Robert & Lea: Always in First Love

Keharmonisan pasangan ini tidak hanya terpancar dari aura mereka ketika bernyanyi, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Bak gayung bersambut, keduanya selalu melepaskan cinta, dan saling rindu jika tidak bersamaan. Katanya, ada sesuatu yang hilang jika mereka berjauhan. Karenanya, sebisa mungkin pasangan ini selalu bersama melakukan tugas. Seperti, membesarkan ketiga anak, menciptakan lagu-lagu baru dan kini menjadi gembala sekaligus sahabat bagi jemaat.

Siapa yang tak tahu kiprah pasangan ini? Namanya sudah meroket sejak tahun 1990 lewat debut lagunya yang berjudul "Di Bawah Kepak Sayap-Mu". Lagu tersebut tidak hanya digemari umat kristiani tetapi masyarakat umum. Bahkan melalui lagu tersebut, pasangan ini pernah dituntut lantaran dianggap kristenisasi lewat lagu. Syukurnya masalah tersebut bisa diatasi hingga tidak mengundang keributan. Bagi Robert dan Lea, masalah itu tidak membuatnya ciut untuk terus menciptakan lagu gospel sekuler. Buktinya, beberapa album setelah karya perdananya terus bergulir.

Di usia pernikahan mereka yang 21 tahun lebih, romantika cinta mereka kian menguat. “We always in first love,” ungkap keduanya. Saat ditanya apa bedanya first love sekarang dengan first love ketika mereka berpacaran, keduanya pun menjawab dengan kompak, “tidak beda banyak”. Bedanya, jika dulu mereka belum disatukan dalam mahligai pernikahan, sekarang mereka sudah bersatu dan menghasilkan tiga keturunan. Sedang getar-getar cinta pertama masih dirasakan hingga saat ini. Hanya saja kadarnya yang berbeda.

Untuk menjaga agar tetap ada getar cinta, Robert dan Lea memiliki kesepakatan, yaitu kebersamaan. “Sudah 21 tahun lebih kami bersama, tapi kami tidak pernah merasa jenuh,” ucap Pdt. Robert Susanto. Mengapa? Karena ada cinta yang mampu mengetarkan semuanya. “Sehari saja kami tidak bertemu, rasanya kangen sekali. Cinta dan kebersamaan tidak dapat dipisahkan. Bukan saja bersama dalam rumah tangga tapi juga dalam pelayanan, bahkan dalam banyak hal”.

Saling melengkapi
Suami-istri bagi Robert Sutanto merupakan makhluk yang Tuhan ciptakan untuk saling melengkapi. Menurutnya, tidak ada pasangan yang dua-duanya sempurna. “Pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Yang lebih, bisa turun sedikit untuk menutupi yang kurang, pun sebaliknya. Sehingga terciptalah hubungan yang seimbang,” terangnya. Ia mencontohkan hubungannya dengan Lea. Diakui Robert, istrinya memiliki banyak kelebihan, seperti ingatan yang kuat dan lebih cekatan jika dibanding dirinya. Kelebihan itulah yang dipakai Lea untuk mendampingi Robert dalam menyelesaikan tugasnya. Baik sebagai seorang ayah, suami maupun pendeta.

“Tapi dia (Lea) juga memiliki kekurangan. Misalnya suka asal nyeplos bicara, atau bertindak dulu tanpa dipikirkan akibatnya. Biasanya, saya tegur dia,” imbuhnya. Robert menambahkan, dalam berumah tangga, tidak baik melihat pasangan dari sisi kekurangannya saja. Menurutnya, suatu hubungan akan menjadi harmonis jika bisa saling menerima pasangan apa adanya. Termasuk kekurangannya. “Karena kita pun juga memiliki kekurangan. Saya misalnya, tidak bisa menghafalkan nomor-nomor telpon. Tapi istri saya memiliki daya ingat yang hebat. Dia yang membantu saya dalam hal tersebut. Dan masih banyak lagi hal-hal yang saya tidak bisa kerjakan tapi istri bisa, demikian juga sebaliknya,” tutur Pastor New Wine International Church, Jakarta ini.

Selain saling melengkapi, Robert-Lea juga memiliki jurus jitu dalam menjaga kelanggengan cinta mereka. Seperti; kejujuran dan keterbukaan. “Kita harus jujur dan terbuka dengan pasangan. Jangan pernah ada yang disembunyikan. Karena rahasia awal dari pertengkaran. Setiap kami juga terbuka dalam segala hal, dan harus berjiwa besar dan mau ditegur jika melakukan kesalahan. Bahkan hal ini juga kami terapkan pada anak-anak. Sejak kecil mereka kami ajar jujur dan terbuka. Tak heran jika saat ini mereka sudah tumbuh menjadi remaja, namun mereka tetap terbuka dengan kami. Apa saja yang anak-anak alami, baik di sekolah dan di lingkungan bermain, mereka selalu cerita. Selain itu mereka juga bebas berpendapat dan berkreatifitas,” tutur mama dari Lewi, Kezia dan Ashley.

