, kita melihat bahwa Allah mengasihi kita dan bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya menerima anugerah keselamatan," katanya.
Natal datang kembali menyapa kita untuk merenungki kasih sukacita Kristus yang hadir sebagai bentuk pernyataannya kepada umat manusia. Dalam semangat itu, kita diajak untuk mengingat Saudara dan Saudari seiman dari Tubuh Kristus yang teraniaya di mana mereka mengalami penganiayaan karena iman. Dan mendoakan mereka agar secepatnya mendapatkan kemerdekaan didalam Kristus.
Gereja-gereja di Asia Tengah hanya dapat bertemu dalam kelompok kecil di rumah-rumah, bahkan mereka siap mempertaruhkan hidup mereka untuk merayakan kelahiran Yesus. Namun keadaan seperti ini tidak membuat semangat mereka merayakan natal menjadi hilang. Justru menambah keimanan mereka terhadap Kristus.
"Natal berarti pengharapan bagi kami. Disepanjang hidup saya dulu takut kematian. Orang tua saya tidak bisa memberi saya kepastian pengharapan, mereka tidak tahu bagaimana memberikan jawaban tentang itu. Awalnya mereka mengatakan bahwa mereka adalah komunis, kemudian ketika saya mulai membaca Alkitab mereka melarang saya dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah kaum M. Dan saya tidak menemukan kepastian dalam agama yang lama tetapi kelahiran Yesus Kristus memberikan kita pengharapan yang pasti!" ungkap seorang saudara seiman di Asia Tengah yang tidak mau disebutkan namanya.
Dirinya juga mengungkapkan bahwa pernyataan Allah kepada dunia dalam rupa manusia menjadi pengharapan umat percaya disana.
"Selama hidup kami yang dahulu orang tua kami mengajarkan untuk berbuat baik, sembayang secara rutin setiap hari, berbuat baik kepada semua orang dan melakukan banyak hal dan bahkan lebih untuk bisa mendapatkan kehidupan kekal itu. Tapi melalui kelahiran Yesus, kita melihat bahwa Allah mengasihi kita dan bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya menerima anugerah keselamatan," katanya.
Natal datang kembali menyapa kita untuk merenungki kasih sukacita Kristus yang hadir sebagai bentuk pernyataannya kepada umat manusia. Dalam semangat itu, kita diajak untuk mengingat Saudara dan Saudari seiman dari Tubuh Kristus yang teraniaya di mana mereka mengalami penganiayaan karena iman. Dan mendoakan mereka agar secepatnya mendapatkan kemerdekaan didalam Kristus.
Pesan Natal dari PGI dan KWI
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja di Indonesia (KWI) telah menyepakati pesan Natal bersama 2012 yang bertemakan "Allah Telah Mengasihi Kita".
Seperti diungkapkan Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo seusai konferensi pers soal pesan moral KWI 2012 di Jakarta, Jumat (16/11), bahwa umat harus menyadari Allah itu adalah kasih sehingga umat pun diundang untuk saling mengasihi.
Lebih Lanjut Suharyo menyatakan pesan Natal ini sangat relevan dengan pesan pastoral sidang KWI tahun 2012 yang menyoroti isu lingkungan hidup.
"Pesan natal bahwa Allah sudah mengasihi ada kaitannya dengan pesan lingkungan. Ketika saya membuang sampah pada tempatnya, itu merupakan wujud kasih saya terhadap lingkungan, sehingga orang lain tidak terpeleset misalnya," jelasnya.
Secara lengkap, ada tiga poin penting dari pesan Natal yang nantinya akan dibacakan saat ibadah perayaan Natal 2012, yakni kasih Allah bagi semua manusia, kasih Allah tanpa syarat dan mengasihi seperti Allah.
Berharap pesan Natal bersama dari PGI dan KWI ini dapat diserap oleh setiap umat Kristiani di Indonesia dan kita semua langsung mempraktikkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Allah sudah berbuat kasih untuk kita, marilah kita berbuat kasih kepada sesama kita !
Seperti diungkapkan Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo seusai konferensi pers soal pesan moral KWI 2012 di Jakarta, Jumat (16/11), bahwa umat harus menyadari Allah itu adalah kasih sehingga umat pun diundang untuk saling mengasihi.
Lebih Lanjut Suharyo menyatakan pesan Natal ini sangat relevan dengan pesan pastoral sidang KWI tahun 2012 yang menyoroti isu lingkungan hidup.
"Pesan natal bahwa Allah sudah mengasihi ada kaitannya dengan pesan lingkungan. Ketika saya membuang sampah pada tempatnya, itu merupakan wujud kasih saya terhadap lingkungan, sehingga orang lain tidak terpeleset misalnya," jelasnya.
Secara lengkap, ada tiga poin penting dari pesan Natal yang nantinya akan dibacakan saat ibadah perayaan Natal 2012, yakni kasih Allah bagi semua manusia, kasih Allah tanpa syarat dan mengasihi seperti Allah.
Berharap pesan Natal bersama dari PGI dan KWI ini dapat diserap oleh setiap umat Kristiani di Indonesia dan kita semua langsung mempraktikkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Allah sudah berbuat kasih untuk kita, marilah kita berbuat kasih kepada sesama kita !
Hadiah yang Terus Menjadi Berkat
Pada malam Natal sebelas tahun yang lalu, anak-anak perempuan kami memberikan hadiah yang sangat istimewa. Begitu istimewanya hadiah itu sehingga sampai sekarang tetap menjadi berkat dari tahun ke tahun.
Julie dan Jennifer masing-masing berusia enam dan delapan tahun. Anak laki-laki kembar kami, John dan Jeremy, belum genap berusia dua tahun. Saya ingat, waktu itu saya merasa lelah. Anak kembar kami terus-menerus meminta perhatian. Namun, saya masih dapat mengerjakan tugas-tugas yang biasa saya lakukan pada Hari Natal. Pohon Natal yang tinggi sudah selesai dihias, hadiah-hadiah sudah dibungkus rapi. Makanan sudah disiapkan. Pintu juga sudah dihias. Hadiah untuk anak-anak sudah dipilih dengan teliti.
Saya lelah, tetapi gembira. Julie mencegat saya di dapur. "Bu, Jennifer dan saya mempunyai hadiah untuk Ibu dan Ayah. Tetapi hadiah itu bukan hadiah biasa yang dapat dibungkus. Kami ingin Ayah dan Ibu duduk memangku adik-adik supaya kami dapat memberikan hadiah itu." Sebenarnya masih ada yang harus saya kerjakan, dan saya tidak mau duduk-duduk pada waktu itu. "Ayolah, Bu," Julie memohon, "hanya beberapa menit saja." Saya mengalah dan memanggil suami saya. Perlu usaha yang cukup keras juga supaya kedua anak kembar kami dapat duduk tenang di pangkuan. Tetapi akhirnya kami siap. Julie dan Jennifer berdiri dengan gugup di dekat tungku, saling berpegangan tangan. Mereka memakai baju panjang flanel kepunyaan nenek berwarna merah, dan memakai topi kecil penutup debu yang sesuai. "Sebelumnya, lampu-lampu harus dimatikan," kata Julie dengan suara yang mengundang rasa ingin tahu. "Kami hanya ingin lampu pohon Natal itu yang bersinar," kata Jennifer menjelaskan.
Dengan pandangan lurus ke depan, mereka menyanyikan lagu "Malam Kudus". Lalu Julie mendeklamasikan sebuah puisi tentang kasih Allah. Setelah itu, Julie berkata kepada ayahnya, dengan nada malu-malu, "Maukah Ayah membacakan cerita Natal dari Alkitab tentang kelahiran Yesus? Guru Sekolah Minggu kami membacakannya hari Minggu yang lalu."
Jerry mengambil Alkitabnya dan membacakan cerita itu, ia mendekati pohon Natal supaya dapat melihat dengan jelas. Kami semua mendengarkan. Bahkan kedua anak kembar kami juga diam dan duduk dengan tenang. Setelah Jerry selesai membaca, Julie berkata sangat pelan sampai kami hampir tidak dapat mendengarnya, "Sekarang dapatkah kita berdoa bersama?"
Kami belum pernah mengadakan kebaktian keluarga, karena itu kami ragu-ragu bagaimana memulai doa. Tetapi, meskipun begitu kami satu per satu berdoa bergantian. Pada saat itu saya menyadari sesuatu yang istimewa terjadi dalam keluarga kami [Red; karena Guru SM!!]. Melalui hadiah yang diberikan kedua putri kami, kami belajar bahwa kami dapat berdoa bersama. Jadi selama tahun-tahun berikutnya kami tetap mengadakan kebaktian keluarga, tidak hanya pada Hari Natal, tetapi sepanjang tahun.
Hadiah pemberian kedua putri kami pada malam Natal itu merupakan karunia iman. Sejak itu hadiah tersebut membuat kami bertumbuh dan menopang keluarga kami. Hadiah itu merupakan pemberian yang tetap menjadi berkat.
Sumber : Marion Bond West
Anak-Anak dan Natal yang Menakjubkan: Pola Kasih
Saya tidak bertanya kepada Timmy, sembilan tahun, atau kepada Billy, adiknya yang berumur tujuh tahun, mengenai kertas pembungkus berwarna coklat yang berkali-kali pindah tangan di antara mereka berdua setiap kali kami memasuki toko.
Setiap tahun pada masa Natal, kelompok pelayanan kami mengajak anak- anak dari keluarga yang kurang mampu di kota kami untuk berbelanja ditemani oleh satu orang. Kebetulan saya harus menemani Timmy dan Billy, yang ayahnya menganggur. Sesudah memberikan uang kepada mereka masing-masing empat dolar, kami mulai berkeliling. Di setiap toko saya memberikan usul, tetapi mereka selalu menjawab dengan gelengan kepala yang mantap. Akhirnya saya bertanya, "Kalian mungkin punya usul toko mana yang harus kita datangi?"
"Bisakah kita pergi ke toko sepatu, Pak?" jawab Timmy. "Kami ingin memberikan sepasang sepatu kerja untuk ayah."
Di sebuah toko sepatu, pramuniaga menanyakan apa yang mereka perlukan. Mereka mengeluarkan kertas coklat itu. "Kami memerlukan sepasang sepatu kerja yang pas untuk kaki ini," kata mereka.
Billy menjelaskan gambar pola kaki ayah mereka di kertas coklat itu. Mereka mengambarnya waktu ayahnya tertidur di sebuah kursi.
Pramuniaga itu mencocokannya dengan penggaris, lalu ia pergi. Tidak lama kemudian, ia datang dengan sebuah kotak yang terbuka. "Apakah sepatu itu cocok? tanyanya.
Timmy dan Billy memegang sepatu itu dengan sangat gembira. "Berapa harganya?" tanya Billy.
Timmy melihat harga yang tertera di kotak sepatu itu. "Enam belas dolar sembilan puluh lima sen," katanya kaget. "Kita hanya mempunyai uang delapan dolar."
Saya memandang pramuniaga itu dan ia berdehem. "Itu harga biasa," katanya, "tetapi sepatu itu sedang diobral; harganya menjadi tiga dolar sembilan puluh delapan sen, khusus untuk hari ini."
Lalu, sambil memegang sepatu itu dengan gembira, mereka membelikan hadiah untuk ibu dan kedua adik perempuan mereka. Mereka sama sekali tidak memikirkan diri mereka sendiri.
Sehari sesudah Natal, ayah anak-anak itu menghentikan saya di tengah jalan. Ia memakai sepatunya yang baru, dan di matanya terpancar rasa terima kasih. "Saya berterima kasih kepada Yesus karena ada orang- orang yang mau memperhatikan," katanya.
"Dan saya berterima kasih kepada Yesus karena kedua anak laki-laki Anda," jawab saya. "Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang Natal dalam satu malam, lebih daripada yang sudah saya pelajari seumur hidup saya."
Sumber : Jack Smith (seperti yang diceritakan kepada Raymond Knowles)
Revival di Himalaya
Beberapa tahun yang lalu pada waktu Natal yang bersalju, Kaleb (bukan nama sebenarnya) ingin pergi berbelanja. Dia adalah orang baru di Himalaya dan ingin jalan-jalan di kota sebelum meneruskan perjalanannya. Ketika itu dia memperhatikan para pejalan kaki berkerumun mengelilingi seorang gadis yang tidak sadarkan diri karena kerasukan. Gadis itu berteriak dan memutuskan rantai yang dipakai orang-orang untuk mengikatnya. Seorang dukun mencoba untuk mengusir kuasa jahat itu, tetapi tidak menunjukkan hasil.
Meskipun merasa tidak pasti, Kaleb berjalan melalui kerumunan itu sambil membawa belanjaannya. Kata Kaleb:
"Namun dalam hati, saya merasa yakin bahwa Yesus yang berkuasa dalam diri saya mampu menolong gadis itu. Jadi saya putuskan untuk berbalik mendekati kerumunan itu dan menyampaikan keinginan saya untuk mendoakan gadis itu."