Kehangatan cinta
Bagi pasangan ini, cinta itu hangat. Kehangatnya bisa dirasakan siapa saja yang ada didekat cinta. Dan cinta itu bukan saja untuk mereka yang sedang kasmaran melainkan untuk siapa saja yang membutuhkan cinta. Tanpa cinta hidup menjadi kering, tapi dengan cinta seseorang sanggup melakukan apa saja. Itulah kekuatan cinta. Karenanya, Robert dan Lea telah menetapkan rumah tangganya di atas dasar cinta. Cinta yang tidak hanya mencari keuntungan sendiri, melainkan mengutamakan orang lain. Kini cinta itu tidak hanya mereka nikmati berdua. Ia mulai menyulutkan api cinta kepada Lewi, Kezia dan Ashley. Bahkan tanpa malu-malu keduanya pun mengisahkan cerita cinta mereka kepada ketiga anaknya.

Robert yang besar di Kanada mendadak jatuh cinta dengan Lea yang saat itu merupakan tetangganya di Indonesia. “Tahun 1987 saya pulang ke Jakarta. Saya berjumpa Lea beberapa kali. Saat itu belum ada getar cinta di hati. Sepulang saya ke Kanada barulah saya merasa benih itu. Setelah share dengan mama, saya justru didorong untuk segera melamar Lea. Kebetulan, mama Lea dan mama saya itu berteman baik. Lalu lewat telpon saya melamar Lea. Satu tahun berikutnya kami pun menikah,” kenang Robert yang kala itu merasa bahwa Lea benar-benar seseorang yang Tuhan berikan untuk mendampinginya. Kenyataannya pun demikian. “Pilihan saya tidak salah. Lea memang istri yang baik dan bertanggung jawab,” aku pria kelahiran Jakarta, 11 Mei 1958.

Hal yang sama pun diakui Lea. Ia bersyukur mendapat suami seperti Robert. “Meskipun besar di luar negeri, Robert masih memiliki etika dan nilai-nilai Indonesia. Bahkan setelah lama melayani di luar negeri, ia justru memilih untuk pulang ke tanah air dan merintis jemaat di sini,” ucapnya. Kini giliran ketiga anaknya yang merasa bersyukur lantaran memiliki orangtua seperti mereka. Di mata anak-anak, Robert-Lea bukan saja sebagai orangtua yang penuh dengan larangan dan perintah. Melainkan orangtua yang bisa menjadi teman dan sahabat yang bisa toleransi kepada anak-anak. Tak heran jika tanpa disuruh orangtua, anak-anak itu kini giat di pelayanan. Dan seperti orangtuanya, mereka pun piawai dalam bermain musik.

“Sejak kecil kami sudah membiasakan mereka ikut pelayanan, sehingga ketika mereka besar tidak kaget lagi. Justru mereka mengikuti langkah kami,” ucap ibu kelahiran, Jakarta, 11 Juni 1965 ini. Robert-Lea menaruh kepercayaan penuh kepada ketiga anaknya. Keduanya yakin bahwa anak-anak bisa memilih komunitas yang baik sebagai tempatnya bertumbuh. “Kami cukup meletakan dasar yang benar pada masa kecil mereka. Ketika mereka tumbuh besar, saya yakin bahwa apa yang saya ajarkan dulu bisa memproteksi anak-anak dari pergaulan. Puji Tuhan, saya melihat bahwa sampai saat ini mereka tetap menjadi anak yang baik dan takut Tuhan,” ucap pasangan pelantun lagu "Bersama Keluargaku" ini. *

Ir Ciputra: Entrepreneur Cinta Tuhan

Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga daripada permata; apapun yang kau inginkan, tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.

Ir. Ciputra. Siapa yang tak mengenal nama ini. Pengusaha di bidang properti yang sukses dan telah memberi andil bagi bangsa. Bukan itu saja, dia sosok yang sangat peduli akan keadaan bangsa. Karena itulah ia tergerak untuk membangun bangsa dengan membangun rumah tinggal dan tempat hiburan. Selain itu, ia juga mendirikan sekolah-sekolah. Tepatnya sejak 40 tahun lalu. Menurutnya pendidikan adalah cara yang efektif untuk meningkatkan harkat dan kesejahteraan seseorang, keluarga dan sekelompok masyarakat.