"Dukun yang ada hanya tersenyum, dan dia menunjukkan daftar panjang dari persembahan-persembahan yang seharusnya disediakan oleh keluarga gadis itu jika mereka menginginkan untuk mengusir kuasa-kuasa jahat itu. Dukun itu juga berkata bahwa saya tidak mengetahui betapa kuat roh-roh jahat yang menguasai si gadis. Meskipun demikian, saya tetap tenang, dan akhirnya diperbolehkan untuk mendoakannya dalam nama Yesus. Saya mendoakan gadis itu dan beberapa saat kemudian dia merasa tenang dan akhirnya dibebaskan dari pengaruh roh-roh jahat. Peristiwa ini menarik banyak orang dan mereka mulai bertanya dimana saya tinggal dan siapa saya sebenarnya."
"Jam 05.00 keesokan paginya, kami sekeluarga dibangunkan oleh ketukan yang keras: sekitar 70 orang penduduk lokal berdiri di depan rumah sambil membawa obor. Mereka bertanya apakah Yesus tinggal di rumah kami. Dengan pasti kami menjawab, 'Ya', karena Yesus tinggal dalam diri kami. Semula kami berpikir bahwa gadis yang saya tolong kemarin kambuh lagi dan mereka datang untuk membunuh kami. Namun ternyata bukan itu masalahnya! Mereka membawa sejumlah orang sakit dan memohon kami agar bersedia mendoakan orang-orang sakit itu sebelum kami pindah tempat tinggal. Sungguh mengejutkan: setiap kali menumpangkan tangan kepada seseorang yang sakit, saya tahu dengan pasti apa yang perlu didoakan. Setiap orang sakit yang kami doakan disembuhkan atau dibebaskan dari pengaruh roh-roh jahat. Banyaknya penduduk yang datang mengalir ke tempat kami telah mencegah kami untuk melanjutkan perjalanan sesuai rencana pada hari itu. Kami berdoa dengan mereka sampai jam 20.00 malam. Kemungkinan ada sekitar 3.000 orang yang hadir di tempat kami. Kami memanfaatkan kesempatan tersebut semampu kami untuk mensharingkan tentang Yesus, dan kami memutuskan untuk tetap tinggal di kota itu."
"Dalam waktu singkat, banyak orang yang menyatakan keinginan mereka untuk mengikut Yesus dan rindu untuk dibaptis. Lalu kami mulai mengatur mereka untuk membuka gereja-gereja rumah. Gerakan ini sungguh luar biasa dan saya perkirakan mereka yang menerima Kristus itu adalah 10% dari total populasi di wilayah tersebut!"
"Saya kadang-kadang memikirkan apa yang akan terjadi jika saya mengabaikan suara Yesus yang mendorong saya untuk mendoakan gadis yang kerasukan roh-roh jahat di jalan beberapa hari yang lalu."
Sumber: JOEL-NEWS-INTERNATIONAL
Natal di Jepang
Secara umum, hari raya Natal di Jepang kalah pamornya dibandingkan dengan hari raya Tahun Baru. Di sana, Tahun Baru dianggap lebih penting daripada hari Natal. Tetapi meskipun hari Natal juga diperingati dengan cukup meriah di Jepang, baik dengan tukar-menukar kado, makan malam bersama, maupun memasang pohon Natal, semua itu hanya didasari pada rasa ketertarikan pada tradisi negara-negara Barat dalam merayakan Natal; bisa dikatakan mereka hanya ikut-ikutan. Selain itu, toko-toko yang ikut memeriahkan Natal di Jepang hanya menggembar-gemborkan Natal dan menjual ornamen-ornamen Natal. Natal dirayakan, tidak lain hanya untuk alasan komersial saja. Dan yang paling ironis, meski perayaan Natal di Jepang bisa dikatakan meriah, tidak banyak orang Jepang yang mengerti makna Natal yang sesungguhnya.
NATAL DAN TAHUN BARU DI JEPANG
Natal diperkenalkan di Jepang oleh para misionaris. Selama bertahun-tahun, yang merayakan Natal hanyalah orang-orang Jepang yang bertobat dan mengaku Yesus sebagai Juru Selamat. Namun begitu, kini suasana Natal di Jepang sangat meriah dan menyita perhatian hampir seluruh negeri. Tukar-menukar kado merupakan tradisi lama orang-orang Jepang. Toko-toko yang ada di Jepang memanfaatkan momen Natal untuk kepentingan komersial -- sama dengan yang dilakukan toko-toko di negara-negara Barat. Selama beberapa minggu sebelum Natal, toko-toko di sana mengembar-gemborkan Natal. Toko-toko itu memajang pernak-pernik Natal dan hadiah yang cocok untuk pria, wanita, dan terutama anak-anak. Dengan jumlah satu persen penduduk yang beragama Kristen, sedikit sekali orang Jepang yang benar-benar memahami makna Natal.
Kisah bayi Yesus yang lahir di palungan memang menarik bagi gadis-gadis cilik di Jepang karena mereka memang menyukai segala sesuatu yang berkenaan dengan bayi. Saat Natal, banyak orang yang mengenal palungan untuk pertama kalinya karena biasanya bayi Jepang tidak tidur di palungan.
Banyak tradisi Barat dalam merayakan Natal yang diadopsi oleh orang Jepang. Memang sudah merupakan kebiasaan orang Jepang untuk mencari sesuatu yang menarik dari negara-negara Barat dan kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang kental dengan khas Jepang. Selain tukar-menukar kado, keluarga-keluarga Jepang juga makan kalkun pada hari Natal, dan bahkan ada pohon Natal di beberapa tempat umum. Mereka menghias rumah mereka dengan pohon cemara, dan puji-pujian Natal dikumandangkan dengan sukacita di beberapa rumah. Sering kali, sebuah ranting juga digantung di langit-langit rumah. Krans Natal digantung di depan pintu sebagai simbol keberuntungan.
Di Jepang, ada tuhan atau pendeta yang disebut "Hoteiosho" -- versi lain Sinterklas. Ia digambarkan sebagai pria tua baik hati yang memanggul tas besar. Beberapa rumor mengatakan bahwa ia memunyai mata di bagian belakang kepalanya. Penting bagi anak-anak untuk bersikap baik saat tersiar kehadiran Hoteiosho.
Tahun Baru merupakan hari raya terpenting dalam kalender Jepang. Pada malam Tahun Baru, seluruh rumah dibersihkan dari atap sampai lantai bawah. Seluruh rumah dihiasi untuk menyambut hari itu. Saat segala sesuatu telah bersih dan rapi, seisi rumah memakai pakaian yang paling bagus, sering kali mereka memakai baju nasional Jepang -- kimono. Kemudian, kepala keluarga berjalan mengelilingi rumah sambil diikuti seisi rumah untuk mengusir roh-roh jahat. Ia melempar buncis kering ke setiap sudut rumah agar roh-roh jahat keluar dari rumah dan keberuntungan masuk ke rumah. Seluruh keluarga pergi ke kuil Shinto, menepukkan kedua tangan mereka untuk menarik perhatian tuhan mereka dan memohon peruntungan. Sering kali, kesialan-kesialannya dibakar, namun variasi kebiasaan itu tergantung pada kuil dan tuhannya.
SEJARAH KEKRISTENAN DI JEPANG
Sebelum kekristenan masuk ke negara yang sekarang disebut Amerika Serikat, kekristenan telah masuk ke negara Jepang. Agama Kristen pertama kali diperkenalkan di Jepang pada abad ke-16 oleh kaum Jesuit dan kemudian oleh para misionaris Fransiskan. Pada akhir abad itu, kira-kira ada 300.000 orang Jepang yang dibaptis.
Sayangnya, situasi yang menjanjikan itu mulai ditentang oleh kelompok misionaris lain dan intrik-intrik politik yang datang dari pemerintah Spanyol dan Portugis, serta partai-partai politik pemerintahan Jepang sendiri. Akibatnya, orang-orang Kristen ditindas.
Korban pertamanya adalah 6 biarawan Fransiskan dan 20 orang petobat yang disalib di Nagasaki pada 5 Februari 1597. Setelah adanya toleransi terhadap orang-orang Kristen yang hanya berlangsung selama beberapa waktu, banyak orang Kristen yang ditangkap, dipenjara, atau dianiaya dan dibunuh; dan gereja pun terpaksa bergerak di bawah tanah pada 1630. Meski begitu, saat Jepang kembali membuka diri kepada negara-negara Barat 250 tahun setelah peristiwa tersebut, ternyata komunitas Kristen Jepang masih bertahan di bawah tanah, tanpa pendeta dan Injil; mereka bertahan hanya dengan instruksi sederhana mengenai iman mereka, tetapi dengan iman yang teguh percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat mereka.
Gereja mulai bertumbuh lagi setelah Komodor Perry membuka negara Jepang dengan armadanya dari Amerika. Misionaris tumpah ruah ke Jepang.
Namun demikian, selama Perang Dunia II, oleh karena curiga dengan orang-orang Kristen dan orang-orang Barat, pemerintah Jepang menggiring orang-orang Kristen ke Nagasaki. Sungguh ironis, negara yang paling bertanggung jawab untuk menginjili orang-orang Jepang, malah menjatuhkan bom nuklir di Nagasaki dan membunuh banyak orang Kristen. Meski begitu, masih ada orang-orang Kristen yang berdedikasi di Jepang, dan gereja pun terus bertumbuh. (t/Dian)
Diterjemahkan seperlunya dari: Central Valley Christian School`s
Rumania: Aristar
"Pernahkah Anda mencium bau rumput segar?"
Aristar, anak pertanian, memulai kisahnya. "Seperti menangkap inti sari musim semi dan membungkusnya sebelum kesegarannya hilang. Maria dan Yusuf menciumnya saat mereka tiba di kandang setelah perjalanan panjang mereka."
Tahanan lain mendengarkannya dengan saksama saat Aristar berbicara dengan jelas tentang peristiwa kelahiran itu. "Kuda-kuda di sana akan menyendengkan telinganya mendengarkan tangisan Sang Juru Selamat saat Ia lahir. Kuda-kuda itu merupakan pendengar yang baik, kita juga harus demikian saat Yesus berbicara.
Di luar penjara Roma di Tirgul-Ocna itu, ketebalan salju lebih dari satu meter. Saat itu malam menjelang Natal dan sangat dingin. Para tahanan hanya punya beberapa pakaian, sedikit makanan, dan hanya selembar selimut seadanya. Mereka semua merindukan keluarga mereka, dan mendengarkan kisah Aristar tentang kelahiran Kristus untuk menenangkan diri.
Aristar melanjutkan, "Cahaya bintang pasti lebih terang dari bulan. Terangnya menembus pintu kandang kuda dan membuat ternak bersuara, mengumumkan kelahiran Kristus." Para tahanan itu mendengarkan dan menangis. Setelah kisah itu, seseorang mulai menyanyi, perlahan mulai bergema di udara yang jernih dan dingin itu. Setiap orang mendengarkan suara yang merdu itu.
Bahkan di penjara yang keras, kisah anugerah Kristus menghangatkan hati banyak orang. Karena Kristus adalah dasar, tak seorang pun sanggup mengunci semangat Natal.
****
Memang Natal adalah perayaan tahunan. Namun, Natal lebih dari sekadar itu; Natal terjadi dalam hati semua orang yang berhenti untuk merayakan keajaiban masuknya Kristus dalam dunia -- apa pun musimnya. Semangat hangatnya Natal bersinar ke dalam situasi-situasi kita yang paling gelap dan mengingatkan kita tentang harapan kita dalam Kristus. Kita bisa merayakan Natal dengan ataupun tanpa melihat salju yang jatuh ke tanah, terang cahaya yang berwarna-warni, dan pohon yang dihiasi. Apa pun yang Anda alami, Kristus lahir untuk menolong Anda di saat-saat Anda membutuhkan. Belas kasihannya terbentang sepanjang tahun. Kapan terakhir Anda merasakan harapan akan Kristus dalam jiwa Anda? Ambillah waktu hari ini untuk merayakan kelahiran Kristus -- di dalam dunia Anda dan di dalam hati Anda.
****
Diambil dan disunting seperlunya dari : Devosi Total
Di Luar Perkiraan
Aku dan istriku dianugerahi empat orang anak yang hebat. Mereka adalah anak-anak kembar 4, yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Ketiga anak laki-laki kami ialah Jon, Paul, dan Steven. Sheila adalah satu-satunya anak perempuan dari anak kembar empat kami. Beberapa saat setelah dilahirkan, ketiga anak laki-laki kami didiagnosis mengidap penyakit "Duchenne Muscular Dystrophy". Penyakit ini menyerang otot-otot sehingga otot-otot tersebut melemah sedikit demi sedikit. Prediksi yang paling optimistis menyatakan bahwa mereka hanya bisa hidup sampai usia 17 tahun. Sebagian besar waktu mereka akan dihabiskan di kursi roda.
Ketiga anak laki-laki kami lebih mujur ketimbang anak-anak yang mengidap penyakit yang sama. Kami beruntung bisa bersama mereka selama 22 tahun, 23 tahun, dan 24 tahun. Biasanya, anak-anak yang mengidap penyakit ini tidak bisa melewati sekolah dasar. Ketiga anak laki-laki kami bisa bersekolah di sekolah umum. Mereka selalu masuk dalam daftar ranking siswa yang berprestasi. Bahkan, mereka sedang kuliah di perguruan tinggi ketika mereka meninggal. Mereka baru bergantung pada kursi roda pada usia 12 tahun. Mereka jarang mengeluh meskipun harus memakai penyangga sampai ke dada mereka. Selain itu, tangkai baja ditanam di sepanjang tulang belakang mereka. Mereka bertiga saling menunjang. Tak ada sesuatu pun yang tak dapat mereka pecahkan bersama. Mereka tak pernah mengasihani diri mereka sendiri. Meskipun hidup mereka sangat singkat, mereka menggunakannya sebaik mungkin. Mereka memperkaya hidup semua orang yang berhubungan dengan mereka.
Mukjizat Natal yang kami alami pada 1990 melibatkan putra tertua kami, Jon. Pada bulan November 1990, ia harus masuk rumah sakit Strong Memorial di Rochester, New York, 117 mil jauhnya dari rumah kami di Salamanca. Ia didiagnosis mengidap "pneumonia" dan harus mendapat perawatan yang semestinya. Aku dan istriku, Ginger, menengoknya hampir setiap hari dan keadaannya mulai membaik. Tetapi, kondisinya memburuk pada hari yang kesepuluh. Rumah sakit menelepon kami dan mengatakan bahwa ia telah dipindahkan ke bagian perawatan intensif.
Ketika kami tiba, kami mendapatkan dia dengan alat bantu hidup, tabung "tracheotomy" di tenggorokannya, dan ia hampir tak dapat berbicara. Apa yang dapat kami lakukan hanyalah tidak memerlihatkan air mata kami kepadanya. Malam itu, kami berdoa seperti yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Beberapa hari kemudian, ia hanya bisa menulis dan memberi tahu kami bahwa ia tidak ingin bergantung pada sebuah mesin untuk memertahankan hidupnya. Sebelumnya, Jon bergantung pada kursi roda listrik selama bertahun-tahun. Ia hendak menulis di tanganku, "Ayah, tarik stekernya." Jon bukannya ingin mati. Baginya, hidup pendek tetapi lebih normal tanpa mesin, lebih baik daripada kemungkinan hidup lama dengan mesin yang dapat memertahankan hidup. Permintaan Jon satu-satunya ialah kami mengizinkannya pulang untuk Natal. Kalaupun ia harus mati, ia ingin mati dalam keadaan yang menyenangkan dan dipenuhi cinta di sekelilingnya. Ia ingin terlepas dari semua pipa dan kabel.
Dokternya mengatakan padanya bahwa ia tak mungkin pulang karena di rumah tidak ada perawatan dan peralatan profesional yang diperlukan untuknya. Selain itu, sangat riskan untuk membawanya sejauh 117 mil dengan ambulans. "Saya rasa harus ada suatu mukjizat untuk melakukan itu," kata dokter. Ketika aku melihat mata Jon yang memohon, mata kedua perawatnya yang berdiri di ujung tempat tidurnya, dan mata ibunya yang dipenuhi air mata, mereka sepertinya ingin berkata, "Tak dapatkah kami mencobanya?"
Kami akan mencobanya. Secara tak terduga, mukjizat hari Natal kami mulai memerlihatkan bentuk. Dengan bantuan dr. Moxley, yang telah mengenal Jon selama bertahun-tahun, kami mulai mendapat bantuan yang kami butuhkan. Ahli terapi pernapasan mengajar kami untuk memonitor napas Jon. Para perawat menunjukkan kepada kami bagaimana caranya membersihkan tenggorokan. Para anggota staf rumah sakit menjadi "malaikat yang penuh belas kasih". Mereka melatih kami untuk memberikan perawatan yang terbaik kepada Jon segera setelah ia di rumah. Meskipun demikian, dokter yang merawatnya yakin bahwa Jon akan meninggal dalam perjalanan ke rumah. Mereka tidak mau bertanggung jawab terhadap tindakan kami untuk membawa Jon pulang. Sehari sebelum Jon diizinkan pulang, ia mendesak kami untuk menghubungi pengurus makam dan pegawai yang memeriksa penyebab kematian di wilayah kami.
Aku menghubungi kepala pemadam kebakaran Salamanca, yakni Jack McClune. Ia teman lama kami. Ia akan berusaha untuk mendapatkan seorang pegawai. Keesokan harinya, ia menelepon dan mengatakan bahwa ia mendapat 3 orang yang mau mengadakan perjalanan selama 6 atau 7 jam itu pada hari Natal. Mereka bersedia untuk menjemput dan mengantar Jon pulang ke rumah. Pada pukul lima di suatu pagi yang bersalju dan angin yang berhembus kencang di New York, mereka menjemputku dengan ambulans kota yang sama sekali baru. Dalam keadaan yang sulit, kami mengadakan perjalanan selama 3 jam ke rumah sakit.
Ketika kami tiba, para perawat telah mempersiapkan Jon. Mereka menunggu kepulangan Jon. Ia masih dengan mesin penyangga hidup, tetapi aku melihat senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. Setelah itu, kami mengucapkan selamat berpisah dan berterima kasih kepada semua dokter dan perawat. Kami mendapat instruksi-instruksi terakhir. Kami berdoa dalam hati dan Jon dilepaskan dari penyangga hidupnya. Ia bertumpu pada dirinya sendiri. Aku mengucapkan selamat Natal kepada semua orang. Para petugas ambulans siap untuk membawa Jon pulang ke rumah.
Kami tiba di rumah dengan selamat kira-kira 3 jam kemudian. Para petugas ambulans menempatkan Jon di tempat tidurnya dan mereka berangkat untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing. Meskipun terlambat, mereka masih bisa merayakan Natal. Keempat petugas ambulans itu ialah Jack McClune, Steve Bias, Bill Kendt, dan Gene Haugh. Mereka mengorbankan sebagian besar hari dan waktu mereka secara sukarela. Seharusnya, mereka bisa melewatkan Natal bersama keluarga mereka masing-masing. Tetapi, mereka justru mengantarkan pulang seorang anak laki-laki yang sekarat untuk merayakan Natal. Aku berterima kasih kepada mereka. Mereka mengatakan bahwa ucapan terima kasih yang mereka butuhkan adalah senyum Jon ketika ia diantar ke rumah dengan seluruh keluarga yang mengelilinginya. Mereka semua sependapat bahwa Natal itu adalah Natal yang paling menyenangkan yang pernah mereka alami. Mereka pasti akan tinggal sampai tengah malam jika pertolongan itu diperlukan oleh Jon. Ketika aku menanyakan ongkos ambulans kepada Jack, ia mengatakan bahwa seseorang di kota telah mendengar tentang keadaan kami yang menyedihkan dan orang itu sudah mengurusnya. Tidak ada ongkos yang harus dibayar. Kami tak pernah tahu siapa yang membayar ongkos itu.
Ketika mereka pergi, aku dan Ginger berdiri di ujung tempat tidur Jon. Kami menyampaikan doa terima kasih secara diam-diam. Jon bernapas dengan teratur. Yang terindah, ada senyum di wajahnya yang masih terus kulihat hingga hari ini. Malamnya, adik, kakak, kakek, nenek, bibi, paman, dan sepupu Jon bergabung dengan kami untuk makan malam Natal tradisional kami berupa ayam kalkun. Di atas kursi, diapit oleh aku dan ibunya, duduklah mukjizat Natal kami.
Jon diprediksi akan meninggal pada hari Natal 1990. Ia hidup untuk melihat Natal satu kali lagi. Selain itu, ia sudah didaftarkan ke sekolah tinggi ketika ia meninggal pada Maret 1992. Jon adalah orang yang tak pernah menyerah. Selama 22 tahun, ia telah memberi kebahagiaan, semangat, dan cinta akan hidup kepada semua orang di sekitarnya. Ini tak akan pernah kami lupakan. Dan, ia telah membuktikannya bukan hanya pada satu Natal, melainkan pada dua Natal secara berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa mukjizat benar-benar ada.
Diambil dan disunting seperlunya dari : The Magic of Christmas Miracles
Kisah Manis dalam Lagu Little Drummer Boy !
Siapa yang tidak kenal lagu Little Drummer Boy, lagu Natal yang membawa kembali kenangan indah merayakan Natal sejak kita kecil. Musik dan lirik lagu yang diciptakan oleh Katherine K. Devis, Henry Onorati dan Harry Simone di tahun 1958 ini, terdiri dari tidak kurang 21 kata-kata “rum pump um pum”, bagian terbesar dari lagu ini dan juga merupakan bagian yang mudah untuk dinyanyikan. Little Drummer Boy menjadi hit besar untuk sejumlah artis. Versi unik juga dibawakan oleh Bing Crosby dan juga David Bowie. Bagi Bing Crosby sendiri, Little Drummer Boy membawa kesuksesan setelah White Christmas.
Little Drummer Boy!
Come they told me, pa rum pum pum pum
A new born King to see, pa rum pum pum pum
Our finest gifts we bring, pa rum pum pum pum
To lay before the King, pa rum pum pum pum,
rum pum pum pum, rum pum pum pum,
So to honor Him, pa rum pum pum pum,
When we come.
Mereka mengundangku untuk datang,
untuk melihat seorang Raja yang baru lahir.
Kita membawa hadiah-hadiah terbaik untuk diberikan kepada Sang Raja.
Kita membawa hadiah untuk menghormatiNya pada saat kita datang.
Little Baby, pa rum pum pum pum
I am a poor boy too, pa rum pum pum pum
I have no gift to bring, pa rum pum pum pum
That’s fit to give the King, pa rum pum pum pum,
rum pum pum pum, rum pum pum pum,
Shall I play for you, pa rum pum pum pum,
On my drum?
Bayi kecil, aku juga seorang anak yang miskin.
Aku tidak mempunyai hadiah yang sesuai untuk diberikan kepada Sang Raja.
Bolehkah aku memainkan drum ku untukmu?
Mary nodded, pa rum pum pum pum
The ox and lamb kept time, pa rum pum pum pum
I played my drum for Him, pa rum pum pum pum
I played my best for Him, pa rum pum pum pum,
rum pum pum pum, rum pum pum pum,
Then He smiled at me, pa rum pum pum pum
Me and my drum.
Maria mengangguk. Lembu dan domba membuat irama.
Aku bermain drum untukNya. Aku bermain yang TERBAIK untukNya.
Kemudian Dia tersenyum kepadaku.
Tersenyum kepadaku dan drumku.
Waktu saya kecil, saya suka sekali lagu ini. Lagu yang sangat mudah dinyanyikan dan sangat membekas dalam ingatan. “Rum pump um”… Aku membayangkan seorang anak kecil yang lucu yang bermain dengan drumnya. Beberapa tahun yang lalu saya mulai memperhatikan secara sungguh-sungguh arti dari lagu ini. Ternyata mempunyai arti yang sangat dalam di balik liriknya yang sederhana. Lagu ini juga membuat saya mempunyai pandangan baru mengenai arti Natal sesungguhnya.
Lagu Little Drummer Boy menceritakan seorang pemain drum kecil. Drumnya juga drum yang sangat sederhana, atau lebih cocok disebut gendang dengan 2 alat tabuhnya. Little Drummer Boy adalah seorang anak yang sangat miskin dan sederhana tetapi ingin memberikan sesuatu untuk Tuhan Yesus.
Ketika aku mengetahui arti sesungguhnya dari lagu ini, aku tertegun. Aku terdiam dan sungguh merasa malu. Selama ini aku selalu minta Tuhan, Tuhan, aku mau ini, aku mau itu. Sepanjang tahun aku selalu meminta dan meminta. Kapan aku mau memberi?
Yesus lahir di dunia malah membawa misi perdamaian dan keselamatan. Dia sesungguhnya tidak meminta sesuatu yang tidak dapat kita berikan. Tapi sungguh adalah sesuatu yang sangat pantas bahwa kita juga memberikan sesuatu untuk Yesus, Sang Raja yang lahir ke dunia.
Aku juga bertanya pada diriku, apa yang dapat kuberikan untuk Yesus? Sang Pemain Drum Kecil juga bertanya hal yang sama. Semua membawa persembahan yang terbaik, tapi apa yang dapat dia berikan? Akhirnya dia menemukan jawabannya. Dia adalah pemain drum. Itulah talenta yang dimilikinya. Kemudian Sang Pemain Drum Kecil memainkan drumnya, memainkan dengan yang terbaik yang dia bisa.
Akupun kemudian menemukan jawaban. Kita semua mempunyai talenta yang sudah dikaruniakan kepada kita. Itulah yang Tuhan mau kita kembangkan. Berusahalah yang terbaik yang kita bisa untuk menyenangkan Tuhan Yesus. Kalau kita seorang guru, jadilah guru yang terbaik buat Dia, yang memberikan pendidikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Kalau kita seorang dokter, jadilah dokter yang terbaik buat Dia. Kalau kita seorang anak, jadilah anak yang terbaik buat Dia. Jadilah kita orang tua yang baik, cucu yang baik, kakek yang baik, nenek yang baik, pegawai yang baik, boss yang baik, kakak yang baik, adik yang baik, suami yang baik, istri yang baik, dan seterusnya. Berdoalah juga selalu meminta petunjuk dari Bunda Maria. Dan lakukanlah itu dengan hati.
Setelah itu, yakinlah, kita bisa melihat Yesus tersenyum kepada kita.
Sumber : Relasi
Kepekaan Lewat Sepotong Roti
Malam ini adalah malam Natal. Seisi rumah mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu sejak pagi tadi. Begitu juga dengan aku. Sesudah misa malam Natal, biasanya kami sekeluarga berkumpul untuk saling mengucapkan selamat Natal dan makan malam bersama.