Bapak yang akrab disapa Pak Ci ini sendiri mengalami keampuhan pendidikan dalam kehidupannya. Bila orang melihatnya sukses sekarang, itu karena perjuangan kerasnya semasa muda. Perihnya hidup pernah ia alami. Namun ia tak mau menyerah. Dengan mengandalkan Tuhan, akhirnya Pak Ci pun berhasil menjemput sukses. Meski cukup berat perjuangnnya. Semua itu dianggapnya sebagai proses kehidupan yang mengajarkannya akan arti kehidupan dan sukses.

Masa Kecil yang Tak Terlupakan
Ir. Ciputra lahir di kota kecili Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 dengan nama Tjie Tjin Hoan. Ia anak ke-3 dari pasangan Sim Poe dan Lie Eng Nio. Keluarganya memiliki usaha toko klontong di Bumbulan, sekitar 150 km dari Gorontalo. Pada usia 12 tahun, ayahnya ditangkap Jepang karena dituduh mata-mata Belanda. Sejak saat itu, dia dan keluarganya tidak pernah tahu lagi keberadaan ayahnya. Bahkan letak kuburnya pun tidak diketahui.

Sejak ayahnya ditangkap, perekonomian keluarga terganggu. Ia mengalami kesulitan hidup. Akibatnya, ia terlambat bersekolah. Usia 12 tahun ia masuk kelas 3 SD dan baru lulus pada usia 16 tahun. Meski demikian, Ciputra muda tidak patah semangat. Ia bertekad untuk melanjutkan sekolah, bahkan ia bertekad meninggalkan kampung halaman demi masa depan yang lebih baik, bebas dari kemiskinan dan kemelaratan. Karena itu ia rela berjalan 14 km tiap hari untuk ke sekolah. Tiap hari ia harus bangun pukul 05.00 wib, berlari ke sekolah dan baru tiba pukul 14.00 wib dengan perut lapar.

Keadaan tersebut akan lebih berat lagi bila musim hujan tiba. Ciputra kecil yang hanya memiliki sedikit baju dan tidak punya sepatu ataupun sandal ini harus menerjang hujan dengan berpayung daun pisang. Agar bajunya tetap kering, ia harus membuka dan membungkusnya dengan daun woku (semacam daun palem yang besar). Di hari Minggu ia gunakan untuk berburu babi dan rusa. Pengalam itulah (lari dan berburu) yang akhirnya menghantar Ciputra terpilih sebagai atlet Sulawesi Utara untuk lomba lari 800 meter dan 1500 meter di PON II di Jakarta. Tepatnya ketika ia duduk di bangku SMA.

Belajar dan Bekerja
Lulus SMA Pak Ci memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Berbekal uang yang pas-pasan, ia masuk sebagai mahasiswa di Institut Tehnik Bandung (ITB). Tingkat dua ia memutuskan untuk menikahi kekasihinya, Dian Sumeler. Suatu keputusan yang cukup berani bagi Ciputra. Pasalnya, disaat ia membutuhk dana untuk kuliah, ia malah menikah. Itu berarti tanggungannya bertambah. Justru keadaan itu dijadikan pecut baginya. Sehingga ia berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Bersama temannya (Budi Brasali dan Ismail Sofyan) ia mendirikan PT Perentjana Djaja. Ia juga bekerja di perusahaan kontraktor.

Bagi Ciputra, belajar dan bekerja merupakan ajang hidupnya. Ia harus tetap bertahan hidup namun ia juga perlu pendidikan. Seperti kata Charles handy, filusuf Inggris, “Belajarlah seperti orang bekerja dan bekerjalah seperti orang belajar”, demikian Ciputra menjalani hidupnya. Hingga kini bagi pemiliki PT Ciputra Grup adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Dan keduanya tidak dapat dipensiunkan dari hidupnya. Tak heran di usia yang ke-78 tahun ini, Pak Ci masih bersemangat untuk mengembangkan usaha dan bisnisnya. Ia masih rajin ke kantor untuk berdiskusi dan memecahkan masalah.

Menciptakan lapangan kerja, berbisnis merupakan kesenangan Ir.Ciputra. Mengembangkan industri real estate memang menjadi keahliannya. Ia penggagas sekaligus ketua pertama REI (Real Estate Indonesia). Selain itu ia juga ikut mendirikan Federasi Real Estate Asia Pasific. Asosiasi ini bergabung dengan FIABCI (Federal Real Estate Dunia). Tahun 1994-1996, Ir.Ciputra orang Indonesia pertama yang terpilih menjadi presiden FIABCI.