Siang ini aku berencana untuk membeli dua loyang kue kesukaan keluarga kami. Satu untuk keluarga orang tuaku dan satu lagi untuk keluarga suamiku.
Setelah menentukan toko roti tempat kami akan membeli kue, kami segera berangkat ke tempat tujuan. Setibanya di toko kue, kami segera memilih kue yang dimaksud. Karena belum sempat sarapan, suamiku memintaku untuk membelikannya roti isi. Satu bungkus plastik berisi tiga buah roti dengan rasa yang berbeda.
Sesudah membayar semua belanjaan kami, segera kami menuju ke rumah mertuaku untuk mengirimkan kue yang baru aku beli. Dalam perjalanan menuju rumah mertuaku, kami sempat tercegat oleh lampu merah. Begitu aku mengerem mobil, tidak berapa lama kemudian seorang gadis kecil peminta-minta menghampiri kaca jendelaku. Seperti pengemis lain, ia langsung menengadahkan tangannya memohon sekeping uang. Refleks aku langsung melambaikan tanganku, menandakan menolak untuk memberi. Tanpa menunggu lebih lama, gadis kecil itu langsung meninggalkan mobilku.
Pada saat yang bersamaan, suamiku memberikan roti terakhirnya kepadaku. Ia memintaku untuk memberikan roti terakhirnya kepada gadis kecil tadi. Segera kubuka jendela mobil, dan setengah berteriak kupanggil gadis kecil tadi. Setelah mendekat, kuberikan roti tadi sambil tersenyum. Gadis itu segera menerima roti dariku sambil mengucapkan terima kasih.
Sambil memegang roti itu, gadis kecil segera berlari ke arah ibu–ibu berpakaian lusuh yang duduk di tepi jalan. Mungkin perempuan tua itu adalah ibunya, begitu pikirku. Gadis kecil itu menyerahkan roti tadi kepada ibunya sambil menunjuk-nunjuk dan tertawa lebar, ke arah mobilku. Begitu lampu hijau menyala, aku segera melajukan mobilku. Tepat saat mobilku melewati mereka, si ibu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, begitu juga dengan gadis kecil itu. Tampak sukacita di wajah mereka. Sungguh, ucapan syukur yang terungkap lewat segaris senyum yang tulus.
Aku baru menyadari, betapa berartinya pemberian yang kami pikir tidak seberapa, tapi bagi mereka, roti itu mungkin adalah sesuatu yang membahagiakan mereka. Aku jadi teringat bahwa Yesus hadir dalam diri orang-orang yang papa. Aku meyakini bahwa di malam Natal tahun ini, aku sungguh-sungguh telah melihat senyum Yesus dari wajah gadis kecil dan ibu tadi. Terima kasih Tuhan, karena engkau telah membuat hatiku menjadi peka dengan orang di sekitarku.
Sumber : Glorianet
Rahasia Marty
Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa Natal adalah saat ketika hal-hal yang aneh dan menyenangkan terjadi. Orang-orang bijak datang sambil membawa persembahan yang banyak, binatang-binatang dalam kandang berbincang-bincang pada tengah malam, dan bintang Tuhan yang megah memancar kepada kita bagaikan seorang bayi. Bagi saya, Natal merupakan momen yang penuh pesona. Hal itu pulalah yang saya rasakan ketika anak saya, Marty, berusia 8 tahun.
Pada saat itu, saya dan anak-anak pindah ke sebuah trailer (rumah mobil) pada sebuah hutan di luar Redmond, Washington. Liburan semakin dekat dan semangat kami begitu menggebu-gebu. Tidak ada sesuatu yang dapat mengganggu suasana hati kami, sekalipun hujan pada musim dingin menyiram rumah kami dan membuat lantai menjadi berlumpur.
Selama bulan Desember tersebut, Marty adalah anak yang paling bersemangat dan sibuk dalam keluarga kami. Ia adalah anak bungsu, seorang anak laki-laki yang periang, berambut pirang, dan senang bermain. Ia memiliki kebiasaan memandang orang yang sedang berbicara kepadanya sambil memiringkan kepalanya sedikit. Alasannya adalah telinga kiri Marty tuli. Tetapi, ia tidak pernah bersungut-sungut karena kekurangannya tersebut. Selama beberapa minggu, saya memerhatikan Marty. Saya tahu bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Saya tahu betapa giatnya ia merapikan tempat tidur, membuang sampah, dengan teliti menyiapkan meja makan, serta membantu Rick dan Pam menyiapkan makan malam sebelum saya pulang dari kerja. Saya melihat bagaimana ia secara diam-diam menyisihkan uang sakunya dan menyimpannya, tidak menggunakan 1 sen pun. Saya tidak tahu apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan, tetapi saya rasa hal itu ada hubungannya dengan Kenny.
Kenny adalah teman Marty. Sejak mereka berkenalan pada musim semi, mereka tak terpisahkan. Jika Anda menemukan Kenny, Anda akan menemukan Marty, dan begitu pula sebaliknya. Dunia mereka berada di padang rumput yang dibelah oleh sungai kecil. Di tempat itu, mereka dapat menangkap kodok dan ular, mencari mata anak panah atau harta terpendam, atau menghabiskan sepanjang siang untuk memberikan kacang kepada bajing. Keluarga kami berada dalam masa-masa sulit, sehingga kami harus berhemat. Syukurlah, saya masih memiliki pekerjaan sebagai pembungkus daging dan juga keuletan, sehingga segala kebutuhan kami masih tercukupi. Tetapi, tidak demikian halnya dengan keluarga Kenny. Mereka sangat miskin. Ibunya berjuang untuk menghidupi kedua anaknya. Mereka adalah keluarga yang baik dan utuh, tetapi ibu Kenny adalah seorang yang angkuh dan memiliki peraturan-peraturan tegas yang tidak bisa diganggu gugat. Yang kami lakukan setiap tahun adalah mempersiapkan Natal sehingga menjadi pesta yang menyenangkan dengan membuat kado-kado Natal dan menghias seisi rumah kami. Adakalanya, Marty dan Kenny harus duduk berjam-jam untuk membantu membuat contong permen atau hiasan untuk pohon Natal. Tetapi, dengan satu bisikan dari Marty atau Kenny, mereka berdua bisa tiba-tiba menghilang, merunduk perlahan di bawah pagar listrik menuju padang rumput yang memisahkan rumah kami dengan rumah Kenny.
Pada suatu malam, beberapa hari sebelum Natal, ketika tangan saya penuh dengan adonan "peppernodder", membentuk kue-kue Danish yang ditaburi kayu manis dalam jumlah banyak, Marty datang kepada saya dan berbicara dengan nada bangga, "Ibu, aku telah membelikan hadiah untuk Kenny. Ibu mau lihat?" Jadi ternyata hal ini yang selama ini ia persiapkan. "Kompas ini adalah benda yang sudah lama ia dambakan, Bu." Setelah secara perlahan mengelap tangannya, Marty mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan membuka tutup kotak tersebut. Saya terpana pada kompas saku yang telah dibeli anak saya menggunakan semua tabungan dari uang sakunya. "Ini adalah hadiah yang sangat indah, Marty," ucap saya. Tapi saat saya berbicara, sebuah pikiran datang mengganggu. Saya tahu bagaimana perasaan ibu Kenny tentang kekurangan mereka. Mereka tidak mampu bertukar hadiah antaranggota keluarga, apalagi memberikan hadiah kepada orang lain. Saya yakin ibu Kenny tidak akan membiarkan anaknya menerima sesuatu yang tidak dapat ia balas. Secara perlahan saya mengutarakan masalah tersebut kepada Marty. Ia mengerti maksud saya. "Aku tahu, Bu, aku tahu ... tapi, bagaimana jika ini menjadi sebuah rahasia? Bagaimana jika mereka tidak pernah tahu siapa yang memberikan hadiah ini?" Saya tidak tahu harus menjawab apa.
Sehari sebelum Natal turun hujan, cuaca menjadi dingin dan mendung. Saya dan ketiga anak saya saling mengawasi; sibuk memberi sentuhan akhir sembari menyembunyikan kado-kado rahasia dan bersiap-siap jika ada keluarga atau teman yang datang berkunjung. Malam pun tiba. Hujan masih tetap turun. Saya memandang keluar dengan perasaan sedih. Hujan benar-benar mengguyur malam Natal. Bagaimana para orang bijak bisa datang pada malam seperti ini? Saya meragukannya. Sepertinya saya beranggapan bahwa hal-hal yang aneh dan menyenangkan hanya terjadi pada malam yang cerah dan terang, ketika kita dapat memandang bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Saya pun menyingkir dari jendela. Dan, saat memeriksa daging dan roti yang sedang dihangatkan di oven, saya melihat Marty keluar. Ia mengenakan jas hujan yang menutupi piyamanya, dan ia membawa sebuah kotak yang telah dibungkus dengan indah. Ia berjalan melalui rumput yang basah, merunduk di bawah pagar listrik, dan berjalan terus menuju rumah Kenny. Ia berjalan berjinjit karena sepatunya basah. Ia meletakkan hadiah yang telah ia siapkan di depan pintu rumah Kenny, kemudian ia mengambil napas yang dalam dan memencet bel dengan keras.
Dengan cepat, Marty berbalik dan berlari agar tidak ketahuan. Lalu, tiba-tiba, ia menabrak pagar listrik. Kejutan listrik membuatnya terhuyung-huyung. Ia terjerembab di tanah yang basah. Tubuhnya bergetar dan ia pun terengah-engah mengambil napas. Kemudian, perlahan-lahan, ia berusaha berjalan kembali ke rumah. "Marty!", saya menangis saat melihatnya masuk. "Apa yang terjadi?" Bibir bawahnya bergetar, matanya basah. "Aku lupa kalau ada pagar. Aku menabraknya!" Saya memeluk tubuhnya yang penuh lumpur. Ia masih linglung dan ada tanda luka berwarna merah yang mulai melepuh di wajahnya, dari mulut sampai telinga. Saya langsung merawat wajah Marty dan memberikan segelas cokelat hangat untuk menenangkannya. Semangat Marty langsung kembali. Saya pun menemaninya tidur. Tepat sebelum tertidur, ia memandang saya sambil berkata, "Ibu, Kenny tidak melihatku. Aku yakin ia tidak melihatku."
Pada malam Natal itu, saya tidur dengan perasaan tidak senang dan bingung. Mengapa hal yang menyedihkan seperti ini justru terjadi pada seorang anak yang sedang melakukan apa yang Tuhan ingin kita semua lakukan, memberi kepada orang lain, dan merahasiakan perbuatan tersebut. Saya tidak dapat tidur pulas malam itu. Dari dalam lubuk hati yang terdalam, saya merasa kecewa karena di malam Natal tidak terjadi sesuatu yang indah dan misterius, ini hanyalah salah satu malam biasa yang penuh dengan masalah. Tetapi ternyata saya salah. Pada pagi hari ketika hujan berhenti dan matahari bersinar dengan cerahnya. Memar di wajah Marty masih berwarna merah, tetapi saya dapat melihat bahwa lukanya tidak serius. Kami pun membuka kado-kado dan bersukaria, sampai tiba-tiba Kenny mengetuk pintu, dengan mata berbinar-binar ia memperlihatkan kompas barunya kepada Marty dan menceritakan kejutan misterius yang ia alami tadi malam. Kenny sama sekali tidak curiga kepada Marty, dan saat keduanya berbincang-bincang, Marty terus tersenyum.
Kemudian saya memerhatikan bahwa saat keduanya saling membandingkan pengalaman Natal yang mereka alami, menganggukkan kepala, dan saling berbincang-bincang, Marty tidak memiringkan kepalanya saat Kenny berbicara. Seakan-akan Marty mampu mendengar menggunakan telinga tulinya. Beberapa minggu kemudian, saya menerima laporan dari dokter sekolah, memastikan sesuatu yang Marty dan saya sudah tahu: Pendengaran Marty telah pulih dan bisa mendengar dari kedua telinganya! Bagaimana Marty memperoleh pendengarannya kembali, masih merupakan misteri. Para dokter curiga bahwa ini ada hubungannya dengan kejutan listrik dari pagar yang ia tabrak. Mungkin benar demikian. Apa pun alasannya, saya bersyukur kepada Tuhan atas timbal balik yang terjadi pada malam Natal tersebut. Jadi, Anda dapat melihat bahwa hal-hal yang aneh dan indah masih terjadi pada malam kelahiran Tuhan. Dan, setiap orang masih dapat mengikuti sebuah bintang besar, sekalipun pada malam yang gelap.
Guideposts bagi Jiwa: Kisah-Kisah Iman Natal
O Little Town Of Bethlehem
Phillips Brooks adalah seorang hamba Tuhan Episkopalian pada abad XIX. Pada tahun 1865, ia mengadakan perjalanan dari Eropa menuju Yerusalem. Dalam perjalanannya ke Bethlehem inilah sebuah inspirasi tercetus lewat seuntai pujian Natal yang terkenal, yang ia tulis 3 tahun kemudian sekembalinya ia ke Amerika Serikat.