God Has More In Store
Kerusuhan Mei 1998 telah membukakan mata rohani Pak Ci. Dulu sebelum Tuhan mengijinkannya mengalami kebangkrutan, ke gereja hanya dilakukan sebagai rutinitas. Bahkan seringkali ia lupa ke gereja atau ikut ibadah namun tidak konsentrasi lantaran terserang ngantuk. Namun, setelah kerusuhan membuatnya bangkrut ia justru dekat Tuhan dan rindu melayani. Perubahan tersebut tidak hanya sementara. Sejak kerusuhan tahun 1998 hingga kini Pak Ci aktif dibeberapa pelayanan.

Bukan hanya di pelayanan, di dunia kerja pun sosok Pak Ci berubah. Ia lebih sabar, ramah dan penuh pengertian kepada para stafnya. Jika dulu ia mengandalkan kekuatan dan kepandaiannya, mediao ’98 telah menyadarkannya akan arti Tuhan dalam hidup. Ia tetap menjadi sosok pekerja keras, bedanya saat ini ia lebih mengandalakan Tuhan.

“Saya pernah mengalami gagal, namun saya tidak berhenti pada kegagalan. Saya bangkit dengan cara bersandar pda Tuhan. Pada krisis ekonomi tahun ’98 lalu, saya banyak hutang. Selain karena kerusushan, saya melakukan kesalahan dalam strategi bisnis. Saya berdoa dan meminta kreditur memberi keringanan. Puji Tuhan, mereka dapat mengerti. Dan saya pun bisa melewati cobaan tersebut. Tuhan memnag ajaib,” ungkap Pak Ci. (Kristin/dbs)

Billy Graham dan Kisahnya Saat Berjumpa Yesus

Gadis-gadis mengelu-elukan bintang bola basket dan “baseball” yang muda itu di SMA Sharon di dekat Charlotte, Negara Bagian North Carolina – USA. Pada suatu hari pemuda itu berharap menjadi seorang pemain baseball utama di perkumpulan-perkumpulan baseball yang besar. Jika tidak demikian, ia berpikir mungkin ia akan menjadi seorang petani sepeti ayahnya.

Billy berusia 17 tahun pada saat seorang bekas petinju bayaran yang telah berubah menjadi penginjil datang ke kota Charlote. Mordecai Ham, seorang penginjil yang berapi-api dan suka menunjuk orang-orang yang berdosa secara langsung.

Pemimpin-pemimpin Gereja di kota Charlote menganggap Mordecai Ham sebagai pengganggu. Mereka menolak permintaan izinnya untuk membangun sebuah tenda. Namun dengan pertolongan orang-orang awam, bekas petinju itu memasang tenda tepat di luar batas kota.

Ia sudah mengadakan kebangunan rohani selama beberapa minggu ketika Billy datang. Billy – seorang pemuda tinggi ramping, berambut ikal dan pirang setiap Minggu pergi ke gereja bersama orang tuanya yang saleh. Ia tidak merokok maupun minum minuman keras. Walaupun ayahnya seorang pendukung kuat Mordecai Ham, Billy tidak bersusah-susah menghadiri sebelumnya, karena ada hal-hal lain yang harus dilakukannya.

Pengunjung Kebaktian Kebangunan Rohani itu cukup banyak bagi kota Charlote – 5.000 orang. Orang-orang berkata bahwa itu merupakan jumlah terbesar yang pernah dialami penduduk Negara Bagian Carolina. Billy dan temannya di SMA berjalan melewati jalan kecil di antara deretan bangku dan duduk di bangku yang keras.

Khotbah yang disampaikan pengkhotbah berbadan besar itu sangat tidak berkesan bagi Billy, sampai pengkhotbah itu mengacungkan jari menunjuk kearah Billy serta berteriak, “Kamu berdosa.”

Billy – yang selalu siap menangkap bola – tidak siap untuk main tangkap-tangkapan dengan pengkotbah itu. Ia menundukkan kepalanya yang berambut pirang bersembunyi di belakang topi seorang wanita di depannya.

Dua malam kemudian Billy datang lagi, membawa seorang teman, namanya Albert McMakin. Selama beberapa malam seterusnya kedua orang itu hadir bersama-sama. Penginjil yang berapi-api itu terus meyakinkan Billy bahwa ia harus memilih di antara dua, yaitu sorga atau neraka.

Pada suatu malam Billy membawa seorang teman lain, namanya Grady Wilson. “Mari kita duduk di bagian paduan suara,” usul Billy, walaupun ia tahu ia tidak dapat menyanyi. Maka kedua orang itu duduk di belakang mimbar (tempat paduan suara), selamat dari pandangan pengkotbah yang suka memukul mimbar itu.

Mordecai Ham tidak menunjukkan jarinya kepada Billy malam itu, namun demikian Billy mendapat pukulan dari khotbahnya pada saat pengkhotbah itu berkata, “Malam ini ada orang yang sangat berdosa di sini.”

Ia mengatakan tentang saya, pikir Billy. Seseorang pasti telah memberitahu dia bahwa saya ada di sini.

Pengkhotbah itu mengakhiri khotbahnya dan memberi undangan bagi orang-orang yang mau bertobat. Billy menahan nafasnya pada saat paduan suara itu mulai menyanyi. Setelah menyanyi sebentar ia tidak dapat bertahan lagi. “Ayo, Grady,” ia berkata kepada temannya.

Kedua orang itu turun dari paduan suara dan berdiri di depan. Mengingat keputusannya, Billy berkata, “Hal itu seperti tinggal di luar pada hari yang gelap dan sinar matahari menembus melalui lapisan awan. Segalanya tampak berbeda. Untuk pertama kalinya saya merasakan sukacita dilahirkan kembali.”

Sejak malam yang penuh kenangan pada tahun 1936 itu, Billy Graham telah berkhotbah kepada lebih banyak orang daripada almarhum Pendeta Mordecai Ham, orang yang telah membimbingnya kepada Kristus.

Sebenarnya ia telah berkhotbah kepada lebih banyak orang, secara langsung, daripada pengkhotbah-pengkhotbah lainnya dalam sejarah – lebih dari dua puluh juta orang. Namun demikian yang lebih penting lagi, ia telah meyakinkan puluhan ribu orang bertobat dan bertelut kepada Kristus.

Ev. Iin Tjipto

Dibangun dalam usia yang sangat muda untuk melayani, menjamah dan memberkati orang terutama mereka yang miskin, terlantar, tertolak tidak diterima orang kebanyakan. Hidupnya dibangun untuk menjadi kekasih Tuhan. Ev. Iin Wenas Tjipto berjalan dalam keintiman dan petualangan iman. Dasar iman dan kasih diletakkan oleh orang tuanya terutama bapak Yusak Cipto Purnomo yang mewariskan kekayaan pergaulan dengan Tuhan Yesus.

1992, lulus dari TU DELFT, Belanda sebagai Msc of Architect karena mujizat dan anugerah Tuhan, tapi Tuhan memanggil untuk melayani penuh waktu.

1998, Tuhan memberi visi untuk membangun tentara Tuhan yang militan dari anak-anak pemulung, jalanan, golongan orang-orang yang dibawah garis kemiskinan.

2004, Wadah ini, Mahanaim, sekarang ada 9 rumah singgah, pelayanan ke daerah-daerah yang belum terjangkau oleh gereja-gereja. Ada TK, SD, SMP, memberi makan gratis tiap hari pada yang membutuhkan dan bea siswa kepada ±3.000 anak yang hampir putus sekolah karena tidak ada biaya.

Hidupnya hanya karena anugerah Tuhan yang besar, pelayanannya hanya karena pemeliharaan Tuhan yang dasyat. Semua dari Dia untuk Dia bagi kemuliaan Dia, Yesus Kristus yang sangat dikasihinya.

Kumpulan Khotbahnya

Basuki T. Purnama, Menggarami Politik Dengan Nilai Kerajaan Allah

Salah satu hal yang dapat anda lakukan untuk memberkati negara ini adalah berperan dalam pemerintahan dan politik, seperti yang dilakukan oleh seorang warga keturunan yang mencapai visinya untuk menjadi berkat dan membawa perubahan bagi kota dan bangsanya.

Propinsi Bangka Belitung sangat mengenal Basuki T. Purnama, atau yang biasa dipanggil dengan Ahok. Ia lahir di kota Bangka, yang pernah duduk sebagai Bupati Bangka Belitung dan sekarang telah menjadi anggota DPR RI Komisi II.

Dari namanya saja, dapat dikenali bahwa ia seorang warga keturunan. Namun, itu tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi seorang penyampai inspirasi rakyat dan mengubah bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebelumnya, ia seorang pengusaha sukses., Namun, di era reformasi tepatnya tahun 2004 ia tertarik terjun kedunia politik dan bergabung dibawah bendera Partai PIB sebagai ketua DPC Partai PIB Kabupaten Belitung Timur. Pada pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009.