Tahun ini (1997, Red) menandakan ulang tahun ke-125 penulisan lagu "O Little Town of Bethlehem" dan sekaligus mengingat wafatnya Phillips Brooks. Phillips Brooks tumbuh dalam keluarga yang menyenangi musik. Sejak kecil, ia sudah sering mendengar nyanyian dan senandung lagu rohani. Bahkan, setiap Minggu malam, pada saat diadakan kebaktian keluarga, ia diharuskan menghafalkan lagu-lagu yang pernah dipelajari selama di gereja. Setelah lulus dari Boston Latin School, Brooks melanjutkan studinya ke Harvard University dan kemudian masuk seminari di Alexandria, Virginia, dan ditahbiskan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1858.
Pada bulan April 1865, setelah Presiden Abraham Lincoln wafat, Brooks memperoleh sebuah reputasi nasional ketika ia menyampaikan sebuah khotbah yang berjudul "Karakter, Hidup, dan Kematian Abraham Lincoln" (Character, Life, and Death of Abraham Lincoln). Lalu, 2 bulan kemudian, dalam acara peringatan Hari Pahlawan di Harvard University, ia memimpin doa syafaat.
Pribadi Brooks sebagai seorang hamba Tuhan telah menjadi berkat bagi banyak orang. Pengalamannya selama di kota Bethlehem begitu menyentuh. Ia dapat merasakan kehadiran Allah di sana. Ia dibawa hanyut dalam pengalaman sejarah yang indah pada saat Yesus lahir di negeri itu. Dalam syairnya ia menuliskan, "Seakan-akan aku melihat gembala-gembala menatap ke langit, ke arah bintang itu. Bintang yang bergantung pengharapan pasti."
Ketika ia wafat, seorang gadis kecil memberikan penghormatan tertinggi kepadanya; gadis ini berkata, "Oh alangkah bahagianya malaikat menerima kehadiran pendeta ini."
Disadur dari: O litlle Town Of Bethlehem, The Story Behind The Song.
Paman Max yang Kikir
Ketika berusia sebelas tahun saya merasa Paman Max (dilafalkan "Mox" di keluarga kami) adalah orang teraneh yang pernah ada. Max Maegdefessel menikah dengan Bibi Gustie sejak zaman dahulu kala dan ia bukanlah paman favorit saya. Mungkin penyebabnya adalah karena karena foto dirinya sebagai tentara Prusia yang dipajang di rumah mereka. Dengan kumis, jenggot, rambut abu-abunya yang terpotong cepak, ia terlihat seperti seorang pemimpin tentara musuh yang memimpin tentaranya untuk menghancurkan lawan dalam peperangan. Atau, mungkin karena saya terlalu sering dipaksa menonton Gesangverein karya Richard Wagner, yang beberapa pemainnya sangat mirip dengan Paman Max. Mereka berdiri bersama di panggung sambil menyemprotkan ludah, meneriakkan lagu-lagu yang terdengar sangat bodoh di telinga saya.
Tetapi, yang paling menyebalkan dari diri paman Max adalah sifat kikirnya. Ketika kami berkunjung ke rumah Bibi Gustie di hari Natal dan menyanyikan lagu-lagu Natal di sekeliling Tannenbaum (pohon Natal) yang bertaburkan cahaya lilin, saya tahu bahwa Paman Max telah pergi ke penjual pohon cemara pagi itu untuk membeli pohon yang tersisa. Biasanya ia dapat membeli pohon hanya dengan membayar satu koin. Hadiah untuk kami adalah cokelat berbentuk koin yang dibungkus dengan kertas emas, yang jika dinilai dari rasanya yang aneh, mungkin telah dibeli setidaknya satu tahun yang lalu setelah diskon Natal.
Tetapi, Paman Max juga memiliki sebuah keterampilan. Ia adalah seorang pandai besi. Karena tidak memiliki pekerjaan ketika masa depresi, ia membuat berbagai benda sesuai pesanan. Benda-benda tersebut meliputi alat-alat seperti spiral yang terbuat dari pipa tembaga, yang katanya ada hubungannya dengan larangan untuk merokok di Amerika. Ia pun pernah membuat sebuah patung kecil berbentuk bintang untuk grup Eastern Star yang diikuti oleh istrinya. Saya dan kedua kakak laki-laki saya adakalanya mengendap-endap ke ruang bawah tanah yang bau asap rokok untuk melihat ia bekerja. Ia menggunakan celemek dari kulit, kacamata bulatnya yang memantulkan lampu meja, dan berbagai alat seperti palu dan tatakan. Sepertinya tidak ada lagi yang ia perhatikan selain pekerjaannya.
Pada hari Natal yang berbarengan dengan ulang tahun pernikahan ke-15 orang tua saya, Paman Max dan Bibi Gustie datang berkunjung. Di malam sebelum Natal, setelah makan malam besar dan kebaktian, saya dan saudara-saudara saya mulai menyanyikan lagu-lagu Natal, lalu kami bergegas membuka hadiah-hadiah. Setelah itu, Paman Max berkata bahwa ia memiliki hadiah bagi orang tua saya. Prosesi pemberian hadiah dilakukan dengan ritual megah, termasuk sebuah lagu yang ia nyanyikan. Saya tidak berani duduk tepat di hadapannya. Kemudian ia mempersembahkan hadiah tersebut kepada ibu saya. Ibu membuka kotak hadiah tersebut, mengeluarkan sebuah tas kain, membuka tali pengikatnya, kemudian mengeluarkan sebuah poci teh dari perak. Saat itu saya dan segenap keluarga hanya bisa terperangah melihat poci tersebut.
Kami mengagumi hadiah tersebut, poci yang halus tersebut tampak berkilauan diterpa cahaya pohon Natal. Ketika Ibu dan Bibi masuk ke dapur untuk mencuci piring, Ayah dan paman duduk di kursi untuk berbincang-bincang. Saya meninggalkan mainan kereta yang sedang saya mainkan dan bergegas pergi ke arah rak kayu untuk melihat poci teh pemberian paman tersebut diletakkan. Bentuknya persegi enam. Tempat air, corong, dan pegangannya masing-masing dihiasi oleh enam keping uang logam. Saya sadar bahwa Paman Max pasti harus mempersiapkan bentuk khusus untuk setiap bagian poci tersebut. Ia harus memastikan bahwa setiap bagian yang dihiasi uang logam harus dibentuk dengan tepat, kemudian secara hati-hati disambung-sambungkan agar poci tersebut terlihat dibentuk dari sebongkah perak utuh.
Saya melirik ke Paman Max, yang sekarang telah mendengkur lembut di kursinya. Saya yakin ia pasti menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk mengerjakan poci tersebut. Ia pasti harus menyisihkan waktunya yang berharga di antara berbagai pesanan alat penguap, trompet, maupun benda-benda lainnya. Saya memperoleh pelajaran yang berharga malam itu. Paman Max dan Bibi Gustie dengan cara mereka sendiri telah berhasil memberikan hadiah kepada orang lain dan meluangkan waktu mereka, sekalipun paman sudah tidak memiliki pekerjaan selama beberapa tahun. Dan paman Max melakukannya dengan satu-satunya cara yang ia tahu: menabung, mencari diskon, dan ya... mencari pohon Natal sisa.
Saya merasa malu sendiri saat melihat Paman Max. Cahaya api terlihat berkerlap-kerlip pada rantai jam di perutnya yang naik turun karena dengkurannya yang damai. Walaupun ia telah lama tiada, tetapi kenangan akan Paman Max masih tetap ada bersama poci teh yang tersimpan di lemari ibu, mengingatkan saya pada hal-hal terpenting, tentang kebahagiaan yang sederhana, dari hadiah buatan sendiri yang diberikan oleh seseorang yang rela berkorban. Tetapi, terlebih penting lagi, ia mengingatkan saya kepada Kristus yang perayaan kelahiran-Nya mengingatkan kita untuk "Berhenti menilai seseorang dari penampilannya."
sumber : Richard H. Schneider
Apa yang Didapat di Hari Natal?
Beberapa saat sebelum membuat tulisan ini aku mengirimkan SMS ke abangku yang tinggal di tanah kelahiranku. Aku bertanya padanya, apakah tradisi khusus perayaan Natal di kota pesisir itu masih ada? Lalu ia menjawab, "Tradisi perayaan Natal seperti itu sudah tidak ada lagi. Kami pergi ke gereja pukul 17.00 WIB, dan pulang larut malam, pada saat itu, kota telah sepi." Wah ... aku kaget mendengar jawaban itu! Jauh dalam lubuk hatiku muncul rasa kehilangan sesuatu. Apa yang terjadi dengan kota kelahiranku? Apakah di kota itu, Natal tidak lagi menjadi momen penting yang harus diperingati?
Aku lahir di ibu kota kabupaten Tapanuli Tengah. Posisi kota ini sebagian dilingkupi Bukit Barisan, dan sebagian lain menghadap ke lautan lepas Samudra Indonesia (Hindia). Jadi, dapat dibayangkan betapa indah kota pesisir itu. Kalau kita naik mobil dari Medan, maka menjelang tiba ke kota itu -- khususnya pada malam hari -- kita akan melihat pemandangan nyala lampu rumah-rumah di kota itu dan juga nyala lampu bagan-bagan nelayan yang tengah menangkap ikan di laut! Indah sekali! Aku masih ingat kota tersebut dijuluki "Hong Kong"-nya Indonesia! Nah, karena kondisi geografis seperti itu, maka tidak heran jika rumah-rumah penduduk ada yang dibangun di dataran rendah/pesisir dan ada yang dibangun di atas bukit. Rumah keluargaku berada di dalam kota, di dataran rendah. Adapun beberapa temanku tinggal di atas bukit. Sangat menyenangkan ketika menjemput teman-teman yang tinggal di atas bukit itu untuk pergi bersama-sama jalan kaki ke sekolah di tengah kota.
Di belakang rumahku terdapat sebuah pelabuhan. Di sana kerap terlihat orang-orang duduk menikmati matahari terbenam dengan deburan ombak yang besar. Acap kali aku datang ke tempat itu bersama Abang ataupun sendirian menikmati panorama tersebut sembari menikmati kacang bakar yang dijual di situ.
Dalam situasi seperti itulah aku menikmati malam Natal. Walaupun di kota dan bukit sudah terdapat aliran listrik, tetapi suasana tetap saja agak gelap karena penerangan jalan dan rumah-rumah belum maksimal. Suasana itu ternyata sangat mendukung kebiasaan masyarakat pada waktu itu, yakni menyalakan dan menempelkan lilin-lilin di sekeliling rumah! Ada yang di pagar, di tanah, di ranting pohon, mereka menyalakan puluhan lilin mengelilingi rumah itu! Wow... indah sekali pemandangan malam itu! Kelap-kelip nyala lilin sungguh mendatangkan suasana tersendiri, apalagi jika mata kita memandang ke atas bukit ... wahhh ... lebih indah dan syahdu. Di antara pepohonan di atas bukit itu, nyala lilin berkelap-kelip dari sekeliling rumah. Rasanya betah berjam-jam menikmati suasana itu, terlebih ditambah sesekali terdengar bunyi dentuman meriam bambu! Seolah-olah memberi tanda dan penghormatan pada hari Natal yang penuh makna bagi umat manusia atas kelahiran sang Juru Selamat!
Tetapi kini, setelah sekian tahun aku meninggalkan kota itu, kemajuan zaman telah menggerus tradisi masyarakat yang penuh makna tersebut.
Apa yang didapat di hari Natal? Dengan jujur kukatakan bahwa Natal adalah suasana penuh makna yang menggiring hati dan ingatanku pada di malam penuh bintang gemerlap dan terdapat satu bintang berukuran besar. Di sebuah kandang dua ribu tahun silam, bayi Yesus dilahirkan. Bukankah sampai saat ini, kita masih mencari dan menciptakan suasana khusus dalam ibadah dan perayaan Natal di gereja? Mengapa nyala lampu listrik harus dipadamkan saat memasuki acara penyalaan lilin yang diiringi pujian Malam Kudus? Saya pikir hal itu memerlukan suasana khusus. Tidak sedikit di antara kita yang bergetar hatinya saat menikmati suasana saat semua jemaat menyanyikan Malam Kudus dan lilin-lilin menyala di tengah kegelapan. Luar biasa, bukan? Persoalannya sekarang, suasana khusus yang menggetarkan hati itu apakah juga turut menggetarkan kasih kita kepada sesama manusia di hari Natal tersebut maupun di hari-hari yang kita lalui? Tindakan kasih memang bukan hal yang mudah. Masih lebih mudah mengucapkan kasih!
Rasanya tidak adil jika saya tidak menyinggung tentang kado Natal. Yang saya alami saat masih kecil adalah saya sangat senang ketika mendapat kado yang dibungkus dengan kertas kado Natal. Apalagi jika disusul dengan sejumlah uang, senang sekali rasanya. Saat itu, aku tidak terpikir untuk memberi kado kembali kepada si pemberi. Yang kutahu dan kunikmati hanya menerima kado. Setelah beranjak dewasa -- dan setelah memiliki teman wanita -- mau tidak mau aku harus "berjuang" mengumpulkan uang untuk membeli kado untuknya! Maklum, waktu itu aku masih jadi mahasiswa dengan suplai dana yang pas-pasan dari orang tua. Dan, baru setelah mulai bekerja dan memiliki penghasilan yang relatif cukup, kualitas dan harga kado untuk orang-orang khusus -- bukan hanya pacar, melainkan juga untuk keluarga dan teman-teman -- meningkat.