Saat menjabat, Basuki benar-benar melakukan perubahan. Ia menerapkan nilai-nilai Alkitab di dalam pekerjaan-nya. Ia menolak praktek-praktek korupsi dan tidak mau menyalahguna-kan kekuasaan. Dalam masa pemerin-tahannya, Basuki menggunakan sebagian besar uang jatah perjalanan yang dipersiapkan pemerintah tidak untuk dirinya sendiri melainkan untuk pelayanan ksehatan rakyat. Semua sekolah SD digratiskan. Semua staf bawahannya pun diperhatikan kesejahteraannya.

Setelah ia selesai dalam masa jabatannya, visi selanjutnya adalah menjadi Gubernur. Namun, ia menga-lami kekalahan karena partai lawan berbuat curang dalam pemilihan. Ia sempat mengadukannya ke Makamah Agung, namun ia ditawarkan untuk “membeli” kemenangan seharga 5 Milyar rupiah. Ia menolak keras untuk menyuap dan tetap berlaku bersih. Apa yang dilakukannya telah membawa Basuki atau Ahok saat ini ke kursi Dewan Perwakilan Rakyat komisi II. Di DPR pun Basuki tidak gentar menyuarakan kebenaran yang seharusnya dilakukan.

Saudara dapat melihat kinerjanya di www.ahok.org. (Yan)

Jonatan Pribadi

Om Jonatan Pribadi adalah seorang gembala sidang dari GSJA Bandengan Selatan yang sungguh memiliki hati seorang gembala.

Kehidupannya pada masa muda bukanlah sebagai seorang hamba Tuhan, namun ketika Tuhan memanggilnya untuk melayani sebuah jemaat kecil di Jembatan Hitam, Om Jo - begitu jemaat memanggilnya - meresponi dengan hati terbuka. Ketika banyak hamba Tuhan menolak untuk melayani gereja kecil di Jembatan Hitam tersebut, Om Jo menerimanya dengan semangat.

Akhirnya, ia meninggalkan kehidupan yang waktu itu ditopang oleh bisnis yang cukup berkembang demi pelayanan Tuhan.

Eddy Leo

Penatua Abbalove Ministries. Beliau menggembalakan 17.000 jemaat sebagai gereja sel. Ketua Christians Men's Network Indonesia dan salah satu pendiri serta pengajar di STT LETS. Beliau dikenal degan pengajaran Hati Bapa dan aktif mengembangkan konsep revolusi penyembahan yang dikenal dengan sebutan Prophetic Priestly Worship dan DNA Gereja Sel (Mengalami Misteri Kristus dan Membangun Hubungan). Bersama dengan tim POSKO LUMBUNG, Beliau telah memberkati gereja-gereja di Indonesia dan bangsa-bangsa, antara lain Korea Selatan, Bangladesh, Mongolia, Malaysia, India, Jepang, Taiwan, Cina, Australia, Brasil, Kanada dan Amerika Serikat.

Daniel Panji

Perekonomiannya cukup mapan. Kehidupan rumah tangganya pun terbilang harmonis sebab ia dikaruniai istri yang cakap dan dua putra yang takut Tuhan. Namun ada beban yang masih saja ia rasa menyesakkan hidupnya. Yaitu, ketika ia menyaksikan pergulatan yang berkecamuk di tengah bangsanya. Pernah ia menangis tiada henti ketika berada di atas pesawat menuju Amsterdam.

Daniel Panji, demikian nama pria kelahiran Bandung, 31 Agustus 1961 ini. Namanya tak asing lagi bagi mereka yang aktif terlibat dalam kegerakan Tranformasi Indonesia. Dialah salah satu penggerak Jaringan Doa Nasional. Panggilan untuk berdoa bagi bangsa bermula dari perjalanan Daniel ke Amsterdam pada tahun 1996. Kala itu ia bermaksud mengunjungi mamanya. Dalam perjalanan itulah Tuhan mulai meluluhkan hatinya.

“Biasakan kalau di pesawat saya suka nonton televisi Tapi pada perjalanan kali itu, ketika saya mau melihat teve, mata saya seperti melihat peta Indonesia terpampang jelas di depan mata. Lalu hati saya terasa miris hingga airmata saya tidak bisa dibendung lagi. Demikian juga ketika perjalanan pulang kembali ke Indonesia. Saya tidak tahu mengapa hal itu terjadi, yang pasti setibanya di Indonesia, saya berkomitmen untuk berdoa bagi bangsa. Tiap hari saya adopsi kota-kota di bangsa ini dalam berdoa. Sesekali saya kunjungi beberapa kota yang Tuhan taruh dalam hati dan berdoa bagi kota itu. Saya mulai men-sharekan beban doa ini ke beberapa rekan, ternyata mereka juga memiliki beban yang sama,” kisah Daniel.

Kegerakan doa ini kian menyala ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997. Saat itu kerusuhan terjadi dibeberapa daerah, ekonomi ambruk, moralitas merosot, politik kacau, kejahatan kian merajalela dan bencana alam terjadi dimana-mana. “Saat itulah saya tahu mengapa Tuhan menaruhkan Indonesia di hati ini. Tuhan ingin saya dan banyak umat-Nya berdoa bagi bangsa ini. Puji Tuhan, pada tahun 2000 kami mulai membuat jaringan doa. Tidak hanya doa saja, kami juga melakukan beberapa kegiatan sosial. Tahun 2003 gaung tentang transformasi bangsa mulai kami suarakan. Hasilnya, banyak anak-anak Tuhan sekarang ini yang ikut terbeban bagi pemulihan bangsa,” tutur Direktur Utama PT Meta Trans Indonesia ini.

Doa dan bekerja

Menurut Daniel, transformasi memang dimulai dari gerakan doa tapi harus dilanjutkan dengan wujud nyata. Misalnya, kesadaran sebagai warga negara. “Di kota saya, Bandung, transformasi sudah kami rasakan. Kalau lihat Bandung sekarang, pasti akan merasakan adanya perubahan. Bandung yang dulu dikenal sebagai Kota “Kembang” (banyak yang mengartikannya sebagai tempat mencari “kembang” atau cewek, red), sekarang benar-benar menjadi kota kembang yang sesungguhnya. Sejuk dan bersih. Kami menggalakkan gerakan bersih, dimana anak-anak Tuhan turun ke jalan-jalan membersihkan lingkungannya. Ada taman yang biasanya dijadikan tempat prostitusi, sekarang tempat itu menjadi bersih. Siapa saja bisa duduk atau olahraga di taman tersebut tanpa harus kuatir adanya presenden buruk,” paparnya.

Lebih lanjut Daniel mengatakan, Indonesia ini memang membutuhkan orang-orang yang mau berdoa bagi pemulihan bangsa, namun juga membutuhkan orang yang mau bekerja mengupayakan pemulihan itu terjadi. “Karena itu diperlukan pertobatan pribadi. Sebelum kita menyuruh bangsa ini bertobat, atau ada pada jalur yang semestinya, kita dulu, pribadi lepas pribadi yang memulai. Ketika anak-anak Tuhan bertobat dan memulainya, saya percaya, pertobatan dan pemulihan bangsa ini akan terjadi. Tak berhenti sampai pertobatan pribadi, tapi dilanjutkan dari buah pertobatan. Misalnya, mulai peduli dengan lingkungan sekitar. Sekarang ini, gereja harus peka melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Gereja tidak hanya bisa berdoa tetapi juga harus ikut bekerja,” ungkapnya.

Bekerja yang dimaksudkan Daniel adalah melakukan sesuatu bagi masyarakat. Misalnya adanya bencana alam. Gereja bisa turun membantu meringankan beban mereka yang terkena bencana. “Doa tentu, tapi wujud nyatanya juga harus dilakukan,” tandasnya. Karena itu, selain menggerakan doa, Daniel dan beberapa rekan di Jaringan Doa Nasional menyertakan kegiatan sosial dalam pelayanannya. Seperti; pengobatan gratis, gerakan bersih lingkungan, bea siswa dan masih banyak lagi lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan Daniel ditengah kesibukannya mengurus usaha. “Syukurnya, saya memiliki istri yang cakap. Kalau saya pergi pelayanan, dialah yang menggantikan saya menjalankan perusahaan,” imbuhnya.

Mujizat bagi Indonesia

Jika masyarakat sadar akan lingkungannya, terutama orang Kristen, Daniel yakin bahwa Tuhan sanggup melakukan mujizat bagi bangsa ini. Yaitu pemulihan. Bicara tentang mujizat, pengusaha yang memulai karir sejak usia belasan tahun ini mengatakan bahwa mujizat masih berlangsung hingga sekarang ini. Malah katanya, mujizat tidak akan pernah berhenti sampai Tuhan Yesus datang kembali. “Apa sih mujizat yang terbesar bagi seseorang?” tanyanya kritis.

“Mujizat yang terbesar bagi seseorang adalah ketika hidup mereka menemukan dan percaya Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Banyak orang menjadi Kristen, tapi mereka belum menemukan Tuhan. Percaya sih sama Tuhan Yesus, tapi perbuatannya belum mencerminkan sikap orang percaya. Dan tanpa kita sadari, hidup saja sudah mujizat,” jelas Daniel sembari menyaksikan mujizat yang pernah dialaminya.