Bagaimana dengan Anda? Kado Natal telah mewarnai hidup kita saat-saat menjelang Natal. Bagaimana sebenarnya isi hati kita ketika memberikan kado dan ucapan selamat Natal pada seseorang? Bagaimana pula sebenarnya isi hati orang-orang yang memberikan ucapan selamat maupun kado Natal kepada kita? Ah, seandainya kita saling mengetahui isi hati, dan ternyata yang terlihat adalah sebuah hati yang tulus, putih bersih, oh, alangkah bersukacitanya kita; alangkah damai sejahteranya hati kita! Dan betapa mungkin, Tuhan juga tersenyum melihat ketulusan hati tersebut.
Aku mengenal dua wanita yang telah bersahabat sejak SMA dengan baik yang memiliki kebiasaan baik. Kini mereka telah berusia hampir 40 tahun. Yang satu sudah memiliki dua orang anak yang beranjak remaja, yang satu lagi belum menikah dan sedang menempuh studi di luar negeri. Tentu saja setiap Natal mereka saling bertukar kado dan ucapan selamat Natal. Tetapi, ternyata tidak hanya sampai di situ. Belum lengkap dan belum sempurna rasanya merayakan dan memaknai Natal setiap tahun jika mereka belum saling mendoakan. Maka, sekalipun jarak keberadaan mereka melintasi benua, itu tidak menjadi penghalang. Melalui telepon, mereka bergantian mendoakan. Jenis permintaan mereka bermacam-macam. Mereka mendoakan permohonan yang spesifik kepada Tuhan untuk satu tahun ke depan. Ya! Mereka saling mendukung dalam doa, dan saling berbagi kasih di dalam Tuhan. Mereka mendapatkan sesuatu yang luar biasa di hari Natal, yaitu kekuatan doa!
Lalu, bagaimana fenomena pergaulan sosial kita saat ini? Suasananya sangat berbeda jika dibanding dua puluh tahun silam. Bukan rahasia lagi jika teman-teman nonkristiani kita enggan secara langsung mengucapkan selamat Natal sembari menyalami kita di hari Natal dan sesudahnya. Tentu kita tidak bisa memaksanya. Namun, hal ini tidak terlalu saya ambil pusing. Dua tahun terakhir ini, sebagian kecil teman-temanku SMA yang berbeda iman toh tetap saja mengucapkan selamat Natal padaku di milis alumni. Aku sangat menghargai keberanian dan ketulusan mereka!
Bagiku, makna Natal sesungguhnya adalah bukan menanti orang-orang mendatangi kita untuk memberi ucapan selamat Natal maupun kado Natal. Terlalu sempit jika makna Natal dipagari dengan hal macam itu. Natal adalah proaktif dalam bentuk memberi, mendatangi, memancarkan, menolong, menjadi saluran berkat dan kasih pada sesama manusia di mana pun, kapan pun, dalam aktivitas kita sehari-hari yang dimulai pada hari Natal dan yang tidak berakhir.
Bukankah Allah sangat proaktif memberikan kasih-Nya kepada umat manusia? Dia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dari dosa kekal sehingga kita memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Inilah kado Natal yang sesungguhnya kita dapatkan! Karena Dia telah menyelamatkan kita, berarti Dia selalu beserta kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
sumber : Kekal
sumber : Kekal
Batu Bara yang Banyak Sekali
Di malam Natal tahun 1948, salju turun terus-menerus, berputar, dan bergerak di sekeliling truk pembuangan sampah saya yang sudah tua saat saya menyetir menuju Gunung West Virginia. Salju sudah turun berjam-jam dan kedalamannya telah mencapai 20 hingga 25 cm. Tugas saya saat itu adalah mengantarkan batu bara untuk para penambang yang tinggal di perkampungan batu bara. Saya selesai lebih cepat dari waktu yang seharusnya dan sedang dalam perjalanan pulang.
Saat saya berjalan ke arah rumah, ayah tiri saya melambaikan tangan. Ia memberitahukan saya ada seorang ibu dengan tiga anaknya yang tinggal kira-kira 10 kilometer ke arah pegunungan. Suami ibu tersebut meninggal beberapa bulan yang lalu -- meninggalkan istri dan anaknya dalam keadaan melarat. Sesuai kebiasaan penduduk setempat yang saling menjaga satu sama lain, para penambang telah mengumpulkan beberapa kotak makanan kering, pakaian, dan hadiah-hadiah yang mereka minta agar saya antarkan bersama batu bara dalam jumlah besar untuk keluarga tersebut.
Percayalah, saya sebenarnya tidak ingin pergi. Terus terang saja, saya sudah bekerja keras sepanjang hari ini, sedangkan sekarang malam Natal dan saya ingin pulang untuk berkumpul bersama keluarga saya. Tetapi begitulah -- karena sekarang malam Natal, saatnya untuk memberi dan berbuat baik. Dengan pemikiran seperti itu, saya memutar truk dan menyetir menuju alat pengisi batu bara untuk mengisi truk. Saat kembali, jok depan serta seluruh sudut dan celah truk, saya penuhi dengan kotak-kotak. Akhirnya saya siap berangkat.
Di bukit West Virginia, masyarakat setempat membangun rumah di lokasi-lokasi yang cukup sulit dijangkau. Nah, rumah ibu ini sungguh sulit dijangkau. Saya harus menelusuri jalanan yang tak pernah didatangi departeman perhubungan, bahkan penunjuk arah pun tidak ada. Saya menyetir menuju bukit seperti telah mendapat penunjuk arah dan berbalik keluar dari jalan menuju lembah yang bernama Lick Fork. "Jalanan" itu sebebarnya sungai kecil yang diselimuti salju. Ketika saya melihatnya, saya mulai ragu-ragu apakah bisa melalui jalan tersebut. Meskipun demikian, saya memasukkan persneling gigi satu dan melaju.
Ketika saya sampai 1,6 kilometer lebih jauh dari tempat yang seharusnya saya putari untuk menuju gunung -- rumah ibu tersebut -- semangat saya runtuh. Di depan saya, jalan kecil yang berkelok yang menghubungkan sisi gunung telah terputus. Saya masih belum bisa melihat di mana rumah ibu itu. Saya memundurkan mobil dan berbalik ke arah sebelumnya. Setelah memerhatikan situasi, saya menyadari tidak ada jalan lain bagi saya untuk membawa truk seberat 2 ton melalui jalur ini.
"Apa yang harus saya lakukan?" pikir saya. Mungkin lebih baik saya menaruh batu bara di sini dan meminta keluarga ibu itu datang ke sini mengambil makanan dan pakainan ini. Jadi saya keluar dan berjalan menyusuri jalan kecil tersebut. Hari menjelang malam, suhu terus menurun, dan salju melayang menimbuni jalanan.
Lebar jalan kecil itu kira-kira 2 meter, di sisi jalan ranting-ranting ditutupi salju dan dipenuhi dahan dan kayu pohon. Akhirnya saya bisa melihat dengan jelas di mana letak rumah yang dicari -- pondok kecil dengan dinding yang tipis dan retak. Saya berteriak memanggil ibu itu agar keluar dari rumah, menjelaskan mengapa saya ada di sana, dan menanyakan apakah ia tahu cara untuk membawa makanan dan batu bara. Ia menunjukkan ke arah sebuah kereta dorong buatan beroda satu.
Di sinilah saya, kaki saya terbenam di salju setinggi 25 cm dengan sebuah truk yang sudah harus saya kosongkan muatannya sebelum hari gelap, di jalan kecil yang tidak bisa dilewati, dan sebuah kereta dorong beroda satu. Satu-satunya solusi yang bisa saya lakukan adalah memutar truk, memundurkannya sedemikian rupa agar saya bisa menurunkan batu bara dan kotak-kotak hadiah keluar.
Saat saya kembali ke dalam truk, saya terus bertanya-tanya, "Tuhan, apa yang sedang saya lakukan di sini?"
Saya menyalakan mesin, memutar truk tua saya, dan menyetir mundur. Truk tua saya mundur perlahan menyusuri jalan kecil tadi. Saya terus berkata pada diri sendiri, "Aku akan terus berjalan sampai benar-benar tidak bisa bergerak lagi."
Namun, truk saya seperti memiliki pemikiran sendiri. Tiba-tiba saat saya duduk di tengah kegelapan dengan nyala lampu belakang di tengah salju, terlihat pondok kecil. Saya tercengang. Truk tua saya sama sekali tidak tergelincir satu sentimeter pun atau terperosok ke dalam salju. Dan, berdiri di depan beranda, di hadapan empat orang paling bahagia yang pernah saya lihat.
Saya memindahkan semua kotak dan mengeluarkan batu bara, menyekop batu bara sebanyak yang bisa ke beranda pondok yang melengkung. Setelah saya selesai, ibu tersebut menggenggam erat tangan saya sambil terus-menerus mengucapkan terima kasih.
Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan, saya masuk ke dalam truk dan berjalan kembali. Kegelapan mungkin menguasai saya. Namun, setelah mencapai jalan besar, saya menghentikan truk dan melihat ke belakang, ke arah jalan kecil tadi. "Tidak mungkin," ujar saya kepada diri sendiri, "saya bisa memutar balik truk ini menuju gunung, melalui salju tebal, di tengah kegelapan, tanpa bantuan seorang pun."
Saya dibesarkan oleh orang tua saya untuk selalu memuji Tuhan. Saya juga percaya dengan kelahiran Anak Allah. Dan di malam Natal itu, di bukit West Virginia, saya tahu saya telah menjadi alat Allah untuk memberi arti Natal yang sebenarnya.
Sumber : Kekal dari Guideposts bagi Jiwa: Kisah-Kisah Iman Natal
Natal di China -- Sebuah Kisah Nyata
Sekitar 26 tahun yang lalu, ada bencana besar yang terjadi di China dan berlangsung selama 10 tahun. Selama jangka waktu tersebut, banyak orang percaya di China dianiaya dan dibunuh. Orangtuaku termasuk diantaranya.
Oleh karena latar belakang kepercayaan orangtua, aku dianggap "black child" dari keluarga revolusioner. Tidak ada seorang pun yang berani memeliharaku. Aku tidak punya tempat tinggal dan mulai menjalani hidup mandiri pada saat berusia 9 tahun. Sejak itu, untuk mendapatkan uang, aku menolong orang untuk mendorong kereta-kereta mereka. Malam harinya, aku tidur di jalanan. Saat itu sedang musim hujan dan salju, tidak seorang pun bekerja di luar dan aku tidak punya mata pencaharian. Lapar dan dingin menjadi bagian dari hidupku sehari-hari.
Satu setengah tahun kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang berusia lebih dari 50 tahun. Aku memanggil dia paman Shen. Dia seorang Kristen yang taat. Ketika tahu bahwa aku tuna wisma, dia memutuskan untuk merawat aku. Sebenarnya, paman Shen telah melarikan diri dari penjara dan dia tidak memiliki keluarga. Dia bertanya apakah aku mau tinggal dengannya. Aku setuju karena aku tahu dia seorang yang baik.
Paman Shen memutuskan untuk pergi ke bagian barat laut China karena dia berpikir keadaan di sana jauh lebih aman. Kebanyakan tempat di bagian tersebut sangatlah miskin. Sebagian besar penduduk di wilayah pedesaan tidak berpendidikan. Mereka tidak dapat membaca ataupun memperbaiki mesin-mesin yang mereka miliki, Paman Shen adalah seorang ahli mekanik, jadi dia pergi ke banyak wilayah untuk memperbaiki mesin-mesin para petani. Dia mendapatkan makanan dan penginapan sebagai gantinya. Karena tidak ada banyak mesin di satu wilayah, maka kami sering berpindah-pindah tempat agar dapat terus bekerja. Jika tidak demikian, kami tidak dapat bertahan hidup.
Suatu hari, di penghujung bulan Desember 1970, kita sama sekali tidak punya pekerjaan. Paman Shen memutuskan untuk mencari kerja di tempat lain. Kami berada di wilayah yang termiskin di China dan bermalam di gubuk yang biasa disebut "Grand Horsecart Inn." Suara- suara binatang membuat aku terjaga dan secara tidak sadar terlintas di pikiran tentang orangtuaku. Peristiwa saat mereka ditangkap terbayang lagi; ayahku diikat dan dipukuli berkali-kali sampai dia tidak dapat berdiri lagi ... sedangkan ibu dipaksa untuk berlutut, rambutnya dicukur habis dan wajahnya dilumuri dengan tinta hitam.
Saat memikirkan mereka, aku bertanya pada diri sendiri, "Dimanakah mereka saat ini? Apakah mereka sudah meninggal? Apakah aku dapat melihat mereka lagi?" Aku tidak dapat menahan kepedihan dan airmata yang membanjiri wajahku.
Aku tidak sadar kalau paman Shen juga terjaga, dan dia mendengar isakan tangisku. Dengan lembut dia meraih tanganku dan mencoba menghiburku. Kami duduk di tumpukan jerami kering tanpa bicara sepatah katapun. Beberapa saat kemudian, ketika melihat airmata yang mulai mengering, dengan suara lembut paman Shen bertanya, "Apakah kamu masih mengantuk?"
Aku dengan tegas menjawab, "Tidak, aku tidak mengantuk sama sekali." "Tahukah kamu, hari apakah ini?" tanya paman Shen. "Tidak secara pasti. Setahu aku, ini adalah minggu terakhir di tahun ini."
Paman Shen lalu berkata, "Hari ini adalah tanggal 25 Desember, hari Natal. Hari ini kita merayakan kelahiran Yesus. Tetapi, tahukah kamu bagaimana penderitaan yang dialami Yesus sebelum Dia disalibkan?"
Paman Shen berbicara seakan-akan tahu bahwa aku sedang memikirkan tentang bagaimana penderitaan yang dialami orangtuaku sebelum mereka ditangkap dan dibawa pergi entah ke mana. Paman Shen mengutip ayat- ayat dalam Injil Matius 27:28-30, 'Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.'
Saat paman Shen mengucapkan ayat-ayat tersebut, hatiku tersentak. Melalui penderitaan yang dialami orangtuaku, aku mencoba membayangkan bagaimana penderitaan yang dialami Yesus, Allahku, sebelum Dia disalib dan bagaimana kematian-Nya. Paman Shen melanjutkan kutipan ayatnya, " ...tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air." (Yohanes 19:34)
Saat itu juga, seolah-olah hati aku merasakan kepedihan itu dan aku berkata dalam hati, "Yesus, ALLAH yang disembah orangtuaku dan paman Shen, adalah Allahku juga."
Hari masih subuh saat itu, keadaan masih sepi dan dingin. Terhanyut oleh suasana saat itu, aku tidak tahu secara pasti kapan paman Shen mulai menyanyikan sebuah lagu, "Malam Kudus, sunyi senyap. Bintang- Mu gemerlap. Juruselamat manusia, telah datang ke dunia ..."
Sejak saat itu, 20 tahun telah berlalu. Namun, aku masih merasa seperti hari kemarin. Aku masih dapat merasakan kehadiran paman Shen di sampingku dan mendengar nyanyiannya. Aku masih ingat dan mendengar paman Shen menceritakan tentang kelahiran Yesus:
Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem dari Nazareth untuk mendaftarkan diri. Mereka melakukan perjalanan sejauh 100 mil, yang sangat sulit bagi mereka karena Maria sedang mengandung. Malam itu, Yesus lahir di sebuah kandang, sama seperti "Grand Horsecart Inn" tempat dimana aku dan paman Shen bermalam saat itu. Di kandang yang dingin itu, palungan adalah satu-satunya tempat bagi bayi Yesus. Pada malam yang dingin itulah Tuhan Yesus datang ke dunia ini dan memulai kehidupan- Nya sebagai Anak Allah. Pada malam itu, di sebuah tempat yang bersahaja, Tuhan Yesus telah lahir. Tempat yang tidak terlalu jauh dari Golgota, dimana 33 tahun kemudian Dia dipakukan di atas kayu salib.
Di malam yang dingin, beribu tahun yang lalu, tidak ada Santa Claus, tidak ada lampu-lampu gemerlap, tidak ada pohon Natal, tidak ada pertemuan keluarga ... malam yang dingin ... malam yang kudus!
[[Catatan: Selama hidupnya Penulis telah dipenjarakan dua kali di China karena imannya kepada Yesus.]]
Sumber: Kesaksian ini diterjemahkan dan diedit dari salah satu posting kesaksian dalam milis "e-Forum WPC."
Judul Asli: "A True Story of Christmas in China"
Hai Dunia, Gembiralah!
Aku menyesal karena telah berjanji kepada Ny. Saunders, koordinator bazar Natal tahunan. "Bersediakah kamu menyumbang sebuah door prize tahunan, sayang? Mungkin salah satu dari pohon Natalmu yang terkenal," ia membujuk dengan mata bersinar. "Kami berharap dapat menghasilkan banyak uang untuk pementasan Santa Klaus bagi keluarga- keluarga yang berkekurangan. Kamu tahu, tak ada yang lebih menarik daripada sebuah door prize yang luar biasa untuk menarik para pembelanja datang ke sebuah bazar," katanya.
Tiga bulan sebelumnya, permintaan Ny. Saunders yang sederhana mungkin tidaklah terlalu merepotkan. Karena kini waktunya hanya tinggal tiga minggu, tugas yang belum terlaksana itu sekarang menggantung di atas kepalaku seperti dahan beku yang rapuh dan memberatkan.
Sebetulnya, aku bukan orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Namun saat itu aku sedang menanti datangnya ilham. Aku ingin membuat sebuah karya yang benar-benar istimewa dan bermakna. Aku tidak ingin membuat dekorasi dengan aksentuasi yang biasa-biasa saja dan hanya akan berakhir di tempat penjualan barang bekas pada musim panas di tempat seseorang.
Jadi, pada sore hari menjelang bazar malam itu, aku duduk di meja dapurku dengan perasaan yang berat di dadaku. Aku memandang kosong ke beberapa objek, antara lain pohon Natal artifisial setinggi empat kaki, tiga dus lampu kelap-kelip, sebuah dus bekas sepatu berisi hiasan-hiasan yang gemerlapan, satu gelondong pita, dan lem. Ilham tetap belum muncul di benakku.
Kemudian, aku merangkak di loteng kami yang berdebu. Aku sedang mencari sesuatu di antara tumpukan dus sambil berdoa untuk secepatnya memperoleh ilham. Kutarik dua dus berisi barang-barang yang mungkin dapat menjadi sesuatu yang berharga nantinya. Kemudian, aku kembali ke dapur dengan susah payah.
Saat aku memutar kaset Natal, aku berharap musik Natal bisa menciptakan kemeriahan dalam hatiku. Tak lama kemudian, aku menyanyikan kata-kata yang terkenal, "Joy to the world, the Lord is come; let Earth receive her King," (Hai dunia gembiralah, dan sambut Rajamu, di hatimu terimalah ...), ketika aku membongkar isi dus dengan label BONEKA-BONEKA TUA - JANGAN DIBUANG. Kulihat tumpukan boneka kecil beraneka warna. Boneka-boneka itu kubeli di pasar loak di pinggir jalan beberapa tahun lalu ketika aku sedang berlibur. Apa yang membuatku tertarik untuk membeli boneka-boneka itu? Boneka-boneka itu dibungkus untuk disimpan, kemudian dilupakan sama sekali. Pakaiannya tergeletak secara acak di hadapanku. Kemudian, kuambil sebuah boneka Jepang berpakaian kimono yang berwarna biru cerah; sebuah keluarga pribumi Amerika lengkap dengan tenda orang Indian yang terbuat dari kulit binatang berwarna coklat; sebuah boneka "Miss Liberty" yang dihiasi bendera merah, putih, dan biru; boneka empat sekawan yang mengenakan pakaian Skandinavia.
Tiba-tiba, sesuatu yang jauh di dalam diriku meneriakkan sebuah jalan keluar, yakni: buatlah sebuah pohon "Joy to the World" ("Hai Dunia Gembiralah")! Dengan penuh kegembiraan, kuikatkan boneka-boneka itu ke dahan-dahan pohon cemara satu per satu. Dahan-dahan itu melengkung keberatan karena banyaknya beban boneka. Beberapa dari bagian tubuh boneka-boneka malah putus. Dengan seksama, aku menggunakan penjepit dan karet gelang untuk menyambung kembali lengan dan kaki boneka-boneka itu. Ketika aku sedang mengikat kembali anggota badan boneka-boneka itu, tiba-tiba aku merasakan suatu hubungan persaudaraan dengan semua wanita dari segala bangsa. Apa yang sedang kukerjakan membuatku sadar bahwa ada banyak wanita di dunia yang seperti aku. Mereka membutuhkan cinta sang Juru Selamat Natal untuk menyatukan diri mereka. Saat itu, temanku, Betty, datang untuk melihat hasil karyaku. Tanpa kami sadari, kami berdua sibuk menghias pohon itu dengan penuh kegembiraan. "Bagaimana kalau kita memakai bunga-bunga yang dikeringkan ini?" Betty mengusulkan sambil menunjuk pada ikatan bunga-bunga yang telah dikeringkan dan bunga mawar berwarna merah jambu yang menggantung dari balok langit-langit dapur. Kemudian, kami menambahkan pita dan renda yang digunting kecil-kecil. Selain itu, kami menggantungkan hiasan-hiasan permata kuno pada setiap dahan.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan tempat kosong di tengah-tengah itu?" Betty bertanya. "Kita sudah kehabisan boneka". Kami menelusuri seluruh rumah sampai kami menemukan sesuatu yang cocok untuk dipasang. Akhirnya, kami memakai sebuah bola dunia yang ada di meja kerjaku. Bola dunia itu ditutup dengan lengkungan beludru yang diambil dari kalungan bunga yang menggantung di atas perapian. Kami mundur dan mengamati hasil karya kami dengan tersenyum. "Itu adalah pohon yang paling cantik yang pernah kulihat," Betty menyimpulkan. Aku harus menyetujuinya. Tetapi, aku mempunyai perasaan kuat bahwa yang menghias seluruh pohon itu bukan hanya kami.
Keesokan harinya, kumasukkan pohon "Joy to the World" ke dalam mobilku dengan hati-hati. Secara spontan, aku segera kembali ke dalam rumah dan menyambar segulung kabel tambahan, sebuah tape recorder yang bisa di bawa, dan kaset "Joy to the World". Ketika aku tiba di bazar, semua orang larut dalam suasana kegembiraan hari raya. Seorang wanita berjalan santai dari biliknya. Ia menjual kaos kaki panjang dengan seni tambalan. Wanita itu menyentuh boneka-boneka dari semua negara secara lembut. "Saya mau memesan satu dari pohon-pohon ini untuk cucuku di Jerman," dia memberi tahu.
Lalu, wanita yang menjual roti jahe bergabung dalam pembicaraan kami. "Saya membeli tiga karcis untuk bazar," ia bergurau. "Saya akan pulang dan membawa pohon ini." "Pohon ini akan mencuri perhatian," Ny. Saunders mulai bicara. "Jika tersebar berita tentang karcis berhadiah yang kita sediakan, kita tidak akan bisa membayangkan berapa banyak uang yang akan kita peroleh. Kita pasti akan melampaui rekor orang yang hadir dan mencapai ribuan." Tak lama kemudian, ruangan dipenuhi oleh para pembeli yang terus mengalir. Sepanjang hari, pohon yang kami buat menjadi pusat perhatian para pengunjung yang menginginkannya.
Beberapa menit sebelum jadwal penarikan undian, seorang wanita bertubuh kecil menukarkan 50 sen untuk sebuah karcis. Wanita itu kelihatan lelah dan memakai mantel kelabu yang kumal. Rambutnya dikepang dengan rapi. Rambut itu dikonde kuat-kuat sehingga membentuk sebuah konde kuno. Konde itu membatasi wajah yang bersih dari apa pun, kecuali rona suatu kemantapan.
"Kami datang ke kota untuk membeli makanan ternak dan aku membujuk suamiku agar berhenti di sini," katanya. "Aku mempunyai sedikit sisa uang untuk berbelanja. Tetapi, ia meyakinkanku bahwa tak banyak yang bisa kubeli di tempat mahal seperti ini." Wanita itu mengagumi beberapa barang, di antaranya boneka malaikat yang terbuat dari kain sutera yang mengkilap, agar-agar buatan sendiri, dan kue yang terbuat dari buah dan dipanggang. Kue itu menyerupai rangkaian bunga berbentuk lingkaran untuk hari Natal. Tangannya yang kasar dan berlekuk-lekuk mengambil kue kepingan salju yang dirajut rumit seperti jaringan laba-laba. "Coba lihat ini," katanya. "Suatu hari nanti, aku akan mempunyai pohon Natal dan akan memenuhinya dengan ini semua."
Ketika ia mendekati bilikku, ia berseru, "Pohon itu ... boneka-bonekanya! Sepanjang hidupku, aku menginginkan sebuah boneka yang cantik. Apakah seseorang akan memenangkan semua boneka itu?" Ia bertanya dengan pandangan mata seperti orang bermimpi. Aku memperdengarkan lagu "Joy to the World" dan suaranya memenuhi ruangan. "Paduan suara ini menyanyikan lagu itu sampai ke gereja," katanya. "Ini selalu mengingatkanku tentang orang-orang di seberang laut seperti yang diceritakan oleh wanita misionaris itu."
Semua mata sekarang tertuju pada orang yang akan segera memenangkan nomor untuk undian karcis berhadiah. Dari mana-mana, kudengar bisikan: "Jangan lupa, pohon itu milikku ... Tidak, itu milikku .... Itu untuk cucu-cucuku yang akan datang pada Natal ...." Tetapi, wanita yang sangat kecil itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari pohon itu. "Cucuku laki-laki, Jake, ia tinggal hanya satu teriakan jauhnya dari tempat kami," ia bercerita kepadaku. Ia sangat pandai dalam mempelajari buku. Bayangkan, ia dapat menyebut semua negara yang ada di bola dunia itu."
Lalu, terdengarlah pengumuman yang sudah lama dinanti-nantikan: "Hadiah untuk undian karcis berhadiah jatuh pada nomor 1153!" Aku memandang tangan kasar yang berlekuk-lekuk. Ia memegang karcis yang memenangkan hadiah dan kuremas pundaknya yang kurus. "Ibu memenangkan pohon itu! Ibu memenangkan pohon itu!" aku berteriak. "Maksud kamu karcisku? Aku belum pernah mendapat sesuatu yang indah seperti ini." Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Aku mematikan lampu-lampu dan tape recorder. Lalu, aku menggulung kabel tambahannya. "Apakah aku juga mendapat kotak musik dan kabel yang panjang itu?" tanyanya. "Aku akan meletakkan pohon itu di alat pemutar dan kami hanya mempunyai satu stop kontak di ruangan. Aku pasti memerlukan kabel tambahan itu."