“Saya dulunya perokok berat. Tiap hari bisa habis lima pak rokok. Saking candunya, pernah suatu hari saya tidak bisa tidur karena kehabisan stok. Terpaksa, dini hari, sekitar jam satu, saya keluar rumah untuk membelinya. Pokoknya saya ini diperbudak rokok. Beberapa kali saya coba untuk lepas, tapi hasilnya malah saya tambah candu,” ungkapnya.

Setelah mengalami proses pertobatan, sekitar tahun 80-an, Daniel pun lepas dari keterikatan rokok. “Bagi saya itu mujizat,” imbuh bapak yang sudah dikaruniai dua putra ini. Karena itu, menurutnya, Indonesia bisa mengalami mujizat, pemulihan, jika ada orang yang mau berkomitmen untuk mengadakan perubahan (transformasi) dan mau berdoa bagi bangsa ini. “Ketika umat Tuhan bersatu hati meminta pada Tuhan lewat doa-doa mereka, saya percaya Tuhan pasti akan bertindak,” terangnya sambil menambahkan bahwa kujizat itu terjadi atas kedaulatan Tuhan.

“Tapi tugas manusia adalah; percaya bahwa mujizat itu akan terjadi, berpengharapan terus pada Tuhan, dan memberi diri menjadi saluran berkat bagi bangsa. Seperti wanita berpendarahan 12 tahun. Tetap maju meski rintangan menghalanginya, bergerak menghampiri Yesus dengan iman bahwa dia akan disembuhkan, dan berharap bahwa Yesus melihat keberadaannya. Hasilnya, wanita itu mendapat mujizat. Demikian juga kita.”

Perjalanan hidup penuh anugerah

Daniel terlahir di tengah keluarga Kristen sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Ekonomi keluarganya cukup mapan, malah ditergolong berlebih. Karena itu ia biasa hidup enak dan mudah. Suatu hari usaha orangtuanya mengalami kebangkrutan. Terpaksa Daniel harus bekerja mencukupi kebutuhannya sendiri. Waktu itu ia masih duduk di bangku SMA. Katanya, ia bekerja sebagai pengurus rumah. Karena tergolong remaja yang ulet, dalam waktu singkat, Daniel diberi kepercayaan sebagai salah satu penjaga toko.

Baru bekerja beberapa bulan sebagai penjaga toko, Daniel diangkat menjadi supervisior, kemudian head supervisior dan akhirnya menjadi manager di perusahaan garmen. Pekerjaan tersebut dilakukan Daniel sembari terus melanjutkan pendidikannya di fakultas Akutansi di Bandung. Dalam posisi yang mapan, Daniel kembali kepada kebiasaannya, yaitu hura-hura. Syukurnya, tahun 1978 ia meresponi panggilan Tuhan untuk bertobat. Saat itulah pekerjaannya semakin diberkati, bahkan ia mulai merintis membangun usaha.

Dari hari ke hari, Daniel merasa Tuhan memanggilnya untuk aktif dalam pelayanan. Dan ketika ia makin giat melayani, Tuhan pun makin memberkatinya. Termasuk dalam hal mendapatkan pasangan hidup. Menurutnya, Anita, istri yang telah dinikahinya pada bulan Mei 1983 itu merupakan anugerah yang Tuhan berikan dalam hidupnya. Bahkan pertemuan mereka pun merupakan mujizat. Waktu itu Anita bersama mamanya sedang doa puasa 40 hari untuk mendapat pasangan, mama Daniel pun melakukan hal yang sama. Padahal mereka belum pernah berkenalan apalagi janjian untuk berdoa. Pas hari yang ke-41 Daniel dan Anita bertemu dalam satu acara. Mereka berkenalan dan dalam waktu singkat hati mereka pun berpaut satu dengan yang lain.

Dari hasil pernikahannya, lahirlah Reza Sebastian dan Josef Ferdian. Kini kedua putranya itu ingin mengikuti jejak sang papa, yaitu aktif dalam pelayanan. Syukurnya, istrinya pun mendukung bahkan memberi dorongan untuk lebih giat lagi melayani. Namun dengan catatan, tidak melupakan tugas sekolah mereka. Sedang Daniel sendiri, makin berkiprah dalam pelayanan dan usahanya. Ia bertekad, selain menjadi suami yang takut Tuhan, papa yang bertanggung jawab juga ingin menjadi manusia yang menjadi berkat bagi manusia lainnya. (Kristin)
 →

VISIT NOW

111

Visitor

Flag Counter
 

Copyright © 2009 by Cerita Langit