"Tentu saja ... ini adalah Natal," jawabku ketika kubawa pohon itu ke luar dan kuberikan kepadanya. Setelah itu, sebuah truk pick up kuning yang karatan maju ke depan. Kemudian, seorang pria yang memakai pakaian kerja, kemeja flanel kotak-kotak, dan sebuah topi bertuliskan "I love Kentucky" melompat ke luar. "Sadie, apa yang kau peroleh?" ia berteriak dengan senyuman dan memperlihatkan sebuah gigi yang ompong. "Pa, aku memenangkan hadiah! Aku memenangkan pohon ini!"
Pria itu segera mengatur barang-barang yang ada di mobilnya, antara lain cangkul, rantai roda, dan berkantung-kantung pakan ternak. Ia berusaha menyediakan tempat untuk pohon itu di lantai truknya. Ia menarik pisau sakunya dan memotong dua kantung pakan ternak yang kosong untuk menutupi pohon itu. Kemudian, ia mengikatnya dengan tali timba. "Percayakah Anda?" seorang penonton terperangah. "Mereka membawa pergi pohon yang indah itu dengan truk tua yang usang. Untuk apa mereka memerlukan pohon semacam itu?"
Aku melambaikan selamat berpisah ketika truk yang bersuara bising itu menghilang ke langit malam yang berwarna ungu. Di mata hatiku, aku dapat melihat pohon itu diberi tempat terhormat di jendela sebuah pondok yang sederhana, dengan cahaya yang temaram, dan di tengah-tengah pegunungan Appalachian. Menurutku, rakyat yang tinggal di daerah itu termasuk orang-orang yang bahagia. Mereka bukan penjelajah dunia tetapi pekerja keras. Pada Desember yang dingin, asap hitam sepertinya akan bergulung-gulung keluar dari cerobong asap mereka ke udara bila mereka sekeluarga berkumpul di sekeliling pohon. "Lihat Nek, Jepang ada di sini," Jake kemungkinan akan berkata sambil menunjuk ke bola dunia yang pernah terletak di meja kerjaku. Sadie masih terpukau pada kabel tambahan itu. Ia akan memasang stop kontak lampu-lampu yang berkelap-kelip dan kotak musiknya.
Meskipun demikian, aku tetap yakin bahwa akulah pemenang yang sesungguhnya pada bazar Natal itu. Bazar ini merupakan suatu tradisi yang sudah berlangsung lama di Amerika. Aku menemukan kembali panggilan hati bagi orang-orang percaya di setiap tempat. Aku tak pernah melihat Sadie lagi. Tetapi, aku tak akan pernah melupakan pelajaran yang diberikannya kepadaku. Intinya, tidak peduli adanya perbedaan geografis atau status sosial, kita semua adalah kabel tambahan dari Tuhan. Kita membawa cahaya dan lagu-Nya ke tempat- tempat yang gelap dan kosong di dunia.
Sumber : kekal dari The Magic of Christmas Miracles (Nancy Anderson)
Kisah Nyata di Balik Lagu Pilihan
Dari tahun 1712 sampai dengan tahun 1748, kota London adalah tempat kediaman dua orang pria yang terkenal semasa hidupnya, dan yang masih tetap terkenal sampai sekarang. Mereka adalah Isaac Watts dan George F. Handel. Kedua orang itu hidup melajang. Dalam Westminster Abbey, yaitu gereja kenegaraan di Britania Raya, terdapat ukiran yang mengingatkan orang-orang akan mereka.
Walau ada sekian banyak kesamaan dalam kisah hidup kedua warga kota London itu, mereka akan heran seandainya mengetahui bahwa hasil karya mereka berdua akan terpadu menjadi salah satu lagu Natal yang paling disukai di seluruh dunia.
Mengapa mereka akan heran? Bagaimana hasil karya mereka berdua terpadu menjadi satu? Pertanyan-pertanyaan itulah yang akan dijawab dalam kisah di bawah ini.
Saduran Mazmur
Apakah umat Kristen biasa menyanyikan mazmur pada hari Natal? Tidak, bukan? Memang ada aliran gereja yang masih berpendapat bahwa sumber utama nyanyian rohani hanyalah Kitab Mazmur. Dalam gereja seperti itu, syair-syair rohani dari zaman Perjanjian Lama dianggap kurang cocok untuk perayaan kelahiran sang Juru Selamat.
Walaupun demikian, hampir semua aliran gereja -- yang mengutamakan nyanyian mazmur maupun yang tidak -- sudah biasa menyanyikan mazmur pada hari Natal. Mengapa? Karena lagu Natal karangan Isaac Watts yang kita bahas saat ini adalah saduran Mazmur pasal 98.
Pada masa hidup Isaac Watts, kebanyakan gereja di negara Inggris sangat terikat pada Kitab Mazmur. Lagu-lagu rohani yang lain tidak diterima. Sayang sekali, terjemahan Kitab Mazmur yang dipakai pada masa itu kurang baik. Tidak mengherankan jika nyanyian jemaat pada masa itu kurang bersemangat!
Isaac Watts berusaha memperbaiki keadaan itu melalui dua cara yang berbeda. Ia mengarang banyak nyanyian pujian yang hingga kini masih terdengar di seluruh dunia. Ia juga menggarap kembali isi Kitab Mazmur.
"Mengapa kita harus menyanyikan nama-nama tempat di tanah Palestina yang belum pernah kita lihat?" tanya Dr. Watts. "Mengapa kita harus menyanyi tentang busur dan panah, tentang perang dengan tombak dan pedang? Mengapa Raja Daud, pengarang utama Kitab Mazmur, tidak boleh diajak bicara seperti orang masa kini?"
Justru itulah yang dilakukan oleh Isaac Watts. Pada tahun 1719 ia menerbitkan koleksi lagu rohani yang berjudul: Mazmur Daud dalam Bahasa Perjanjian Baru dan Diterapkan Pada Keadaan dan Kebaktian Umat Kristen.
Di antara syair-syair lagu itu ada yang sudah menjadi lagu pilihan umat Kristen di seluruh dunia. Salah satu di antaranya adalah sebuah lagu Natal yang penuh sukacita. Lagu itu digubah berdasarkan Mazmur 98:4-9.
Si Gemuk dari Jerman
Pria yang satunya lagi, yang juga tinggal di kota London pada masa Dr. Watts menjadi seorang pendeta dan sastrawan ternama, bernama George F. Handel; ia lahir pada tahun 1685 dan meninggal pada tahun 1759. Seperti Isaac Watts, George F. Handel juga akan heran seandainya ia tahu bahwa hasil karya mereka berdua di kemudian hari akan terpadu menjadi sebuah lagu yang sangat indah dan yang akan tetap mengalun pada setiap hari Natal.
George Handel lahir di negeri Jerman; ibunya putri seorang pendeta. Sejak kecil ia sudah diajarkan isi Alkitab. Oleh ayahnya, George dilarang belajar musik. Tetapi bakat musiknya begitu mendarah daging sehingga tidak mungkin dapat terus dipendam. Ia sering bangun tengah malam, lalu memainkan piano kecil -- pelan-pelan -- agar ayahnya tidak terjaga. Akhirnya orang-orang mengetahui bahwa George Handel memunyai bakat musik yang cemerlang. Mereka membujuk sang ayah supaya rela menerima bakat bocah kecil itu.
Pada umur sebelas tahun, George Handel sudah mulai mengarang musik. Ia belajar dari guru-guru besar di Jerman dan di Italia. Setelah merantau beberapa tahun di Italia dan berkeliling dari negara yang satu ke negara yang lain, akhirnya ia menetap di Inggris. Pada waktu itu ia berumur 27 tahun.
Banyak orang Inggris tidak begitu menyukai George Handel. Badannya besar -- ia memang gemar makan makanan yang lezat --, pakaiannya agak mentereng, suaranya keras, logat Jermannya begitu khas. Ia sering marah-marah kepada orang-orang yang berbantah-bantahan dengannya.
Tidak mengherankan kalau kebanyakan anggota gereja di Inggris tidak memandang dia sebagai teladan seorang Kristen. Ia hanya dihormati sebagai musikus besar. Tetapi sesungguhnya di balik penampilan luarnya yang agak kurang menyenangkan itu, ia seorang pengikut Kristus yang saleh dan setia.
Musik Surgawi
Setelah membuat banyak opera (drama dengan musik) dan berbagai karangan lainnya, George F. Handel mulai menulis oratorium (kantata agung, atau gubahan musik berdasarkan isi Alkitab). Seorang pemimpin Kristen pernah menawarkan Handel susunan ayat untuk diterapkan pada musik karangannya. Handel menolak tawaran itu dengan ucapan yang cukup tajam. "Saya tahu isi Kitab Suci; saya sanggup memilih sendiri ayat-ayat yang cocok!"
Oratorium hasil G.F. Handel dengan judul "Ratu Ester, Raja Saul, dan Bangsa Israel di Mesir" dipentaskan di teater umum, bukan di gereja. Itulah sebabnya banyak orang Kristen menentang pertunjukan-pertunjukan itu. "Tidak pantas kalau isi firman Tuhan dipentaskan di atas panggung," keluh mereka. Lalu mereka sengaja menjadwalkan kegiatan gereja pada hari dan jam yang sama dengan pertunjukan oratorium karangan George Handel.
Karangan Handel yang terbesar, oratorium Mesias, diciptakannya dalam waktu 24 hari saja. Selama hari-hari itu ia sering lupa makan dan lupa tidur. Selama itu juga ia tidak keluar dari rumahnya, satu kali pun tidak. Pernah ada seorang pelayan rumah tangga yang membawakan makanan baginya. Ia melihat komponis yang berbadan besar itu berjalan kian ke mari di kamarnya. Saat itu George Handel sedang berseru, "Haleluya! Haleluya!" sambil berurai air mata. Di kemudian hari, musikus itu bersaksi: "Rasanya seluruh isi surga terbentang di depan mata saya, dan saya melihat Yang Mahabesar!"
Tetapi G.F. Handel sudah mendapat "pelajaran" dari pengalamannya yang sudah-sudah. Ia tidak mau menimbulkan permusuhan lagi dengan umat Kristen. Maka ia memutuskan untuk tidak mementaskan oratorium Mesias di kota London. Naskah musik yang tebal itu hanya disimpan saja di laci meja tulisnya.
Pada tahun 1724 George Handel mendapat kesempatan untuk pergi ke Dublin, ibu kota Irlandia. Di sanalah oratorium Mesias dipanggungkan untuk yang pertama kalinya. Dari sana pulalah oratorium yang paling agung itu berkeliling mengitari bola bumi. Siapakah yang belum pernah mendengar lagu "Haleluya!" yang sangat terkenal itu, atau gubahan lainnya dari oratorium Mesias?
Sebagai seorang musikus Kristen yang sungguh-sungguh mempersembahkan bakatnya kepada Tuhan, sikap hati George F. Handel tercermin melalui suatu peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian -- setelah oratorium Mesias menjadi tenar:
Seorang bangsawan Inggris mengucapkan selamat kepada George Handel atas "hiburan" yang diberikannya kepada hadirin melalui pementasan oratorium itu.
Jawab G.F. Handel, "Pak, saya menyesal kalau hanya menghibur mereka saja; maksud tujuan saya ialah menjadikan mereka orang-orang yang lebih baik."
Menjelang akhir hidupnya, George F. Handel menjadi buta. Namun ia masih sanggup memainkan orgel dan memimpin konser. Sesuai dengan doa permohonannya, ia meninggal pada hari Jumat Agung tahun 1759, "supaya saya dapat bertemu dengan Tuhan dan Juru Selamat saya tepat pada hari kebangkitan-Nya," demikianlah kata-kata George Handel menjelang akhir hidupnya.
Baru Dipadukan Satu Abad Kemudian
Pada tahun 1836, hampir satu abad sejak George F. Handel maupun Isaac Watts meninggal, seorang musikus Amerika bernama Lowell Mason (1792-1872) memadukan hasil karya mereka berdua sehingga menjadi lagu "Kesukaan Bagi Dunia" yang kita kenal sekarang. Lowell Mason adalah seorang yang giat sekali mengarang, juga giat menyusun kembali lagu-lagu karangan orang lain.
Dua bagian oratorium Mesias karangan George F. Handel rupanya disatukan oleh Lowell Mason sehingga menjadi melodi yang diterapkan pada "saduran" Mazmur 98 karangan Isaac Watts. Nyanyian itulah yang selalu terdengar pada setiap hari Natal: lagu "Kesukaan Bagi Dunia".
Pada masa hidupnya, Isaac Watts mungkin termasuk orang Kristen yang tidak begitu setuju kalau musik yang bertemakan Alkitab dipentaskan di teater umum. Tetapi Tuhanlah yang tahu hati manusia. Tentu saja, Isaac Watts dan George F. Handel akan merasa senang seandainya dapat mendengar hasil karya mereka berdua berkumandang dari tahun ke tahun saat umat Kristen merayakan kedatangan sang Juru Selamat.
Sumber : Kekal dari Kisah Nyata di Balik Lagu Pilihan
Langganan:
Postingan (Atom)
